Industri Dalam Negeri Kewalahan Terhadap Dolar Yang Menguat Terus

Industri Dalam Negeri Kewalahan Terhadap Dolar Yang Menguat Terus

Terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar terus membuat sejumlah industri dalam negeri kewalahan. Sejumlah sektor termasuk industri makanan mulai melakukan langkah efisiensi, diantaranya mengurangi jam kerja karyawan, bahkan beberapa perusahan sudah melakukan PHK.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Heri Gunawan, mengatakan hal ini tak bisa disangkal lagi bahwa pengelolaan inflasi adalah hal yang sangat penting dan sentral dalam pencapaian kesejahteraan suatu negara, termasuk Indonesia.

"Mengapa? Karena ia terkait langsung dengan daya beli masyarakat. Dan tentu saja, kesejahteraan mereka," kata Heri.

Ia menambahkan inflasi menjadi standar penentuan tingkat suku bunga perbankan (SBI). Inflasi yang tinggi akan mendorong tingginya SBI. Begitu juga sebaliknya, inflasi yang rendah akan mendorong SBI yg rendah. Secara agregat, efeknya bisa merembes kepada jumlah konsumsi nasional dan investasi.

"Sayangnya, inflasi yang kita terkenal kaku. Jadi, meskipun ekonomi tumbuh di atas 7 persen tapi itu tidak berarti apa-apa. Apalagi pada kondisi sekarang, ketika ekonomi hanya tumbuh 4,7 persen, tapi, menurut data BPS, inflasi sudah menyentuh angka 7,18 persen per Agustus 2015 year on year. Angka itu 2 kali lipat dibandingkan tahun lalu yang hanya 3,99 persen. Dan ini mencemaskan. Efeknya bisa kemana-mana," katanya.

Sebelumnya Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI), Adhi S. Lukman menuturkan, langkah efisiensi yang sudah dilakukan adalah dengan mengurangi jam kerja para karyawan hingga Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

"Pengurangan jam kerja sudah mulai terjadi. Jam lembur dikurangi, jadi bergilir sekarang. Kalau PHK secara kecil-kecilan sudah terjadi," ujar Adhi saat ditemui di kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Jakarta, Jumat, 25 September 2015.

Adhi menjelaskan, biaya produksi tinggi karena industri ini terpaksa tetap melakukan impor bahan baku ditengah melemahnya rupiah. Ketersediaan bahan baku manufaktur dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan.