Hendak Dituntut Fotografer Istana, Jonru Berkilah

Hendak Dituntut Fotografer Istana, Jonru Berkilah

WinNetNews.com - Jonru kembali bikin geger media sosial. Penyataannya yang mempertanyakan keaslian foto Presiden Jokowi menikmati fajar pertama di Dermaga Waiwo, Raja Ampat, Jumat (1/1/2016), tak hanya bikin heboh. Sang fotografer, juga bereaksi dan sempat menyebut akan menuntut pemilik akun itu.

Dalam status di akun Facebook-nya, Jonru mempertanyakan foto matahari terbit ( sunrise ) di belakang Jokowi yang seharusnya menjadi backlight . Dalam foto itu, meskipun ada backlight , Jokowi yang membelakangi sunrise terlihat jelas dan terang benderang.

Dalam proses pengambilan gambar dengan kondisi seperti itu, objek biasanya terlihat gelap jika fotografer tidak menggunakan lampu kilat ( flash ).

“Sinar matahari dari belakang, tepat di bagian punggung. Namun kenapa di bagian punggung justru ada bayangan? kenapa bagian punggung justru lebih gelap dibanding bagian depan, padahal cahaya matahari berasal dari belakang?” tulis Jonru dalam status yang kini telah dihapus itu.

“Silahkan bagi teman2 yang pintar Photoshop untuk membuat analisis. Jika ternyata foto ini asli, bukan editan, maka status ini akan saya hapus segera. Namun jika ternyata ini foto editan, PERTANYAAN BESARNYA adalah: Untuk apa bikin foto editan? Apa relevansinya? Wallahualam :-),” lanjutnya.

 

Belakangan, status itu kemudian dihapus seiring banyak penjelasan bahwa foto tersebut asli dan bukan hasil edit di program pengolah foto. Namun, muncul banyak respons yang mengecam status Jonru itu. Ada pula yang mendukung sang fotografer segera mempolisikan atau menuntut Jonru.

Menanggapi hal itu, Jonru akhirnya menuliskan permintaan maaf dan pernyataan bahwa dirinya berkesimpulan foto Jokowi di Raja Ampat itu asli tanpa efek apapun.

“Sesuai janji saya, foto Jokowi tentang Sunrise di Raja Ampat tadi telah saya hapus. Sebab dari hasil komentar sejumlah teman, saya mengambil kesimpulan:

1. Itu foto asli (terbukti dari beredarnya sejumlah foto lain di tempat yang sama dengan pose yang berbeda, dan tanpa efek apapun)

2. Foto yang terlihat seperti tempelan, mungkin karena efek pemakaian flash saat memotret.

3. Oleh desainer (bukan fotografer), foto itu diedit dengan Photoshop. Namun editannya BUKAN dalam bentuk montase (tempelan), melainkan editing berupa efek2 cahaya saja. Mungkin agar fotonya terlihat lebih jelas dan dramatis. Kalau editan yang seperti ini sih, tentu tidak ada masalah.

Dengan penghapusan status tersebut, saya minta maaf kepada teman2 sekalian jika ada kekhilafan dari pihak saya. Sebab saya hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Dan dari kesalahan, kita bisa belajar banyak hal. Termasuk belajar menganalisis keaslian foto. Terima kasih, salam sukses selalu!” tulisnya, Sabtu.

 

Namun, polemik terus berjalan. Muncul berbagai reaksi, termasuk Jonru sendiri yang belakang membuat status baru yang ditanggapi dengan komentar terkait pernyataannya soal foto Jokowi di Raja Ampat. Dia juga menanggapi wacana penuntutan itu di kolom komentar.

“Soal komentar Agus Suparto yang hendak menuntut saya, berikut saya jelaskan: 1. Pada status tersebut, saya tidak menuduh siapapun. Saya hanya bertanya, apakah foto ini asli atau editan,” tulisnya, Minggu.

Dia juga menyebut dia tidak pernah melayangkan tuduhan. “Untuk kasus foto Jokowi ini, ceritanya beda. Sebab sama sekali tidak ada bukti bahwa saya menuduh fotografernya. Namun demikian, jika mas Agus Suparto merasa dituduh oleh saya, merasa tidak nyaman oleh status saya, maka saya meminta maaf sebesar-besarnya. Dan saya bukan tipe orang yang suka bersembunyi. Jika mas Agus Suparto hendak mempolisikan saya, dipersilahkan. Insya Allah saya siap mengikuti proses persidangan dst.”

(dilansir dan diperbaiki dari solopos)