Herritage China di Pangkal Pinang, Kota dengan Kuburan China Terluas di Asia Tenggara

Herritage China di Pangkal Pinang, Kota dengan Kuburan China Terluas di Asia Tenggara

Rabu, 27 Jul 2016 | 16:45 | kontributor

WinNetNews.com - Kota Pangkalpinang dinilai memiliki potensi besar untuk menarik wisatawan, khususnya wisatawan yang berasal dari negara China. Belum banyak terekspose, ternyata sejarah Pangkalpinang sangat erat kaitannya dengan negara China.

Pangkalpinang seperti sebuah mutiara yang belum dikembangkan. Pasalnya di Kota ini banyak sekali bangunan bersejarah yang berkaitan dengan China, seperti kelenteng kuno Kwan Tie Miaw dan Pekuburan Sentosa yang merupakan pemakaman China terluas se-Asia Tenggara.

image0

Jika berkunjung ke Pangkalpinang, tak heran jika para pemandu wisata yang sangat fasih dengan bahasa khek. Bahasa khek adalah bahasa asli warga Tionghoa di Kalimantan. Bahasa Khek pada dasarnya memang bahasa dari daratan China, namun ia berbeda dengan bahasa Mandarin, yang menjadi salah satu bahasa internasional, walau terdapat kosa kata yang mirip-mirip.

Bagaimana bangsa Tionghoa bisa sampai di Pangkalpinang? Dalam sejarahnya, ratusan tahun yang lalu, bangsa China datang ke Bangka untuk berburu timah. Merekalah yang mengajarkan teknik menambang timah secara tradisional kepada warga Bangka.

Hingga kini, mereka hidup berdampingan dengan warga dari etnis Melayu tanpa adanya gesekan. Kedua suku itu membaur dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan budaya dan agama kedua suku ini juga terus berjalan. Untuk budaya China, kegiatan budaya yang rutin digelar setiap tahun yakni tradisi Peh Cun, ritual Ceng Beng dan pertunjukan barongsai. Sementara untuk budaya Melayu ada tradisi Nganggung, ruwahan, pawai ta'aruf dan sebagainya.

 

Di sisi lain, saat ini turis China mulai membanjiri Indonesia. Namun selama ini mereka baru mengunjungi Bali dan Manado saja. Modal Pangkalpinang untuk menarik para turis China sudah cukup banyak. Pangkalpinang dikelilingi pantai dengan pemandangan yang indah dan budaya China yang kental. Hanya saja pengemasannya yang masih kurang.

Menurut pemandu wisata setempat, selama ini mayoritas turis asing etnis China yang datang ke Pangkalpinang adalah para diaspora yang meninggalkan Indonesia saat kerusuhan 1998. Mereka biasanya datang untuk bernostalgia dengan kampung halaman mereka.

Selain itu, ada juga sebuah kerajinan tangan yang sangat khas dan bernilai yang dibuat oleh ibu-ibu PKK disana, namanya kain tenun Cual. Kain tenun Cual adalah kain tenun khas babel yang dibuat dengan cara dirajut. Dengan demikian, tak heran jika pariwisata di Pangkalpinang dimasa mendatang bisa dijuluki sebagai 'herritage China'.

TAGS:

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...