Jababeka Klaim Beban Masih Terkendali Walau Rupiah Terdepresiasi

Jababeka Klaim Beban Masih Terkendali Walau Rupiah Terdepresiasi

Direktur Jababeka Sutedja Darmono mengatakan perseroan telah melakukan lindung nilai atau hedging untuk seluruh kewajiban valuta asingnya.

"Kenaikan beban tidak akan terlalu tinggi karena kami sudah hedge hingga Rp14.800," ujarnya.

Sutedja menerangkan, selain karena hedging, beban perseroan diestimasi tidak akan melonjak karena kontrak-kontrak pengerjaan proyek dikunci pada kurs Rp12.000.

"Itu sampai tahun depan, (kontrak) tahun ini sudah di atas Rp13.000, rata-rata karena pengaruh dolar tahun depan (beban) mungkin naik 10%," jelasnya.

Menurut Sutedja, kenaikan tersebut dipicu oleh kenaikan harga bahan bangunan yang diimpor untuk pembangunan proyek properti.

Sebelumnya, Sutedja menyebut tahun ini perseroan berharap bisa segera menggandeng mitra untuk membangun kawasan terpadu (mix use) di Cikarang guna memenuhi kebutuhan gaya hidup kalangan ekspatriat di sana.

Dia menerangkan, beberapa investor yang tertarik untuk bekerja sama antara lain berasal dari Jepang, Malaysia, dan China. Kendati demikian, Sutedja belum mau membeberkan luas lahan yang akan dikembangkan. Yang jelas, biaya investasi untuk pembangunan proyek tersebut minimal bisa mencapai Rp2 triliun.