Skip to main content

Jenderal Soedirman, Dibalik Kepopuleran Namanya, Ada Sejuta Pengorbanan yang Diberikan Untuk Indonesia

Jenderal Soedirman, Dibalik Kepopuleran Namanya, Ada Sejuta Pengorbanan yang Diberikan Untuk Indonesia
Jenderal Soedirman, Dibalik Kepopuleran Namanya, Ada Sejuta Pengorbanan yang Diberikan Untuk Indonesia

WinNetNews.com - Pasti Anda sudah tak asing lagi dengan nama Jenderal Sudirman. Pahlawan yang bernama lengkap Jenderal Besar Raden Soedirman, yang biasa kita kenal Sudirman adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Namanya pun masih terus kita ingat. Salah satu upaya untuk selalu mengingat nama pahlawan revolusi ini adalah digunakan sebagai nama jalan - jalan besar di beberapa wilayah di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung dan Semarang.

Tidak hanya menjadi sebuah nama di jalan - jalan besar, beberapa seniman juga membuat patung Jenderal Sudirman di beberapa wilayah seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Pacitan, Purwokerto dan Alor. Tujuannya hanya satu, agar rakyat Indonesia tetap mengenang jasa Jenderal Sudirman.

Lalu apa saja jasa - jasa Jenderal Sudirman untuk Indonesia?

Jenderal Sudirman merupakan seorang pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Purbalingga. Beliau merupakan panglima besar Tentara Nasional Indonesia yang pertama dan seorang perwira tinggi pada masa Revolusi Nasional Indonesia.

Beliau lahir dari pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem tepatnya pada tanggal 24 Januari 1916 di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga. Ia diberi nama Soedirman oleh pamannya yang bernama Cokrosunaryo.

Jenderal Sudirman pernah mengenyam Pendidikan Militer di Tentara Pembela Tanah Air (PETA). Hal ini bermula saat awal tahun 1942. Saat itu Jepang mulai menduduki Indonesia setelah memenangkan beberapa pertempuran melawan pasukan militer Belanda. Tepatnya pada tanggal 9 Maret 1942, Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborg Stachouwe dan Jenderal KNIL Hein ter Poorten menyerah.

Peristiwa ini menimbulkan perubahan drastis dalam pemerintahan nusantara banyak masyarakat pribumi yang menderita dan mengalami pelanggaran hak asasi manusia di tangan Jepang.

Di saat itulah Jenderal Sudriman diminta untuk bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) pada tahun 1944. PETA merupakan kesatuan militer yang dibentuk oleh Jepang pada tanggal 3 Oktober 1943 untuk membantu Jepang dalam menghalau serangan sekutu. Sudirman resmi menjadi anggota PETA dan melakukan pelatihan di Bogor.

Jasa Sudirman mulai terlihat saat pengeboman yang terjadi di kota Hiroshima dan Nagasaki. Kejadian ini membuat Jepang dalam ambang kehancuran, berita tersebut berhasil masuk ke Indonesia pada awal bulan Agustus 1945, dan diikut oleh peristiwa kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Peristiwa tersebut membuat kontrol Jepang mulai melemah. Situasi ini dimanfaatkan dengan baik oleh Sudirman, yang akhirnya ia memimpin pelarian dari pusat penahanan dari Bogor. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Jepang membubarkan PETA.Sudirman dan beberapa rekannya sesama tentara PETA mendirikan cabang BKR di Banyumas pada akhir Agustus, setelah sebelumnya singgah di Kroya dan mengetahui bahwa batalion di sana telah dibubarkan.

Pertemuannya dengan komandan wilayah Jepang, Saburo Tamura, dan Residen Banyumas, Iwashige. Ia dan Iskak Cokroadisuryo memaksa Jepang untuk menyerahkan diri dan memberikan senjata mereka. Sebagian besar senjata ini digunakan oleh unit BKR Sudirman dan sisanya dibagikan kepada batalion lainnya.

Tidak lama setelah Jepang membubarkan PETA, pasukan Inggris datang ke Indonesia dan berhasil melucuti senjata tentara Jepang dan memulangkan tawanan perang Belanda, tiba di Semarang, dan kemudian bergerak menuju Magelang. Ketika Inggris mulai mempersenjatai kembali tentara Belanda yang menjadi tawanan perang dan sepertinya sedang mempersiapkan sebuah pangkalan militer di Magelang.

