(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Inilah Makna dan Sejarah Sedekah Laut Menurut Kraton Yogyakarta

Oky
Oky

Inilah Makna dan Sejarah Sedekah Laut Menurut Kraton Yogyakarta Sumber Foto : Istimewa

WInnetnews.com - Labuhan atau yang belakangan banyak dikenal dengan Sedekah Laut merupakan budaya yang selama ini banyak ditemukan di Daerah Istimewa Yogyakarta, bahkan Kraton Yogyakarta juga punya agenda rutin untuk hajat dalem labuhan.

Diungkapkan oleh Penghageng Tepas Widya Budaya KRT Rinta Iswara, Kraton Yogyakarta secara rutin menggelar labuhan di empat tempat sebagai napak tilas sejarah kerajaan Mataram.

"Tempat-tempat yang bersejarah bagi eksistensi Mataram yakni Parangkusumo/Mancingan (bibir pantai), wredi (gunung) Merapi, Lawu, dan hutan Ndlepih Kahyangan," jelasnya pada kesempatan sarasehan labuhan laut di Balai Desa Pleret, Minggu (14/10/2018) siang.

Lanjutnya, waktu digelarnya labuhan tersebut pun juga telah ditentukan.

"Pada masa pemerintahan HB IX, hajat dalem labuhan digelar pada wiyosan dalem. Masa HB X digelar pada peringatan jumenengan dalem 29 Rejeb. Acara labuhan digelar sehari setelah upacara tingalan dalem jumenengan yakni 30 Rejeb," urainya.

Waktu digelarnya labuhan tersebut ditentukan berdasar kalender Jawa.

"Semua upacara yang digelar Kraton berlandaskan perhitungan kalender Jawa," ungkapnya.

Uborampe yang dilabuh pun bermacam-macam.

"Uborampe ini ada sinjang, semekan, dhestar, atau ageman dalem Sinuhun ingkang boten diagem (pakai raja yang sudah tidak dipakai lagi)," jelasnya.

Labuhan sendiri berasal dari kata bahasa Jawa 'labuh' yang diberi akhiran (-an).

"Maknanya ngintirke, mbucal dhateng lepen utawi kawah," tuturnya.

Menurutnya labuhan ini merupakan atur syukur dan atur permohonan keselamatan. Ia juga menekankan bahwa hajat dalem ini merupakan agenda rutin Kraton Yogyakarta.

"Hajat dalem itu hajat raja, hajat Kraton. Tempat sudah tertentu, waktunya sudah tertentu. Perkara orang lain mau adakan ya monggo mawon. Selama tidak mengurangi, tidak mengganggu acara yang sudah baku digelar Kraton Yogyakarta," ujarnya.

Ditambahkan oleh abdi dalem Kanca Kaji Selusin Abdul Wahab, labuhan ini merupakan wujud syukur, doa, dan sedekah.

"Labuhan juga bermakna membuang jauh-jauh hal buruk. Juga sebagai wujud syukur, doa, dan sedekah," tuturnya.

Apa Reaksi Kamu?

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});