Skip to main content

Indonesia Tidak Masuk Fase Krisis

Indonesia Tidak Masuk Fase Krisis
Indonesia Tidak Masuk Fase Krisis

Bank Indonesia menegaskan kondisi ekonomi Indonesia tidak memasuki fase krisis, meskipun nilai tukar rupiah bergejolak hingga menembus Rp14.100 per dolar AS.

"Kami sampaikan tidak. Malah fundamental ekonomi Indonesia kita membaik, tetapi ekonomi dunia terus memburuk apalagi ada sentimen Fed Rate akan naik dan devaluasi yuan," ujar Gubernur Bank Indonesia Agus D.W Martowardojo.

Menurutnya, kondisi saat ini berbeda dengan 1997/1998. Waktu itu, pertumbuhan ekonomi merosot dari posisi 1997 sebesar 4,7% menjadi -13,7% pada 1998. Bahkan, inflasi waktu itu melonjak dari 10,31% (1997) menjadi 77,63% (1998).

Kondisi tersebut berbeda dengan saat ini, di mana pada 2014 ekonomi tumbuh 5,1%, turun menjadi 4,67% pada kuartal II/2015 . Inflasi pun juga rendah dari posisi 2014 sebesar 8,36% menjadi 7,26% pada kuartal II/2015.

"Inflasi 77% saat krisis , kita ingat BI Rate naik 57%. Sekarang inflasi mengarah ke 4,5%, kami bersama pemerintah akan fokus jaga inflasi," kata Agus.

Dia menambahkan pada saat krisis 1997 dan 1998, current account deficit atau CAD Indonesia masing-masing berada di level -1,6% terhadap PDB dan -3,8% terhadap PDB.

Saat ini, kondisi CAD Indonesia sebesar -3,09% terhadap PDB pada 2014 dan -2,16% pada kuartal II/2015.

Cadangan devisa Indonesia pada 1997 senilai US$21,41 miliar, sedangkan pada 1998 mencapai US$23,76 miliar.

Sementara itu, cadangan devisa pada 2014 mencapai US$111,96 miliar, kemudian pada kuartal II/2015 turun tipis menjadi US$107,55 miliar.

Adapun, rasio utang luar negeri (external debt) Indonesia pada 1997 dan 1998 mencapai 100,81% dan 126,69%, sedangkan external dept pada 2014 sebesar 33,06% dan pada kuartal II/2015 mencapai 34,42%.

"Cadangan devisa sekarang pada US$107 miliar itu untuk biayai 7 bulan impor. Cadangan ini harus kita kelola dengan hati hati," ucapnya.

Agus juga menyoroti perubahan kurs rupiah pada krisis 1997 dan 1998, di mana mengalami depresiasi sebesar 131% dari Rp2.363 per dolar AS menjadi Rp5.450 per dolar Amerika Serikat pada 1997, kemudian pada 1998 rupiah kembali melemah 48% dari Rp5.450 per dolar AS menjadi Rp8.050 per dolar AS.

Pada 2014, rupiah melemah 1,81% dari Rp12.160 per dolar AS menjadi Rp12.485 per dolar AS.

"Pada 2015 ini rupiah hanya melemah 13,4% dari awal tahun hingga bulan Agustus dari Rp12.485 per dolar AS menjadi Rp14.000 per dolar AS," kata Agus.

Dia mengakui, nilai tukar rupiah saat ini memang sudah berada di bawah fundmental atau undervalued dan overshoot. Namun, pihaknya berjanji untuk tetap berada di pasar untuk menjaga volalitas nilai tukar rupiah.

"Saya berharap agar eksportir dapat melepas mata uang dolar yang dimilikinya untuk menambah ketersediaan pasar valuta asing di dalam negeri," tutur Agus.

Agus menambahkan Indonesia pada waktu krisis 1998 tidak mempunyai kerangka kerja menargetkan sasaran inflasi dan tidak mempunyai tim pengendali inflasi daerah (TPID)

"Saat ini, kami punya TPID di 34 provinsi untuk kendalikan inflasi daerah. Saat krisis 1998 itu juga tidak terdapat batasan defisit fiskal dan utang pemerintah serta belum ada lembaga penjamin simpanan. Kalau sekarang kan ada jumlah kumulatif defisit APBN dan APBD dibatasi maksimal 3% PDB dan total outstanding utang pemerintah 60% dari PDB," terangnya. (jk)

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top