(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Inilah Tanda Menstruasi Anda Sehat

Nadia Chevina
Nadia Chevina

Inilah Tanda Menstruasi Anda Sehat

WinNetNews.com - Hormon dalam tubuh Anda pada dasarnya secara alami selalu berubah-ubah. Hal ini mempengaruhi setiap tahapan dalam siklus menstruasi perempuan, seperti membuat periode haid menjadi lebih panjang atau lebih pendek.

Melansir mindbodygreen, tidak semua perempuan menjalani siklus menstruasi yang sempurna setiap tahunnya. Ada banyak indikator siklus menstruasi, dengan memperhatikan tanda-tanda berikut. Yuk disimak!

1. Siklus menstruasi antara 25-35 hari

Siklus menstruasi yang sehat harus sepanjang itu setiap bulannya, konsisten, dan tidak fluktuatif. Dengan kata lain, jika jarak antara dua menstruasi 29 hari, lalu bulan berikutnya 34 hari, lalu 26 hari pada bulan berikutnya, Hal itu menunjukkan fluktuasi hormonal yang tidak teratur.

Jika siklus Anda kurang dari 25 hari Anda mungkin memiliki kondisi yang disebut fase luteal cacat, yang ditandai dengan fase luteal pendek (paruh kedua siklus menstruasi setelah ovulasi). Kondisi ini biasanya disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon yang disebut dominasi estrogen, di mana kadar estrogen naik terlalu tinggi dalam kaitannya dengan tingkat progesteron.

Jika siklus Anda lebih panjang dari 35 hari, penundaan ovulasi atau sel telur terlambat matang mungkin terjadi. Sindrom ovarium polikistik dan Amenore adalah penyebab umum kondisi tersebut. Dalam setiap kasus ini, Anda sebaiknya menemui dokter untuk memeriksakan kondisi hormon Anda.

2. Darah menstruasi berwarna merah cerah

Ini adalah tanda bahwa ada aliran darah normal dan tidak terhambat di dalam rahim. Bila darah menstruasi merah gelap, coklat, atau darah menggumpal, itu bisa disebabkan oleh aliran darah yang lamban dan/atau karena sirkulasi darah di rahim yang lemah.

Masalah ini bisa disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan hormon yang mendasari (biasanya dominasi estrogen). Kompres bagian perut bawah dengan air hangat dalam botol atau minyak jarak panas yang diterapkan langsung ke perut bisa dilakukan untuk merangsang aliran darah.

 

3. PMS bukan kepastian

Tidak peduli berapa banyak wanita yang Anda kenal selalu berurusan dengan peningkatan nafsu makan, perubahan suasana hati, dan gejala khas lainnya setiap bulan, PMS bukan aturan pasti. Bahkan gejala PMS fisik seperti kembung, nyeri payudara, kram perut, dan dan jerawat adalah manifestasi dari ketidakseimbangan estrogen, progesteron, testosterone, dan kortisol.

Menariknya, progesteron membuat tubuh wanita lebih sensitif terhadap perubahan gula darah, yang hampir persis dengan gejala PMS, selama paruh kedua siklus menstruasi. Jadi pastikan untuk menjaga gula darah Anda stabil dengan makan protein, karbohidrat kompleks, dan lemak sehat setiap kali makan.

4. Cairan serviks berubah sepanjang siklus

Cairan serviks merupakan salah satu indikator siklus menstruasi sehat yang paling penting, karena adanya perubahan hormon dalam setiap tahapan siklus Anda. Anda tentu pernah melihat bahwa setelah selesai haid, Anda akan mengalami kekeringan di bawah sana. Itu terjadi karena produksi cairan serviks sangat sedikit, karena estrogen sangat rendah.

Saat Anda mendekati masa ovulasi dan tingkat estrogen meningkat, cairan serviks Anda akan keluar berupa cairan basah dan mungkin terlihat sedikit buram. Begitu juga selama fase ovulasi, Anda mungkin akan menemukan keputihan seperti putih telur yang lengket dan melar.

5. Darah hanya keluar selama fase menstruasi

Perdarahan tidak teratur di luar hari masa haid Anda, selama fase luteal, bisa menunjukkan progesteron rendah. Ini adalah hormon yang menahan lapisan rahim Anda tetap utuh sampai akhir siklus ketika kadarnya menurun dan menyebabkan endometrium rahim alami perdarahan.

Untuk pengecualian, beberapa wanita mengalami pendarahan ovulasi (tanda bahwa pematangan sel telur terjadi) yang biasanya berlangsung 1-2 hari. Darah akan keluar dengan bercak yang sangat tipis. Jangan panik jika hal ini terjadi karena hal ini sebenarnya sangat normal. 

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});