Jastip, Bisnis Menguntungkan Tapi Merugikan Negara

Cindy
Cindy

Jastip, Bisnis Menguntungkan Tapi Merugikan Negara Foto: Ilustrasi

Winnetnews.com - Fenoemna jasa titip atau yang biasa dikenal dengan sebutan jastip adalah peluang bisnis yang merajai kalangan milenial bahkan ibu-ibu di Indonesia. Jastip adalah peluang usaha untuk membelikan barang pesanan yang diminta oleh pengguna jasa. Biasanya, Jastip memanfaatkan teknologi atau media sosial untuk menawarkan jasa pembelian barang.

Bisnis ini sedang tren seiring perkembangan teknologi. Dengan hanya bermodal smartphone dan berbagai aplikasi media sosial, bisnis jastip sudah bisa dilakukan. Hampir semua kalangan khususnya para wanita yang menyukai bisnis.

Usaha jasa titip atau jastip saat ini menjadi lapangan pekerjaan baru yang dilirik oleh sejumlah masyarakat. Jastip bahkan tidak hanya berkembang di dalam negeri akan tetapi juga merambah ke luar negeri.

Namun , tahukah kamu bisnis Jastip yang menguntungkan itu memiliki dampak yang tak baik untuk negeri kita Indonesi. Dikutip dari Kompas.com, Direktur Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan, Heru Pambudi mengatakan, potensi kerugian negara mencapai 17 persen dari harga barang apabila jastip marak di Indonesia.

Kerugian ini berasal dari PPN 10 persen, PPh 10 persen dan Bea Masuk 7,5 persen. "Kalau kita lihat (potensi kerugiannya) PPN 10 persen, PPh 10 persen, bea masuk 7,5 persen. Jadi sekitar 17 persen dari barang," ucap Heru.

Pemerintah tidak melarang masyarakat untuk membawa barang dari luar negeri. Tapi harus dikondisikan jumlah barang dengan harga yang boleh dibawa masuk ke dalam negeri yaitu maksimal sekitar Rp 7 juta.

"Kita tertibkan, kita arahkan agar mengimpor secara resmi yang telah kami tetapkan. Dia tidak boleh pergi ke luar negeri tapi niatnya berdagang itu tidak boleh, kalau memang mau berdagang kami fasilitasi dengan dokumen secara benar," tambah Heru Pambudi.

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan menindak tegas bagi pelaku jasa titip atau Jastip yang kedapatan membawa kuota barang bawaan senilai USD 500 atau setara dengan Rp 7 juta (kurs Rp 14.000).

Selain, diwajibkan membayar pajak pihaknya juga akan menyita barang bawaannya tersebut. "Bisa juga barang jadi milik negara, disita," kata Kepala Subdit Impor Direktorat Teknis Kepabeanan Djanurindro Wibowo.

Sanksi lain yang akan diberikan kepada para Jastip yang terindikasi melakukan penyelundupan barang akan dikenakan tindakan secara hukum. Jadi jika kamu ingin melakukan jastip, kamu harus mengingat beberapa peraturan yang sudah diberikan pemerintah dan Bea Cukai, agar tak merugikan negara kita.

Apa Reaksi Kamu?