Isu Rokok Mahal Bergulir, Harga Tembakau Anjlok 55%

Isu Rokok Mahal Bergulir, Harga Tembakau Anjlok 55%

Senin, 22 Agt 2016 | 12:44 | Gunawan Wibisono
WinNetNews.com - Hasil survei Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia yang menyimpulkan, jika harga rokok dinaikkan jadi Rp50 ribu per bungkus maka banyak orang yang berhenti merokok ternyata cukup berpengaruh dengan harga tembakau di Indonesia. Harga tembakau anjlok sampai 55%.

Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Soeseno menyebut bergulirnya isu kenaikan harga rokok itu telah merusak harga jual tembakau petani di daerah. Pemberitaan harga rokok yang bakal naik bulan depan menurutnya dijadikan dasar para tengkulak untuk menakut-nakuti petani tembakau di daerah.

“Para tengkulak menakut-nakuti petani agar bersedia melepas panen tembakaunya dengan harga rendah. Alasannya, industri hasil tembakau (IHT) tahun ini akan sedikit menyerap tembakau karena harga rokok akan dinaikkan menjadi Rp 50 ribu. Kondisi ini sangat meresahkan petani tembakau, khususnya di Jawa Timur,” kata Soeseno, dikutip Senin (22/8).

Soeseno mengatakan di Pamekasan dan Sumenep, Madura, banyak petani tembakau jenis Perancak 95 yang mengaku dibujuk tengkulak untuk mau menjual hasil kebunnya dengan harga murah.

“Mereka kemarin mengadu kepada saya, di Pamekasan harga tembakau ditawar tengkulak Rp18 ribu per kilogram, sementara di Sumenep ditawar Rp19.500 per kilogram. Padahal rata-rata harga tembakau Perancak 95 mencapai Rp40 ribu per kilogram. Pernah juga di tahun 2010 harga tembakau jenis ini mencapai Rp60 ribu per kilogram,” ujar Soeseno. 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...