Indonesia : Masih Impor Garam

Indonesia : Masih Impor Garam

Jakarta - Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak bibir pantai yang bisa dimanfaatkan untuk ladang garam. Apa penyebab Indonesia masih impor garam jutaan ton?

Indonesia setiap tahun membutuhkan 3,3 juta ton garam. Sebanyak 1,8 juta ton garam kebutuhan konsumsi dipasok dari produsen lokal, sedangkan garam industri harus dipenuhi secara impor mencapai 1,5 juta ton.

Ada 3 penyebab Indonesia masih menjadi negara importir garam. Pertama, Usman menyebut masa panen dan pengolahan garam di Indonesia relatif sangat singkat dan sederhana, Ujar Direktur Utama PT Garam (Persero), Usman Perdana Kusuma.

Di Indonesia, proses memanen garam oleh petani hanya dilakukan dalam waktu 4-8 hari, sedangkan negara importir seperti Australia memanen hasil garam setelah melalui proses 3 sampai 4 bulan. Akibatnya, kualitas garam Indonesia menjadi sangat rendah.

Selain itu, petani garam yang mayoritas masih tradisional tidak melakukan beberapa tahapan pengolahan garam. Berbeda dengan negara industri garam yang melakukan beberapa tahap untuk memperoleh garah kualitas tinggi (high grade).

"Industri punya 3 tahap jadikan garam kalau petani 1 tahap. Ketiga tahap ini untuk mendapatkan kualitas garam yang kuaitas high grade," kata Usman , Senin (21/9/2015).

Kendala kedua adalah teknologi. Usman mengakui pihaknya sebagai korporasi dan petani garam belum memiliki teknologi pengolahan (refinery) untuk garam yang berkualitas rendah.Refinery diperlukan untuk menaikkan kualitas garam agar sesuai kebutuhan industri makanan minuman yang selama ini masih impor.

"Refinery garam memproses garam kualitas rendah untuk menghasilkan garam dengan kemurnia 98%. Kadar magnesium dan kadar air diperkecil," jelasnya.

Selanjutnya ialah kesulitan mencari lahan baru. Indonesia memerlukan tambahan lahan baru di tepi pantai yang relatih luas, minimal 5.000 hektar yang tidak terpisah-pisah. Saat ini, ladang garam masih terpusat di daerah Madura, Jawa Timur. Mayoritas, sistem pengolahan pun masih sangat tradisional.

"Lahan nggak bisa terpecah dan harus terintegrasi. Kenapa? Dalam rangka mekanisasi agar biaya produksi kecil. Semua harus full mekanisasi," jelasnya.