Jasa Soeharto dan Polemik yang Tersisa

Jasa Soeharto dan Polemik yang Tersisa

Rabu, 27 Jan 2016 | 11:35 | Liani
WinNetNews.com - Hari ini tepat sewindu meninggalnya Presiden ke-2 Indonesia, Soeharto. Dalam kepemimpinannya selama 32 tahun, banyak jasa yang ditorehkan untuk Indonesia. Namun, di masa sekarang, zaman orde baru lekat dengan kesan otoriter.

Akibatnya, ketika pemerintah ingin memberikan gelar pahlawan bagi Soeharto masyarakat pun bereaksi. Ada yang berpendapat bahwa ia layak mendapatkan gelar karena berjasa dalam pembangunan Indonesia.

Namun, ada pula yang menilai, pemberian gelar pahlawan bagi Soeharto membutuhkan kajian mendalam karena sejumlah peristiwa yang terjadi pada masa pemerintahannya.

Baca Juga: Fadli Zon: Pak Harto Banyak Sekali Jasanya

Ketua MPR Zulkifli Hasan, menganggap gelar pahlawan nasional untuk Soeharto pantas diberikan. Sebab dia menganggap Soeharto memiliki jasa besar dalam hal pembangunan untuk Indonesia.

"Kita serahkan pada pemerintah dan saya rasa (pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto) itu pantas," ucap Zulkifli pada Selasa 10 November 2016.

 

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah pun mendukung Presiden ke-2 RI itu menjadi pahlawan nasional. Meskipun dikenal sebagai pemerintah yang otoriter selama menjabat 32 tahun,‎ namun menurutnya Soeharto tetap berjasa kepada bangsa Indonesia.

"(Soal) Soeharto, saya termasuk orang yang setuju Soeharto dapat gelar pahlawan. Dia salah satu presiden berkuasa selama 32 tahun. Ada juga jasa yang dia buat. Kalau ada yang tidak suka kepadanya itu persoalan lain," kata Fahri.

Fahri bahkan mempertanyakan Presiden Joko Widodo tak kunjung memberikan gelar pahlawan bagi Soeharto.

Baca Juga: Waketum DPR Dukung Soeharto menjadi Pahlawan Nasional

Sementara, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyatakan, penganugerahan gelar pahlawan nasional untuk Soeharto, hanya tinggal menunggu keputusan presiden (keppres).

Tim Peneliti dan Pengkajian Gelar Pahlawan (TP2GP) bahkan telah menyerahkan hasil studinya mengenai Soeharto ke Dewan Gelar. Menurut Khofifah, tak ada lagi pembahasan di Dewan Gelar dan tinggal menunggu waktu.

Dilansir dari laman liputan6

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...