Ikatan Batin Orang Minangkabau Dengan Rendang

Oky
Oky

Ikatan Batin Orang Minangkabau Dengan Rendang Sumber Foto : Istimewa

Winnetnews.com - Masakan Nusantara pasti mempunyai filosofi yang dapat mengajarkan kita banyak hal dalam sisi kehidupan kita. Diantara banyaknya jenis masakan nusantara, ada satu makanan nusantara yang menjadi hidangan terlezat dunia. Dimana cita rasanya yang sangat menggugah lidah kita semua.

Siapa yang tak tahu dengan rendang masakan khas dari daratan tanah Minang ini. Banyak sekali penikmatnya bukan saja orang Indonesia saja bahkan orang dari negara lain pun mengakui kelezatan rendang. Rendang memiliki keunikan dimana dapat bertahan satu sampai empat minggu, keunikan rendang yaitu penggunaan bumbu – bumbu alami yang bersifat antiseptik dan membunuh bakteri patogen sehingga bersifat sebagai bahan pengawet alami. Bukan sebatas dari situ saja keunikan dari rendang, namun rendang memiliki sebuah hubungan batin dengan orang Minang memiliki berbagai makna dan pembelajaran dalam kehidupan. Dari bagaimana cara memasaknya kemudian dari bahan – bahan yang di gunakan oleh rendang tersebut memiliki sebuah makna yang mendalam bagi kehidupan terutama bagi orang Minang itu tersendiri.

Menurut masyarakat Minang, rendang sudah ada dari sejak zaman dahulu. Dan sudah menjadi resep yang turun menurun. Berangkat dari empat bahan pokok utama dalam pembuatan rendang memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Minang. Yang dimana melambangkan keutuhan masyarakat Minang itu sendiri, yaitu :

  1. Dagiang (Daging Sapi)

    Dalam adat isitiadat masyarakat Minang, Dagiang menjadi lambang dari “Niniak Mamak” (para pemimpin suku adat). Yang mana artinya seoranag laki-laki yang dituakan dari suatu kaum yang telah dituakan yang mana menjadi tempat untuk bermusyawarah, menjadi seorang panutan. Gelar yang biasa juga disebut Datuak menjadi komponen penting dalam masyarakat Minang yang mendapat tugas menjadi pemangku adat. Sebuah kehormatan dan kebesaran ketika menyandang gelar tersebut. Sebab dialah yang diamba gadang nan kadijunjuang tinggi ( dibesarkan dan ditinggikan), pai tampek batanyo (tempat pergi bertanya) , pulang tampek babarito (orang yang selalu di minta petunjuknya sebelum melakukan suatu pekerjaan oleh anak kemenakannya dan orang yang di hormati dan disegani tempat kembali untuk melaporkan setiap selesai melakukan tugas kesukuan).
  2. Karambia (Kelapa)

    Dalam masyarakat Minang Lambang dari “Cadiak Pandai” (kaum intelektual). Yang memiliki makna seseorang yang memiliki keilmuan dalam bidang umum, dalam hal kesehatan, yang mengerti dengan ekonomi , mengerti dengan persoalan hokum dan sebagainya. Dalam masyarakat Minang “Cadiak Pandai” menjadi pelindung dan pendiding masyarakat. Ia menjadi tempat bertanya dan berkonsultasi namun dalam bidang umum berbeda dengan alim ulama dalam hal agama. Dan “candaiak Pandai” berasala dari kalangna masyrakat biasa namun memiliki kelebihan. Dan gelar ini pun tidak diturunkan namun di nilai berdasarkan keilmuan yang dimilikinya.
  3. Lado (Cabai)

    Lambang dari “Alim Ulama” yang pedas, tegas untuk mengajarkan syariat agama. Dimana alim ulama menjadi komponen penting dalam kehidupan masyarakat Minang. Menajdi tempat untuk bertanya dalam hal yang berkaitan dengan urusan agama. Menjadi guru dan mengajarkan masyarakat dalam hal kebaikan yang sesuai dengan ajaran agama. Alim Ulama menjadi penerang di tenagha masyarakat. Dan Alim Ulama gelarnya pun juga tidak di turunkan akan tetapi di nilai berdasarkan keilmuannya. Syaratnya hanya satu yang memiliki ilmu agama yang sangat luas.
  4. Pemasak (Bumbu)

    Bumbu menjadi lambang dari keseluruhan masyarakat Minagkabau. Dimana bumbu yang terdiri dari berbagai jenis, yang menciptakan rasa rendang menjadi dicintai. Masyarakat Minang menjadi komponen yang sangat paling penting. Yang menggambarkan berbagai keragaman karna masayarakat Minang terdiri dari berbagai suku seperti suku koto, suku piliang , suku bodi , dan suku caniago.

Dan itulah yang membuat rendang menjadi semakin special di mata orang Minang. Bukan saja di mata bahkan di batin ataupun jiwa orang Minangkabau. Sangat erat sekali hubungan rendang dengan cara dan memegang filosofi dari sebuah rendang tersbut. Dan kita pun dan mengambil banyak sekali pelajaran dari sebuah rendang yang dimasak oleh amak (ibu). Bahkan rendang tersebut menjadi penyambung rasa bagi seorang perantau ketika dia rindu dengan tanah kampungnya dia hanya memakan rendang, sudah dapat membayar sebagaian rasa kerinduannya dengan tanah kampuang nan jauh di mato (kampung yang jauh dari mata). Karna rasa tidak pernah bohong. Indak lamak, indak ado randang!

 

 

Ditulis oleh Afif Muhammad Yupri

Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Apa Reaksi Kamu?