Ini yang Akan Terjadi Jika Isu Merger Gojek dan Grab Terealisasi
Foto: Lensaindonesia.com

Ini yang Akan Terjadi Jika Isu Merger Gojek dan Grab Terealisasi

Selasa, 10 Mar 2020 | 14:50 | Anggara Putera Utama

Winnetnews.com - Isu soal merger raksasa ride hailing Asia Tenggara Grab dan Gojek kembali gencar terdengar. Dilansir dari Financial Times, para pemegang saham Grab dan Gojek dikabarkan tengah melobi Softbank untuk merealisasikan hal tersebut.

Isu penggabungan ini masih berkaitan dengan menguasai pasar Indonesia. Keduanya juga diketahui telah bersaing besar-besaran di pasar Indonesia dalam 18 bulan terakhir.

Penggabungan ini terkait dengan menguasai Indonesia, sebagai negara terpadat keempat di dunia. Kedua telah berlomba mengambil hati pelanggan dalam 18 bulan terakhir. Gojek yang berbasis di Indonesia mendapat pendanaan besar dari Google dan Tencent, sementara Grab yang berbasis di Singapura mendapatkan pendanaan dari SoftBank dan Microsoft.

"Kekuatan yang bermain di sini lebih tinggi dari sekadar apa yang diinginkan Grab atau Gojek," menurut salah satu pemegang saham dari Grab, seperti dilansir dari Financial Times. Baru-baru ini juga SoftBank Masayoshi Son mengunjungi Jakarta di mana salah satu tujuannya  adalah mendiskusikan merger tersebut.

SoftBank saat yang saat ini tengah di bawah tekanan menyusul gagalnya penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) dari startup berbagi kantor WeWork tahun lalu diketahui mengubah kebijakannya terkait investasi pada startup dan akan lebih selektif dalam memberikan suntikan dana.

Meski sudah ramai diperbincangkan mengenai isu merger ini, dikutip dari CNBC Indonesia, Nila Marita, Chief Corporate Affairs Gojek. Nila pun membantah. "Tidak ada rencana merger, dan pemberitaan yang beredar di media terkait hal tersebut tidak akurat”.

Peningkatan Valuasi

Sejauh ini baik Gojek maupun Grab telah menyandang status decacorn, dengan valuasi  Grab diperkirakan mencapai US$ 14 miliar (Rp 194,6 triliun), sedangkan Gojek diperkirakan US$ 9 miliar (Rp 125,1 triliun). Jika merger kedua perusahaan ini terealisasi maka hasilnya akan menciptakan perusahaan dengan nilai valuasi yang sangat tinggi.

Angka pengguna kedua aplikasi tersebut juga terbilang sangat banyak. Pada semester pertama 2019, aplikasi Gojek telah diunduh oleh lebih dari 155 juta pengguna, dan lebih dari 2 juta mitra pengemudi, hampir 400.000 mitra merchants, serta lebih dari 60.000 penyedia layanan di Asia Tenggara. 

Sementara Grab, meskipun belum ada informasi yang pasti mengenai jumlah pengguna aplikasi di Indonesia, tetapi di Asia Tenggara, perusahaan ini telah mencatatkan setidaknya 144 juta pengguna dan 9 juta mitra pengemudi. Pencapaian besar kedua perusahaan tersebut bisa dikatakan melalui perjalanan ‘bakar duit’  yang mereka lakukan selama kurang lebih lima tahun terakhir. Keduanya sama-sama bertransformasi menjadi multi guna dan sama-sama bersaing keras memperebutkan pasar Indonesia, bahkan Asia Tenggara.

Dalam konteks merebut pasar Indonesia dan Asia Tenggara, tentu merger ini bisa menjadi solusi untuk memudahkan monopoli pasar. Jika keduanya disatukan, otomatis persaingan dalam bisnis ride hailing juga pasti akan menipis, dan tentunya merger ini juga dapat menjadi solusi untuk memperkecil strategi ‘bakar duit’ yang selama ini dilakukan kedua perusahaan. 

Dampak Konsumen

Dikutip dari Bisnis.com, pengamat Transportasi Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas mengatakan konsumen akan menjadi pihak yang paling mengalami dampaknya jika merger antara Gojek dan Grab terelasisasi

Menurutnya, konsumen jadi tidak memiliki banyak pilihan, termasuk tarif dan juga layanan di dalamnya. "Konsumen harus menerima tarif yang ditentukan oleh aplikator. Pilihannya hanya mau pakai atau tidak. Sekarang ini sebelum menentukan dapat mempertimbangkan terlebih dahulu menggunakan Gojek apa Grab, dapat lihat tarifnya dulu," jelasnya.

Meski begitu,  jika merger antara kedua perusahaan benar-benar terjadi juga akan memberikan peluang kepada penyedia platform baru yang sekarang sedang muncul. Menurut Darmaningtyas, hal tersebut menjadi peluang bagi untuk munculnya platform baru yang mampu menawarkan tarif yang lebih murah serta layanan yang lebih cepat

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny Gerard Plate, dilansir dari Bisnis.com, secara umum berharap jika ada rencana merger, yang merupakan aktivitas business-to-business, dilakukan dengan tujuan meningkatkan bisnis di ekosistem digital.

Ia juga menyampaikan terkait posisi pemerintah dalam isu merger tersebut, "Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) tidak dalam posisi memberi atau tidak memberi apresiasi, karena itu kewenangan bisnis," ujarnya.

 

TAGS:

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...