Skip to main content

Inflasi Agustus Rendah, IHSG Merosot 59 Poin

Inflasi Agustus Rendah, IHSG Merosot 59 Poin
Inflasi Agustus Rendah, IHSG Merosot 59 Poin

Jakarta - Inflasi Agustus 2015 tercatat 0,39 persen lebih rendah dari posisi Juli 2015 sekitar 0,93 persen namun tidak mampu mengangkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pertama perdagangan saham Selasa pekan ini.

Pada penutupan sesi pertama perdagangan saham, Selasa (1/9/2015), IHSG melemah 59,50 poin (1,32 persen) ke level 4.450,10. Indeks saham LQ45 melemah 2,04 persen ke level 755,08. Seluruh indeks saham acuan kompak melemah pada sesi pertama.

Ada sebanyak 157 saham melemah sehingga menyeret IHSG ke zona merah. Sedangkan hanya 85 saham menguat dan 70 saham diam di tempat. Pada sesi pertama, IHSG sempat sentuh level tertinggi 4.484,78 dan terendah 4.444,30.

Total frekuensi perdagangan saham sekitar 108.624 kali dengan volume perdagangan saham 2,58 miliar saham. Nilai transaksi harian saham sekitar Rp 1,9 triliun.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham melemah kecuali sektor saham tambang naik 0,54 persen dan sektor saham perkebunan menguat 0,83 persen. Sedangkan sektor saham keuangan melemah 2,31 persen, dan memimpin penurunan sektor saham. Sedangkan sektor saham barang konsumsi tergelincir 2,08 persen dan sektor saham aneka industri melemah 1,83 persen.

Berdasarkan data RTI, investor asing masih melakukan aksi jual mencapai Rp 240 miliar. Sedangkan pemodal lokal melakukan aksi beli bersih sekitar Rp 200 miliar.

Saham-saham yang mencatatkan penguatan dan sebagai penggerak indeks saham antara lain saham LSIP naik 3,24 persen ke level Rp 1.115 per saham, saham BWPT mendaki 9,3 persen ke level Rp 282 per saham, dan saham MEDC mendaki 7,26 persen ke level Rp 1.330 per saham.

Sedangkan saham-saham tertekan didorong oleh saham bank berkapitalisasi besar seperti saham BBRI melemah 3,53 persen ke level Rp 10.250 per saham, saham BMRI turun 2,75 persen ke level Rp 8.850 per saham, saham BBCA tergelincir 2,13 persen ke level Rp 12.625 per saham, dan saham BBNI susut 3,33 persen ke level Rp 4.785 per saham.

Analis PT First Asia Capital, David Sutyanto menuturkan, IHSG akan bergerak variatif di tengah minimnya sentimen dari pasar global dan kawasan. Data manufaktur China yang diperkirakan kembali terkontraksi dan bisa memicu sentimen negatif di pasar.

Dari domestik, pasar saham menanti data inflasi Agustus yang diperkirakan lebih rendah dari Juli. Pergerakan IHSG diperkirakan masih berpeluang menguat apa bila menembus resistance di 4.520. Saham-saham berbasis komoditas akan mendapat momentum penguatan dari kenaikan harga minyak mentah. "IHSG akan bergerak di level support 4.450 dan resistance 4.520," kata David.

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top