Ironis! Langkah TikTok Terhenti di Negeri Sendiri
Alih-alih ingin melebarkan sayap, TikTok yang diproduksi ByteDance mulai menemui kebuntuan di negeri sendiri, China. (Foto: The Economist)

Ironis! Langkah TikTok Terhenti di Negeri Sendiri

Rabu, 8 Jul 2020 | 16:30 | Khalied Malvino

Winnetnews.com -  Ribut-ribut soal aplikasi berbagi video pendek, TikTok kini benar-benar menunjukkan ketidakmampuannya "bercokol" di Hong Kong. Padahal, China selaku produsen TikTok tengah gencar memasarkan berbagai barang dagangannya ke pasar internasional.

Seperti halnya di India yang sudah diblokir, TikTok pun terpaksa "angkat kaki" dari Hong Kong lantaran kebijakan dan keputusan otoritas Hong Kong terkait UU Keamanan Nasional Hong Kong yang kini tengah menjadi konflik antara China-AS sejak beberapa waktu lalu.

UU Keamanan Nasional Hong Kong ini terbilang kontroversional. Sebagai informasi, Hong Kong merupakan negara dengan dua sistem atau semi-otonom di China. Artinya, sebelum UU Keamanan Nasional ini berlaku, Hong Kong bisa dengan bebasnya menerapkan sistem demokrasi secara mandiri tanpa "arahan" China yang menganut paham komunisme.

Namun, hal tersebut sangat kontradiktif ketika UU Keamanan Nasional Hong Kong diberlakukan. Akibatnya, pasar internasional antara China dan AS tak menemui titik terang dampak dari perang dagang atau trade war.

Dilansir dari Selular.id, Rabu (8/7), China menerbitkan UU Keamanan Nasional Hong Kong ini dalam upaya mengontrol akses internet, memaksakan penyensoran, serta mendesak sejumlah perusahaan di Hong Kong mau tak mau membuka data privasi pelanggan.

Ironisnya, TikTok memang aplikasi besutan ByteDance yang berbasis di China, namun perusahaan mengatakan data penggunanya tidak disimpan di Cina, setidaknya itu yang dikatakan kepada pemerintah India baru-baru ini setelah aplikasinya diblokir bersama dengan 58 aplikasi lainnya di negara Asia Selatan tersebut.

Menanggapi kebijakan baru di Hong Kong, TikTok mengatakan belum berbagi data pengguna dengan pemerintah sebelumnya dan tidak akan memenuhi permintaan tersebut.

Namun terlepas dari itu, kita masih harus melihat apakah aplikasi berbagi video itu akan menghindari larangan dari negara lain atau bernasib yang sama seperti yang terjadi di India yang menjadikannya kehilangan miliaran dolar.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...