Hobi Belanja Online Bisa Merusak Lingkungan? Gimana Tuh?
Foto: via thetimes.co.uk

Hobi Belanja Online Bisa Merusak Lingkungan? Gimana Tuh?

Kamis, 23 Jan 2020 | 10:17 | Nuur Qiara Putri Tarro

Winnetnews.com - Laper dikit, pesan makanan. Diskon dikit, langsung belanja. Ada voucher, langsung check out shopping cart. Semuanya sekarang serba instan.

Dewasa kini, kita tak perlu keluar rumah untuk membeli barang yang kita perlukan. Segalanya jadi lebih mudah setelah kehadiran aplikasi ojek online dan belanja online. Kita hanya perlu memesan dari hp, dan voila, barang pun sampai di depan rumah. Dari pangan sandang papan bisa kita dapatkan hanya melalui sentuhan jari. Tentunya, generasi Millennial dan Z yang update akan teknologi tentunya sangat diuntungkan dengan adanya teknologi ini. 

Namun, setiap yang baik ada pula sisi buruknya. Maraknya tren online shopping justru memperparah salah satu masalah sosial utama di Indonesia: sampah plastik.

Memudahkan, Namun Menyusahkan

Aplikasi online shopping yang diciptakan untuk memudahkan kehidupan kita, nyatanya justru malah menyusahkan bumi, semua karena kerakusan manusia sendiri. Tak dapat dipungkiri, tren online shopping menyebabkan penggunaan sampah plastik kian meningkat.

Kalau dihitung-hitung, sekali transaksi online shopping bisa menghasilkan minimal tiga jenis plastik. Biasanya, seller akan membungkus barang kita dengan satu lapis plastik pembungkus barang, kemudian dibungkus lagi dengan bubble wrap agar aman, lalu dibungkus lagi oleh plastik dari kurir. Atau, kalau beli makanan dari aplikasi ojek online, kita akan dapat plastik mika atau styrofoam sebagai wadah makanan atau minumannya, kemudian dibungkus lagi dengan plastik. Kalau dipikir-pikir, menumpuk juga ya plastiknya?

Volume sampah kian membesar, namun tidak dengan kesadaran penghasilnya. Laporan Statistik Lingkungan Hidup Indonesia yang dikeluarkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2017 menunjukkan bahwa dari 100% sampah yang dihasilkan oleh Indonesia, hanya 1% yang didaur ulang. Sisanya dibakar, dikubur, dan dibuang di tempat pembuangan umum. Parahnya lagi, 81,4% masyarakat Indonesia tidak memperdulikan penggunaan serta pengelolaan sampah plastik saat sedang berbelanja. Jika tidak adanya perkembangan kesadaran dari masyarakat, bukan hanya lingkungan yang akan dirugikan, namun juga manusia.

Memang Apa Sih Bahayanya Plastik?

Jika kamu memperhatikan feed di instagram kamu, isu yang sedang marak digadang-gadangkan netizen Indonesia adalah isu kesehatan mental dan sampah. Apalagi, setelah Jakarta dilanda banjir awal tahun ini. Memang seberapa bahaya sih sampah plastik untuk lingkungan?

Plastik memerlukan puluhan hingga ratusan tahun untuk diurai oleh tanah. Plastik yang tidak terurai tanah dapat mencemari, bahkan merusak lingkungan, baik secara estetika maupun fungsi tanah sendiri. Itupun kalau dapat terkubur oleh tanah. Bagaimana yang menumpuk, atau terombang-ambing di lautan?

Makroplastik, atau plastik yang ukurannya lebih dari satu sentimeter, apabila dibiarkan di perairan akan merusak biota air, baik sungai, danau, maupun laut. Pada umumnya, plastik memiliki kandungan pewarna. Karena ada di lapisan terluar plastik, pewarna akan luntur terlebih dahulu. Pewarna ini lah yang mencemari warna air dan memberi toksin atau racun pada makhluk hidup yang ada di air.

Plastik yang tidak terurai tanah akan dipecah oleh panas matahari. Sinar matahari akan memanaskan plastik dan memecah plastik menjadi partikel-partikel kecil. Partikel kecil ini nantinya disebut dengan ‘mikroplastik’ apabila ukurannya kurang dari satu sentimeter. Nah, mikroplastik ini sangat berbahaya bagi lingkungan kita, khususnya biota laut. Ikan-ikan pemakan plankton akan mengira bahwa mikroplastik adalah plankton. Akibatnya, mereka akan mati karena terlalu banyak mengkonsumsi plastik. Bahkan, menurut penelitian dari Eriksen (2014) mengenai polusi plastik di laut, lebih dari 90% air laut secara global telah terkontaminasi mikroplastik. Jadi, secara tidak langsung, dampaknya berbalik ke kita lagi, sang penghasil sampah.

Langkah Kecil Kurangi Sampah

Sampah, terutama plastik, tentunya merugikan banyak pihak jika tidak dikelola dengan baik. Kamu dapat mengurangi adanya sampah plastik sekali pakai dengan cara selalu membawa barang-barang yang bisa dipakai berulang di dalam tas. Berikut tips yang bisa kamu ikuti untuk mengurangi sampah plastik:

  • Mulai bawa tas kain sebagai pengganti plastik sekali pakai ketika berbelanja. Selain menekan penggunaan plastik, kamu bisa menghemat Rp 200 ketika berbelanja.
  • Belanja langsung ke toko offline. Belanja online akan menghasilkan banyak sampah juga jejak karbon untuk mengantar barangmu sampai rumah. Kalau bisa, gunakan transportasi umum untuk pergi ke tempat belanja ya!
  • Jika memang harus membeli barang secara online, hindari penggunaan bubble wrap sebisa mungkin. Jika kamu menggunakan bubble wrap, simpan bubble wrap tersebut untuk digunakan kembali saat ingin mengirim barang. Menurut Down 2 Earth Materials, bubble wrap setidaknya butuh 500 tahun untuk diurai tanah lho!
  • Ketika ingin berbelanja, hindari membeli barang-barang yang akan hanya kamu pakai sekali atau dua kali. Coba tanya dulu ke teman-temanmu, barangkali mereka punya barang yang kamu cari.

Yuk, pelan-pelan kita selamatkan bumi. Mulailah dengan langkah kecil, karena perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. (*)

 

 

--------------------
Nuur Qiara Putri Tarro adalah mahasiswi London School of Public Relations Jakarta. Anda dapat menghubunginya melalui email: qiaraputria@gmail.com
*) Opini penulis dalam artikel ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Winnetnews.com.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...