Ini Dia Kekesalan Abdee Slank Pada Papa Minta Saham

Ini Dia Kekesalan Abdee Slank Pada  Papa Minta Saham

WinNetNews.com - Gitaris grup band Slank, Abdi Negara, sedih dengan skandal papa minta saham. Ia tak bisa menutupi marah dan sakit hatinya melihat jalannya persidangan di MKD.

Seperti dilansir Detik, "Kita merasa terusik, kami merasa marah dan sakit hati. Kita melihat DPR sebagai lembaga terhormat yang menjadi satu-satunya lembaga yang kita anggap mewakili masyarakat menyuarakan keinginan masyarakat agar bisa lebih sejahtera. Tapi teryata isinya seperti yang dilihat. Itu membuat kita marah karena merasa dikhianati," kata Abdi dalam jumpa pers Koalisi Masyarakat Sipil di restoran Pulau Dua, Jl Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Jumat (4/12/2015).

Abdi mengikuti perkembangan kasus Setya Novanto termasuk sidang MKD yang sudah berjalan 2 hari. Ia meminta masyarakat untuk ikut mengawal jalannya sidang agar tak 'masuk angin'.

"Saya mengajak semua orang, ayo kita bergerak untuk memaksa, untuk memastikan lembaga di DPR bisa dijaga kehormatannya oleh anggotanya. Terutama MKD-nya. Sehingga apa yang kita harapakan dari DPR bisa sesuai marwahnya," imbuh pria yang memiliki nama lengkap Abdi Negara ini.

 

Selain Abdi, ada juga Direktur Komunikasi change.org.id Arief Aziz. Ia menyampaikan saat ini sudah ada 150 ribu petisi terkait Setya Novanto.

Banyaknya petisi yang ditandatangani netizen menjadi gambaran kekecewaan warga akan kinerja DPR selama ini. Menurutnya, saat DPR periode ini dilantik besar harapan masyarakat untuk pengesahan sejumlah UU yang terbengkalai di periode sebelumnya. Namun, rentetan kasus, revisi UU KPK dan kasus 'papa minta saham' oleh Ketua DPR telah melukai hati rakyat.

"Silahkan MKD jalan terus tapi kita dorong polisi dan kejaksaan mengusut kasus ini," ucap Arief.

Senada dengan Arief, mantan pimpinan KPK Erry Riyana H mengapresiasi langkah Kejaksaan Agung yang langsung turun menyelidiki kasus 'papa minta saham'. Menurutnya, rekaman saat ini bisa menjadi bukti adanya percobaan kejahatan yang serius dan tinggal diperiksa keaslian rekaman itu.

Ia pun menilai masyarakat tak perlu buru-buru meminta KPK ikut turun dalam kasus ini. Pasalnya, dalam penyelidikan kasus oleh Kejaksaan Agung, ada fungsi superivisi yang dilakukan KPK. Jikapun dinilai perlu, KPK bisa mengambil alih kasus tersebut.

"KPK harus koordinasi dengan Kejagung. KPK juga akan masuk karena kalau sudah masuk kejaksaan atau polisi, KPK mensupervisi. Memantau pasti. Atau bs diambil alih," ucap Erry.