Skip to main content

Jaksa Agung juga Marah pada Freddy Budiman, Tapi Tak Mau Sembarangan

Jaksa Agung juga Marah pada Freddy Budiman, Tapi Tak Mau Sembarangan
Jaksa Agung juga Marah pada Freddy Budiman, Tapi Tak Mau Sembarangan

WinNetNews.com - Nama Freddy Budiman diharapkan bakal masuk dalam daftar terpidana mati yang dieksekusi tahun ini. Jaksa Agung Muhammad Prasetyo menegaskan tetap berhati-hati dalam memutuskan siapa saja yang nantinya akan masuk daftar itu.

"Siapa yang tidak marah dengan Freddy Budiman? Saya pun seperti itu. Tapi kan tidak bisa sembarangan," ujar Prasetyo ketika dihubungi, Senin (2/5/2016).

Meski demikian, Prasetyo tidak menutup mata bahwa banyak pihak yang mencibirnya lantaran dianggap mengulur-ulur waktu. Namun Prasetyo tak ingin melangkah tanpa dasar hukum yang jelas.

"Tentu banyak pertimbangan. Ada aspek yuridis, hak-hak hukum terpidana harus terpenuhi. Mustinya orang melihat itu. Ini masalah hukum tidak bisa diselesaikan dengan melanggar hukum," tegas Prasetyo.

Freddy memang saat ini tengah mengajukan peninjauan kembali (PK) di PN Jakbar. Namun diyakini kuat PK itu akan ditolak karena Freddy tidak pernah hadir ke persidangan.

Saat ini, Freddy sudah dipindah ke Lapas Nusakambangan. Padahal sebelumnya dia ditempatkan di Lapas Gunung Sindur yang terkenal dengan pengamanan super ketat.

Prasetyo masih belum membocorkan nama-nama yang akan dieksekusi mati. Apakah Freddy, Tangerang Nine atau lainnya.

Selain dihukum mati karena mengimpor 1,3 juta pil ekstasi, tujuh hak Freddy juga dicabut. Yaitu:

1. Mencabut hak komunikasi terdakwa.

2. Pencabutan hak untuk menjabat segala jabatan

3. Hak untuk masuk ke dalam institusi angkatan bersenjata.

4. Hak memilih dan dipilih dalam proses demokrasi.

5. Hak untuk menjadi penasihat atau wali pengawas bagi anaknya.

6. Hak penjagaan anak.

7. Hak mendapatkan pekerjaan.

Namun pencabutan haknya itu tak menyurutkan niat Freddy untuk melanjutkan bisnis haram dari balik jeruji. Freddy bisa mengontak adiknya, Latief dan mengendalikan jaringan narkoba bahkan bisa merencanakan membangun pabrik narkoba di Pluit, Jakarta Utara. Latief oleh PN Jakbar dihukum seumur hidup di awal 2016.

Sumber: Detik

Foto: nasional news

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top