Inilah yang Membuat Orang Pintar Bisa Tertipu

Inilah yang Membuat Orang Pintar Bisa Tertipu Sumber Foto : Istimewa

Winnetnews.com -  Prabowo Subianto mengaku tertipu oleh cerita Ratna Sarumpaet. Ini dikarenakan ia mengaku sangat menghormati dan menyayangi Ratna sebagai pribadi.

"Saya sangat terusik karena Ibu Ratna pribadi yang saya kenal cukup lama, beliau selama ini ibu yang terkenal selalu menolong orang susah, orang tertindas, orang miskin. Saya hormat dengan beliau, saya sangat sayang pada beliau sebagai pribadi," ujar Prabowo.

Lantas, apa yang bisa membuat seseorang tertipu? Dikutip dari Business Insider, Dr Michael Shermer penulis 'Why People Believe Weird Things' menjelaskan beberapa faktornya.

1. Kesederhanaan kognitif (simplicity cognitive)

Secara umum, ketika otak kita memproses informasi, rasa percaya datang dengan cepat dan alami, sementara skeptisisme lebih lambat dan tidak alami. Selain itu kebanyakan orang memiliki toleransi rendah untuk ambiguitas.

Penelitian menunjukkan bahwa ketika kita memproses dan memahami pernyataan, otak kita secara otomatis menerimanya sebagai benar, sedangkan skeptisisme berikutnya dari pernyataan itu membutuhkan langkah kognitif ekstra, yang merupakan beban yang lebih berat untuk diproses. Lebih baik udah deh, move on.

2. Disonansi kognitif

Disonansi kognitif adalah ketegangan tidak nyaman yang datang dari memiliki dua pemikiran yang saling bertentangan pada saat yang bersamaan. Lebih mudah untuk membantah fakta daripada mengubah keyakinan terdalam seseorang.

3. Efek Bumerang

Kesederhanaan dan disonansi kognitif mengarah pada fenomena di mana orang akan menjadi lebih percaya pada hal-hal yang diyakininya ketika disajikan kabar yang mendukung, tidak peduli informasi tersebut adalah benar atau sebuah rekayasa.

Ketika menghadapi bukti yang kontradiktif, keyakinan yang dipercaya tidak berubah tetapi justru menjadi lebih kuat. Efeknya telah ditunjukkan secara eksperimental dalam tes psikologi, di mana subjek diberi data yang memperkuat atau bertentangan dengan bias yang ada.

4. Karena kesatuan

Manusia adalah mahluk sosial dan ingin menunjukkan bahwa manusia dapat dipercaya sebagai anggota kelompok yang dapat diandalkan. Ini berarti konsisten dalam setuju dengan orang yang memiliki kesamaan dengan kita, misalnya berasal dari kelompok yang sama, atau lingkaran pertemanan yang sama.