(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Industri Sawit Butuh Riset

Muhammad Takdir
Muhammad Takdir

Industri Sawit Butuh Riset
WinNetNews.com - Industri sawit nasional membutuhkan dana US$ 700-750 juta untuk melakukan riset setiap tahunnya, atau setidaknya 2-3% dari total pendapatan industri sawit hulu-hilir yang mencapai US$ 28 miliar pada 2015. Riset diperlukan agar ke depan industri sawit nasional bisa menghasilkan minyak sawit yang memiliki mutu lebih baik, misalnya bilangan peroksida lebih rendah.

Saat ini, ada kecenderungan bahwa negara-negara pengimpor minyak sawit ingin mendapatkan minyak sawit yang berkualitas lebih baik, apabila Indonesia tak melakukan pembenahan daya saing produk sawit nasional tidak akan mampu bersaing dengan produk sejenis dari negara lain.

Wakil Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) yang juga Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengungkapkan, industri sawit di negara lain umumnya juga telah melakukan riset dengan dana sekitar 3% dari pendapatan industri tersebut setiap tahunnya.

 

Indonesia sendiri sudah berkomitmen untuk melakukan riset sawit yang sedianya menggunakan dana pungutan perkebunan yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS). “Untuk riset di hulu tidak harus sebesar di hilir, total dana riset idealnya 2-3% dari pendapatan industri sawit. Pada 2015, pendapatan industri sawit sekitar US$ 28 miliar, ambil rata-rata bisa dengan 2,5%,” kata saat dikonfirmasi di Jakarta, Minggu (3/1) malam.

Sahat mengungkapkan, turunnya harga minyak sawit bisa menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat riset dan belajar untuk melihat prospek ke depan bahwa kenaikan harga minyak sawit di pasar global tidak lagi menjadi basis dalam pengembangan industri sawit secara nasional. Dengan harga minyak sawit yang rendah, yang terpukul adalah petani karena harga tandan buah segar (TBS) anjlok di bawah Rp 1.000 perkilogram (kg).

Padahal, kata dia, pohon sawit sebenarnya bisa menghasilkan biomassa yang nilai ekonominya sangat tinggi, baik untuk memenuhi kebutuhan energi maupun bahan biokimia. Biomassa yang berupa cangkang TBS atau mesocarpp batang pelepah sawit ternyata bisa dihargai US$ 200 per ton. “Kalau itu bisa dikembangkan, harga TBS petani bisa Rp 2.200 per kg. Riset memang sejatinya menjadi tugas perusahaan, 2,5% dari revenue perusahaan untuk riset, namun perusahaan tidak bisa disalahkan soal ini,” kata dia.

(seperti dilansir dari Berita Satu)

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});