(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Jangan Pernah Mengatakan Ini Ketika Negosiasi Gaji

Oky
Oky

Jangan Pernah Mengatakan Ini Ketika Negosiasi Gaji

Winnetnews.com - Negosiasi gaji adalah proses penting dalam rekrutmen tahap akhir dan biasanya menjadi sesi wawancara pamungkas. Jangan sampai mengacaukan kesempatan untuk negosiasi gaji karena panik dan salah ucap kata.

Kunci sukses negosiasi gaji adalah komunikasi yang baik, demikian menurut penulis Fearless Salary Negotiation Josh Doody.

Jadi, Anda harus bicara dengan jelas, menghindari ambiguitas yang akan menghambat dan membuat negosiasi menjadi rumit. Berikut sembilan hal yang tidak boleh dikatakan saat negosiasi gaji seperti dikutip dari Glassdoor.com.

1. “Saat ini penghasilan saya sebesar…”

Salah satu pertanyaan standar dari perekrut saat wawancara gaji adalah: “Jadi, di mana posisi Anda dalam konteks gaji?” alias “Berapa gaji Anda sekarang?”.

Doody menyebut pertanyaan tersebut menakutkan dan menjebak. Apalagi jika pertanyaan dilontarkan pada saat awal negosiasi gaji. Kebanyakan kandidat pegawai tidak berpikir hal itu bagian dari negosiasi.

Doody menyarankan agar Anda tidak menjawab pertanyaan dengan menyebutkan angka.

Menyebutkan angka artinya masuk ke dalam kotak dan sulit bergerak kemana-mana. Perekrut akan memberi penawaran gaji di sekitar angka tersebut. Meskipun sebenarnya perusahaan mampu dan mau membayar seseorang dengan talenta seperti Anda dengan gaji lebih tinggi.

2. “Saya menginginkan gaji sebesar…”

Sekali lagi, jangan mengungkapkan penghasilan Anda saat ini. Anda juga tidak harus menyebut berapa besar gaji yang diinginkan di awal negosiasi. Namun, jika Anda sudah keceplosan menyebut besaran gaji saat ini, atau memang harus menyebutkan nominal gaji saat ini, cobalah perbaiki situasi.

Jelaskan berapa banyak dan besaran fasilitas di luar gaji yang disediakan perusahaan. Misalnya, soal asuransi kesehatan, jumlah cuti, biaya liburan, hingga target bonus. Jika mereka tidak memberikan manfaat lebih, maka Anda bisa meminta nilai gaji lebih tinggi.

Anda juga bisa bersilat lidah untuk menghindari jawaban pertanyaan. Bilang saja kalau Anda tidak nyaman mengungkapkan penghasilan saat ini.

Lalu, katakan: “Saya lebih ingin fokus kepada nilai tambah yang bisa saya berikan untuk perusahaan daripada nilai gaji yang akan saya dapatkan. Saya belum memikirkan angka spesifik terkait gaji. Anda tahu lebih banyak tentang harga yang pantas untuk keterampilan dan pengalaman saya. Saya mau membuat langkah besar dalam hal menerima dan mengerjakan tanggung jawab dan mendapat kompensasi.”

3. “Maaf”

Negosiasi mungkin adalah salah satu jenis pembicaraan yang membuat Anda merasa tidak nyaman karena adanya tekanan. Meski begitu, situasi ini harus dihadapi demi mendapat kompensasi yang layak. Jangan katakan “maaf”. Sebab perekrut akan menganggap Anda menyerah saat negosiasi.

“Tidak” dan kata-kata negatif lainnya

Fokus untuk memperkuat posisi saat negosiasi. Hindari kata negatif dan fokus dengan bahasa positif. Misalnya, ketika perekrut menawarkan angka spesifik yang tidak sesuai dengan keinginan Anda, jangan bilang: “Tidak, nilai itu tidak cocok utuk saya.” Namun, Anda bisa mengatakan: “Saya lebih nyaman dengan…”

4. “Ya”

Gunakan kata-kata “Ya” dengan hati-hati. Kalau bisa, pihak perusahaan yang mengatakan “Ya” atas tawaran Anda. Bukan Anda yang mengiyakan tawaran mereka. Hal yang ditakutkan adalah: mereka menawarkan nilai gaji. Sementara Anda meremehkan keahlian dan pengalaman sendiri. Jadi, buatlah situasi di mana Anda yang berperan sebagai pemberi pertanyaan. Dapatkan jawaban ‘ya” untuk setiap pertanyaan, permintaan dan tawaan Anda. Jika Anda sudah tidak punya pertanyaan, maka negosiasi berakhir.

5. “Kita lihat nanti…”

Peringatan ini untuk Anda para penunda pekerjaan. Terkadang Anda menghindari bagian sulit dengan mengatakan “Kita lihat nanti setelah saya memulai pekerjaan.” Misalnya, Anda menyetujui nilai gaji standar saat wawancara kerja, lalu Anda berharap akan ada kenaikan pendapatan dalam periode tertentu jika melakukan pekerjaan hebat. Jangan berharap pada apapun yang tidak tertulis di kontrak. Hal itu bisa jadi kesalahan besar yang harus dibayar mahal. Sebab, mungkin Anda menghadapi situasi yang berbeda saat sudah bekerja di kantor.

6. “Apakah kita bisa coba dengan…?”

“Coba” adalah kata pasif yang meninggalkan banyak ruang yang Anda tidak inginkan. Anda bisa saja mencoba tawaran perusahaan yang sebenarnya tidak diinginkan. Misalnya, mencoba menerima beban tugas dengan gaji yang lebih rendah dari seharusnya. Namun, bagaimana jika percobaan itu gagal? Maka, daripada Anda menghindar dan mengatakan “coba”, lebih baik langsung nyatakan keinginan dengan cara: “Saya lebih nyaman bila…”

7. “Lebih”

Ketika Anda tidak setuju dengan gaji yang ditawarkan perusahaan, maka Anda mungkin akan berkata: “Saya ingin lebih dari itu.” Dengan begitu, Anda telah memberi batasan yang tidak jelas. Berapa tambahan nilai gaji yang Anda inginkan? Bagaimana kalau perusahaan hanya memberi lebih Rp 100 ribu atau Rp 200 ribu dari kesepakatan? Maka, jangan biarkan perekrut berimajinasi dan menentukan. Kalau memang Anda ingin nilai lebih tinggi di akhir kesepakatan gaji, maka bilang saja “Saya lebih nyaman dengan gaji …”

8. “Ingin”

Kata “ingin” dapat melemahkan argumentasi saat negosiasi. Anda harus menyiapkan diri dengan data dan fakta, serta memberi contoh menarik sebelum mulai bernegosiasi. Anda bisa meriset gaji rata-rata di kota Anda. Jangan lupa untuk mencari tahu besaran gaji untuk orang dengan keahlian dan pengalaman seperti Anda. Daripada mengatakan keinginan Anda, lebih baik fokus pada kebutuhan perusahaan dan bagaimana Anda bisa membantu dan maju bersama organisasi.

 

 

Penulis : Oky Alexander Weni
Editor : Baiq Fevy Shofya Wahyulana

Apa Reaksi Kamu?

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});