IMF Khawatir Akan Pertumbuhan Ekonomi Dunia

IMF Khawatir Akan Pertumbuhan Ekonomi Dunia

Sabtu, 30 Jan 2016 | 16:43 | Muhammad Takdir
WinNetNews.com - Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde, Sabtu (23/1) waktu setempat, di Davos, Swiss mengatakan bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok tidak akan menimbulkan malapetaka bagi perekonomian global. Gejolak yang ditimbulkannya pun terhadap pasar finansial disebutnya sangat normal.

Lagarde berbicara pada hari terakhir World Economic Forum (WEF) 2016 di resor ski Swiss. WEF tahun ini dibayangi oleh perlambatan pertumbuhan Tiongkok, kejatuhan harga minyak mentah dunia, dan sejumlah ketegangan geopolitik.

Transisi pertumbuhan ekonomi Tiongkok dari berbasis ekspor dan investasi untuk menjadi lebih berbasis konsumsi domestik paling menyita perhatian kaum elit finansial global, karena statusnya sebagai negara perekonomian terbesar kedua dunia.

“Tapi kami tidak melihat hard landing. Yang kami lihat adalah evolusi, transisi besar yang memang akan bergelombang jalannya. Kita harus terbiasa dengannya karena ini merupakan jalan yang tepat serta sangat normal untuk menuju pertumbuhan lebih berkualitas dan lebih berkelanjutan sebagaimana harapan kita semua,” tutur Lagarde.

 

Pemerintah Tiongkok pekan lalu mengumumkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi pada 2015 mencapai 6,9% atau terendah dalam 25 tahun. Kekhawatiran terhadap perekonomian Tiongkok menimbulkan ketakutan di pasar finansial dunia.

Harga-harga saham global anjlok sejak 1 Januari 2016, meski akhir pekan lalu menguat tajam setelah muncul indikasi ada tambahan stimulus-stimulus. Pasar saham juga terpengaruh kejatuhan harga minyak mentah dunia, yang terus tertekan kelebihan pasokan.

“Yang terjadi saat ini adalah awal tahun terburuk yang pernah dialami oleh pasar finansial. Pasar sangat mengkhawatirkan arah perekonomian Tiongkok. Mereka takut akan menjadi resesi global,” ujar Tidjane Thiam, bankir asal Prancis dan CEO Credit Suisse.

Meski begitu, Thiam meyakini bahwa Tiongkok akan mengalami soft landing. Bank-bank global, tambah dia, saat ini dalam posisi jauh lebih kuat.

Thiam juga memuji langkah-langkah regulator global untuk memperkuat neraca keuangannya. Dia juga mengatakan ini saat yang tepat bagi The Federal Reserve (The Fed) atau bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga meski artinya ada perbedaan arah kebijakan antarbank sentral utama dunia.

“Normalisasi dibutuhkan karena saya tidak menyukai periode yang mana risiko terdistorsi begitu lama,” kata Thiam.

Menteri Keuangan Inggris George Osborne mengatakan, situasi yang menyelimuti perekonomian Tiongkok membayangi perhelatan Davos tahun ini.

“Sejak abad-abad sebelumnya, dunia tidak cukup baik dalam mengakomodasi naiknya kekuatan-kekuatan dunia sehingga kerap menimbulkan kejadian-kejadian yang menyedihkan. Menurut saya kita semua amat berkepentingan untuk membawa Tiongkok masuk ke dalam kelembagaan-kelembagaan multilateral dunia,” tutur Osborne.

(seperti dilansir dari Berita Satu)

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...