Ini yang Harus Kamu Hindari saat Membeli Minuman Kekinian!

Ini yang Harus Kamu Hindari saat Membeli Minuman Kekinian!

Rabu, 22 Jan 2020 | 14:25 | Melisa Natali

Winnetnews.com - Minuman kekinian kini semakin marak di pasaran kuliner Indonesia. Minuman yang pertama kali hadir di Indonesia pada akhir tahun 2009 ini kembali menjadi tren di kalangan anak muda dan berhasil merajai pasar kuliner di Indonesia. Pilihan variasi yang ditawarkan mulai dari campuran susu, teh, kopi, keju, dan bahan-bahan menarik lainnya seperti bola tapioka dan gula aren membuat minuman ini seakan tak bisa lepas dari kebutuhan harian.

Tetapi tanpa disadari, dengan rutin membeli minuman kekinian artinya kita turut membawa dampak buruk bagi bumi dan lingkungan. Permasalahannya terletak pada sampah gelas atau sedotan plastik bekas yang akan berakhir menjadi limbah yang tidak dapat terurai.

Berdasarkan data yang diperoleh dari berbagai gerai minuman kekinian di Jabodetabek pada kuartal ke 3 tahun 2019, rata-rata penjualan minuman kekinian sudah mencapai angka 200-600 gelas per harinya dan angka ini dapat meningkat 2 kali lipat pada akhir pekan. Dan pada setiap gelas yang terjual, 85% nya menggunakan gelas dan sedotan berbahan dasar plastik sekali pakai. Jika dikalikan dengan jumlah gerai minuman kekinian di Indonesia, artinya Indonesia rata-rata bisa menghasilkan 100 juta sampah gelas plastik hanya dari minuman kekinian.

Namun aksi anti-plastik pun kini tengah gencar dilancarkan oleh produsen minuman kekinian baik dari memberikan promo bagi pengguna alternatif peralatan plastik, hingga mengelola sampah plastik nya sendiri. Store Manager Kopi 'K' yang berlokasi di Jakarta Selatan pun menambahkan bahwa gerainya pernah menjual sedotan berbahan dasar kulit pisang guna mengurangi jumlah pemakaian sedotan plastik.

Aksi ini bukan sekedar tanpa alasan. Data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan sampah plastik di Indonesia telah mencapai 64 juta ton per tahun 2018. Dan sebanyak 3,2 juta ton nya merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.

Dilansir pula dari World Economic Forum pada tahun 2016, angka penggunaan plastik di dunia telah meningkat 20 juta kali lipat selama 50 tahun ke belakang. Sedangkan plastik butuh lebih dari 1000 tahun untuk terdegradasi. Artinya, jika aksi mengurangi penggunaan plastik tidak dimulai dari sekarang, dalam 20 tahun mendatang bumi akan tenggelam oleh plastik.

Oleh sebab itu konsumen minuman kekinian kini juga dituntut untuk menjadi lebih peduli terhadap lingkungan dengan mengusahakan gerakan anti plastik baik dengan membawa tumbler maupun sedotan sendiri saat pembelian, lebih memilih brand yang sudah menggunakan alternatif gelas plastik reusable, maupun dengan cara mengurangi jumlah pembelian minuman kekinian.

 


--------------------
Melisa Natali adalah mahasiswi London School of Public Relations Jakarta.
*) Opini penulis dalam artikel ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Winnetnews.com.

 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...