Pada tanggal 12 November 1945, Sudirman terpilih sebagai pemimpin TKR saat berusia 29 tahun, melalui pemungutan suara yang berlangsung dua tahap. Ia berhasil mendapat 22 suara sedangkan Oerip hanya mendapatkan 21 suara. Ia tetap menunjuk Oerip sebagai kepala staff kemudian Sudirman dipromosikan menjadi Jenderal.

Tentara gabungan antara Belanda dan Inggris telah mendarat di Jawa pada bulan September, dan pertempuran besar telah terjadi di Surabaya pada akhir Oktober dan awal November. Ketidakstabilan ini, serta keraguan Soekarno atas kualifikasi Sudirman, menyebabkan terlambatnya pengangkatan Sudirman sebagai pemimpin TKR.

Sudirman meninggal saat terjadi Perang Gerilya. Saat itu beliau tengah menderita penyakit TBC. Sudirman saat itu juga diangkat sebagai panglima besar TNI di negara baru bernama Republik Indonesia Serikat. Pada tanggal 28 Desember 1949, Jakarta kembali dijadikan sebagai ibu kota negara.

Jenderal Sudirman juga sempat berjuang dalam eperang Gerilya, saat itu ia sempat di bopong dengan menggunakan tandi tertutup kain. Saat ituSudirman akan mengontrol para gerilyawan dari Jawa Timur, yang masih memiliki beberapa pangkalan militer untuk menghadapi perlawanan Belanda. Sadar bahwa Belanda sedang memburu mereka, pada tanggal 23 Desember ia memerintahkan pasukannya untuk melanjutkan perjalanan ke Ponorogo.

Di Ponorogo, mereka berhenti di rumah seorang ulama bernama Mahfuz lalu memberikan sebuah tongkat untuk Sudirman yang membantunya berjalan, meskipun Sudirman terus dibopong dengan menggunakan tandu di sepanjang perjalanan. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke timur.

Pada tanggal 27 Desember, Sudirman dan anak buahnya bergerak menuju Desa Jambu dan tiba pada 9 Januari 1949. Di sana, ia bertemu dengan beberapa menteri yang tidak berada di Yogyakarta saat penyerangan: Supeno, Susanto Tirtoprojo, dan Susilowati.

Sudirman berjalan ke Banyutuwo sambil memerintahkan beberapa tentaranya untuk menahan pasukan Belanda. Di Banyutuwo, mereka menetap selama seminggu lebih. Namun, pada 21 Januari, tentara Belanda mendekati desa. Ia dan rombongannya terpaksa meninggalkan Banyutuwo.

Sudirman wafat di Magelang pada tanggal 29 Januari 1950. Keesokan harinya, jenazah Soedirman dibawa ke Yogyakarta, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki.

Pada akhir November Sudirman memerintahkan Divisi V untuk menyerang pasukan Sekutu di Ambarawa, sekali lagi dikomandoi oleh Isdiman, kota itu dianggap penting secara strategis karena memiliki barak militer dan fasilitas pelatihan yang sudah ada sejak zaman penjajahan. Serangan ini dilumpuhkan oleh serangan udara dan tank-tank Sekutu, yang memaksa divisi untuk mundur, Isdiman sendiri tewas dalam pertempuran.

Sudirman kemudian memimpin Divisi dalam serangan lain terhadap pasukan Sekutu; tentara Indonesia dipersenjatai dengan berbagai senjata, mulai dari bambu runcing dan katana sitaan sebagai senjata, sedangkan tentara Inggris dipersenjatai dengan peralatan modern.

Beliau memimpin di barisan depan sambil memegang sebuah katana. Sekutu berhasil dipukul mundur dan bersembunyi di Benteng Willem. Pada 12 Desember, Sudirman memimpin pengepungan empat hari, yang menyebabkan pasukan Sekutu mundur ke Semarang.

Pertempuran Ambarawa membuat Sudirman lebih diperhatikan di tingkat nasional. Sudirman dikukuhkan sebagai panglima besar TKR pada tanggal 18 Desember 1945. Posisinya sebagai kepala Divisi V digantikan oleh Kolonel Sutiro. Pemerintah Indonesia kemudian mengganti nama Tentara Keamanan Rakyat menjadi Tentara Keselamatan Rakyat pada tanggal 7 Januari 1946.

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top