Skip to main content

Jangan Tinggalkan Yogyakarta jika Belum Makan 4 Kuliner Ini!

Jangan Tinggalkan Yogyakarta jika Belum Makan 4 Kuliner Ini!
Jangan Tinggalkan Yogyakarta jika Belum Makan 4 Kuliner Ini!

WinNetNews.com - Jika Anda salah satu yang memilih Yogyakarta tujuan long weekend, rasanya belum afdol meninggalkan Yogyakarta tanpa mencicipi kuliner khasnya yang lezat. Berikut rekomendasinya.

Pecel Dendeng Ragi

Lezatnya sayuran yang disiram dengan bumbu kacang alias pecel memang sudah tak diragukan lagi. Paduan daun bayam, kacang panjang, timun dan kembang turi semakin komplit dengan tambahan dendeng ragi, peyek rebon dan siraman sambal kacang pedas. Seporsi pecel dendeng ragi ini siap memanjakan lidah sebagai menu sarapan di Yogya. Sebagai pelengkap sajian tradisional, pecel ini disajikan dengan alas berupa daun pisang. Tertarik? Pecel ini tersaji di Warung Sellie Coffee, Jalan Gerilya 822 Prawirotaman II, Yogyakarta.

Sate Wedhus Jinten di Penpada nDe LUWEH

Ingin santai sambil menikmati sate wedhus jinten, ayam garang dan minum wedang pandan sere? Maka Anda patut menyambangi nDe Luweh. Luh Kinanthi, si pengelola mengatakan, Nde LUWEH bukan restoran tapi juga bukan warung makan biasa. Tempat makan yang berlokasi di Jalan Ngeksigondo 54 Yogyakarta ini menyuguhkan 22 minuman khas tradisional dengan varian rempah dan aneka makanan tradisional.

Aneka makanan yang disuguhkan yaitu “sega godhog”, sate wedhus jinten ketela, ayam garang pandan sere dengan ketelo lodeh, ayam goreng brongkos, bakmi Jowo godog dan goreng, baceman tempe tahu. Sementara minumannya di antaranya wedang luweh berupa rempah sere dan jahe, wedang pandan, wedang apel dengan campuran rerempahan, wedang gedhang (pisang), kunir asem temulawak, kopi menoreh, kopi merapi dan masih banyak lagi.

Sate Klatak Pak Pong

Warung sate klatak yang terkenal di Yogyakarta adalah sate Pak Pong. Menurut pemiliknya, Pak Pong, warungnya ini pertama kali dibuka pada 1997. Awalnya hanya warung kecil yang hanya bisa menampung tak lebih dari 10 orang. Kini warung kedua Pak Pong kurang lebih sudah bisa menampung setidaknya 500 pengunjung.

Apa kelebihan sate klatak ini? Pak Pong mengatakan hanya menggunakan kambing muda agar dagingnya terasa empuk. "Ndak ada rahasianya, Saya hanya pakai kambing muda supaya dagingnya empuk. Usianya dibawah satu tahun," kata Pak Pong saat ditemui di warungnya.

Seporsi sate klatak berisi 2 tusuk langsung datang tak lama setelah memesan. Tak tercium sedikitpun aroma khas kambing, tekstur daging juga sangat empuk sehingga tak perlu mengeluarkan tenaga ekstra ketika mengunyahnya. Bumbunya memang sederhana tapi terasa cukup meresap. Sate yang disajikan di wadah piring ini didampingi pelengkap berupa kuah gulai yang gurih dan lezat. Ahh sedapnya!

Kopi Joss

Tak sulit menemukan kedai kopi joss di Yogyakarta. Di sekitaran Stasiun Tugu Yogyakarta, Anda akan menemukan banyak berjejer kedai angkringan yang menawarkan kopi joss. Tapi hanya ada satu yang paling terkenal, yakni kopi joss Lek Man.

Sebelum memesan, Anda bisa memilih mau duduk di kursi atau lesehan. Jika sudah menemukan tempat yang nyaman, kemudian Anda bisa memesan kopi. Yang paling favorit tentu saja kopi joss orisinal.

Kopi diseduh dalam gelas bening agak tinggi, kemudian diaduk hingga rata baru ditambahakan arang kayu panas. Joossss, suara panasnya arang langsung terdengar dibarengi dengan kepulan asap putih yang menyembul dari mulut gelas.

Tunggu beberapa menit hingga kepulan asap menghilang sebelum menyeruput cairan hitam pekat ini. Benar saja rasanya sangat berbeda. Pecinta kopi pasti tahu di mana letak kenikmatannya, tapi bagi penikmat kopi juga terasa jelas bedanya.

Segelas kopi joss Lek Man dibanderol seharga Rp7.000. Cukup terjangkau bukan? Sambil minum kopi, angkringan ini juga menyediakan nasi kucing, gorengan serta berbagai sate.

Dilansir: okezone

Foto: google

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top