Skip to main content

IHSG Masih Akan Tertekan

IHSG Masih Akan Tertekan
IHSG Masih Akan Tertekan

Indeks Harga Saham Gabungan sempat tertekan lebih dari 5% sebelum kemudian sedikit menguat dan akhirnya ditutup melemah 4,37% ke level 4.211 pada sesi perdagangan pertama Senin 24 Agustus, diiringi dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang sudah menembus Rp14.000 menurut data perdagangan spot yang dikutip Bloomberg. Tekanan terhadap IHSG diperkirakan masih akan terus berlanjut sepanjang pekan ini di tengah masih kuatnya kecemasan pelaku pasar terhadap kondisi perekonomian global dan belum adanya sentimen positif dari dalam negeri.

Reza Priyambada, Kepala Riset NH Korindo Securities, mengatakan bahwa IHSG masih membentuk tren pelemahan sama seperti pekan lalu. Sepanjang pekan lalu IHSG melorot hampir 4%, meneruskan pelemahan 3,4% pada pekan kedua bulan ini ketika terjadi devaluasi yuan pada 11 Agustus lalu. Dia bahkan menyebut situasi saat ini mendekati awal 2014 ketika indeks saham berada di level 4270-4290.

"Harapan akan meredanya aksi jual tampaknya harus kami redam sementara. Laju IHSG pun kembali pada periode awal 2014. Jika sentimen yang ada cenderung negatif maka waspadai pelemahan lanjutan. Untuk itu, tetap antisipasi sentimen yang akan datang," tulis Reza dalam catatan Senin ini, sembari menyebut bahwa pelaku pasar saat ini lebih memilih pasang kuda-kuda untuk enter sell dibandingkan enter buy. "Lost of positive sentiment dan lost of confidence, kira-kira itulah sikap pelaku pasar saat ini."

Dengan pola pikir menjauhi pasar seperti ini, lanjut Reza, akibatnya beberapa berita positif dari aksi-aksi korporasi yang dilakukan sejumlah emiten tidak banyak yang langsung direspons positif oleh pelaku pasar. Selain itu, kondisi global yang kembali berendam dalam lautan merah seiring respon negatif pelaku pasar terhadap masih adanya imbas pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) di Amerika Serikat yang kembali menunda kenaikan fed fund rate dan menambah ketidakpastian di pasar. Devaluasi yuan yang menegaskan masih akan melambatnya ekonomi China hingga rencana Yunani mempercepat pemilu turut memberi tekanan eksternal terhadap IHSG.

Sepanjang akhir pekan lalu terjadi aksi jual di pasar global yang menyebabkan penurunan indesk saham terbesar di Asia sejak 2011 dan menyebabkan nilai tukar mata uang pasar berkembang mencapai rekor terendah terhadap dolar. Harga komoditas juga menyentuh titik terendah dalam 16 tahun, sedangkan risiko kredit di Asia naik ke titik tertinggi sejak Maret 2014. Pada Senin pagi Indeks Saham Gabungan Shanghai anjlok 8,5% menjadi 3.197 pada pukul 13.14 siang waktu setempat atau penurunan terburuk sejak 2007.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar sepanjang perdagangan pagi telah menembus Rp14.047 atau terendah dalam 17 tahun ini pada pukul 09.45 WIB sebelum kemudian bergerak liar dalam rentang lebar dan sempat menguat lagi ke Rp13.980 pada pukul 11.00 WIB. Sampai pukul, 13.50 WIB, dolar diperdagangkan di pasar spot pada Rp14.032 atau menguat 0,65%. Mata uang negara berkembang lain juga masih tertekan, seperti ringgi Malaysia yang siang ini sudah melemah 1,48% ke titik terendah dalam 17 tahun. Rand Afrika Selatan dilaporkan turun 3%.

Reza mengingatkan bahwa pelemahan lanjutan indeks saham masih dimungkinkan jika tidak adan sentimen positif yang dapat dijadikan pegangan pelaku pasar. Terutama, jika kondisi dari bursa saham global masih terus melemah. "Meski harapan akan meredanya aksi jual belum sepenuhnya terjadi namun, kami masih tetap berharap aksi jual dapat sedikit mereda untuk mengurangi penderitaan IHSG," ujarnya.

(cn)

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top