Inilah Kisah yang Berani Mengikis Fobia

Inilah Kisah yang Berani Mengikis Fobia

Senin, 11 Jan 2016 | 16:30 | Nadia Chevina
WinNetNews.com - Nyaris pingsan melihat donat. Sakit perut ketika cuaca berubah mendung. Sepertinya konyol, namun fobia adalah persoalan serius. Butuh bantuan ahli untuk mengatasinya.

Wajah Wijatmoko (42) memerah, tangannya gemetar, keringat dingin mulai mengucur ketika melihat ada kardus bertuliskan merek donat di atas meja rapat yang sedang dikerubungi rekan-rekan kerjanya. Ia langsung ngibrit meninggalkan ruang kantor.

Koko, demikian ia biasa dipanggil, sangat takut pada donat. Perasaan takut dan jijik langsung meluap setiap kali melihat kue dengan lubang di tengah itu. Siksaan ini sudah dirasakannya sejak remaja.

”Yang saya ingat, rasa takut dan jijik seperti itu muncul ketika saya kelas I SMP. Nenek saya setiap hari berjualan kue, dan suatu hari di dalam tampahnya ada donat. Buat saya, bentuk kue itu menjijikkan sekali, seperti tinja. Dan ketika saya melihat orang memakannya, saya ingin muntah. Kok kotoran dimakan...,” kenang Koko.

Koko mengakui, ia sebisa mungkin menyimpan persoalannya itu untuk dirinya saja, karena begitu teman-temannya tahu kelemahannya, ia kerap dipermainkan.

”Saya pernah ditakut-takuti teman dengan donat sampai kejar-kejaran. Saya marah sekali sampai dendam pada orang itu,” kata Koko.

Setelah menikah, persoalan itu membuatnya lumayan repot karena gerai donat semakin banyak di mal dan pertokoan. Bukan hanya itu, anaknya yang terkecil (7 tahun) pun sangat menyukai donat.

”Istri dan anak saya yang paling besar sudah mengerti kondisi saya. Begitu masuk mal, biasanya kita menghindari melintas di depan toko atau kafe yang menjual donat. Kalau anak saya kepingin donat, biasanya istri saya membeli donat yang bentuknya tidak berlubang. Donat itu di rumah disimpannya di tempat terpencil agar tidak terlihat dan tercium oleh saya. Baru tercium baunya saja saya sudah cemas,” kata Koko.

Sampai saat ini Koko belum mau meminta bantuan ahli untuk menghilangkan fobianya meskipun itu sudah berlangsung hampir tiga dekade. Ia mengaku merasa mampu untuk menyembuhkan sendiri.

”Ada juga sih perasaan takut diketawain, kok takut sama donat? Selain itu, saya juga berpikir, toh cuma donat yang tidak bisa saya makan, masih banyak makanan lain. Jadi saya menganggapnya belum mengganggu,” kata Koko.

Mendung

Michelle (39) selalu dicekam ketakutan tiap kali langit gelap karena mendung. Benaknya mendadak dibanjiri bayangan kejadian alam yang bisa terjadi di luar kendalinya. ”Mendung itu berpotensi hujan badai, bahkan rasanya juga seperti tanda-tanda kiamat,” ujar ibu dua anak yang tinggal di Solo ini.

Ia baru lega ketika akhirnya hujan turun dengan biasa, tanpa angin kencang dan petir. Mendung gelap amat berdampak pada aktivitas Michelle sehari-hari. Tiap kali langit mendung, ia berdebar-debar, kesulitan berkonsentrasi, juga kehilangan fokus ketika diajak berbincang oleh orang lain.

Perutnya juga selalu bereaksi buruk tiap kali langit gelap, ia mendadak buang-buang air dan sama sekali kehilangan selera makan.

”Aku jadi seperti enggak bisa berpikir, enggak produktif banget tiap kali tahu kalau langit di luar rumah atau kantor sedang mendung. Mungkin kalau aku jadi pegawai, musim hujan yang banyak mendung bisa bikin aku dipecat,” ujar Michelle.

Perempuan yang mengelola bisnis miliknya sendiri ini kerap memilih segera pulang apabila mendung mulai muncul di langit.

Semakin dewasa, ketakutan Michelle bukan berkurang, malah bertambah. Ia juga merasa tidak nyaman berada di ketinggian, misalnya saat bepergian dengan pesawat terbang. Ia pun cemas akan ada gempa apabila berada di dalam gedung tinggi dan tertutup. Ketakutannya berubah menjadi pengalaman traumatik ketika tahun 2006 terjadi gempa di Yogyakarta.

Beragam upaya untuk mengurangi ketakutan sudah ia coba. ”Mulai dari meditasi, yoga, reiki, hingga konsultasi ke psikolog, tetapi belum banyak berkurang. Kalau keadaan terpaksa, ya memang aku tetap keluar rumah, tetapi dengan perasaan kacau dan enggak konsentrasi,” ujarnya.

Proses di otak

Terapis yang juga hypnotherapist bersertifikasi, Anthony Dio Martin, menyebutkan, fobia terbentuk akibat proses stimulus-respons yang berinteraksi terus-menerus sehingga otak terkondisikan (belajar) bahwa sesuatu itu menakutkan.

Dio Martin merujuk pada teori kondisioning klasik Pavlov, dengan eksperimennya yang terkenal yang menggunakan anjing.

Menurut Dio Martin, proses stimulus-respons yang terjadi di otak itu awalnya memunculkan perasaan cemas yang tidak beralasan, yang karena terus dikondisikan kemudian menjadi takut berlebihan, trauma, dan akhirnya menjadi fobia.

”Untuk penyembuhannya perlu mengubah bagaimana otak kita menyimpan memori tentang hal yang menakutkan itu,” kata Dio Martin.

”Fobia bisa disebabkan oleh sesuatu yang terjelaskan, tapi bisa juga oleh sesuatu yang tidak spesifik. Saya pernah menangani kasus seseorang yang sangat takut sama buah, ternyata pada waktu kecil, dia dipaksa ayahnya untuk makan segala macam buah. Ini penyebabnya jelas. Tetapi, ada juga fobia yang penyebabnya tidak spesifik, seperti takut melihat paruh ayam, mata kucing, dan lainnya. Pokoknya takut,” kata Dio Martin yang mendalami terapi NLP (neuro-linguistic programming) untuk menangani kasus-kasus fobia.

Menurut Dio Martin, fobia bisa disembuhkan, namun penyembuhannya tidak bisa melalui konseling, tetapi harus melalui terapi, karena fobia berhubungan dengan proses di otak.

”Banyak yang menganggap fobia bisa disembuhkan sendiri. Ini sulit dilakukan karena yang bersangkutan tidak bisa menolong dirinya sendiri. Jadi harus dengan bantuan tenaga profesional,” kata Dio Martin.

Tak sedikit penderita fobia yang enggan diterapi karena ”malu” dan menganggap persoalan yang dihadapinya sepele. ”Padahal, fobia itu tidak ada yang konyol. Apalagi kalau sudah sampai mengganggu aktivitas dan berdampak pada kebahagiaan hidupnya. Itu butuh terapi. Jangan sampai potensi untuk khawatir tidak beralasan itu kemudian merembet kepada hal lain,” katanya.

Dilansir dari laman kompas 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...