Jerat Hukum Bagi Pengganjal Roda Ekonomi Indonesia

Zulkarnain Harahap
Zulkarnain Harahap

Jerat Hukum Bagi Pengganjal Roda Ekonomi Indonesia Foto: Istimewa

WinNetNews.com – Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini yang berada di angka 5% menjadi indikasi positif di tengah kemuraman ekonomi dunia. Pemerintah di tahun ini, kembali menargetkan agar laju pertumbuhan tidak mengalami penurunan, cenderung pada angka yang stabil, dengan menargetkan kenaikan. Signifikansi antara rencana pemerintah dengan realita lapangan itu juga yang telah disiapkan Mabes Polri dengan menjerat para pengganjal laju ekonomi Indonesia.

Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri, Komjen Pol. Ari Dono Sukmanto menyatakan hal itu di kompleks Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (15/3/2017).

Menurut Ari, keseriusan penanganan perkara terkait dengan ekonomi menjadi bukti konkrit keseriusan pemerintah menggenjot pembangunan untuk masyarakat.

“Seperti mempersangkakan 4 orang yang berperan sebagai supplier cabai oleh penyidik Subdit Indag Direktorat Tipideksus Bareskrim, memberikan efek jera sehingga harga cabe rawit merah di masyarakat bisa lebih terkendali,” ungkap Ari.

Sepintas, sambung Ari, apa yang dikerjakan oleh Bareskrim seolah mengurusi hal yang remeh temeh.

“Tapi bagi ekonomi Indonesia, dampak dari kenaikan harga cabai ini justru mendorong kenaikan inflasi,” kata Ari.

Dengan naiknya inflasi, tambah Ari, membuat pertumbuhan ekonomi di Indonesia menjadi terhambat.

“Jika pertumbuhan ekonomi terhambat, berakibat pada penurunan daya beli masyarakat serta berkontribusi pada penurunan tingkat permintaan produk industri. Ketika produk industri menurun, sama saja dengan mendorong penurunan tingkat penyerapan tenaga kerja, yang berarti meningkatkan angka pengangguran. Itu artinya pelaku hendak mengganjal putaran roda ekonomi Indonesia yang saat ini melaju positif,” paparnya.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), cabai rawit merah tercatat sebagai penyumbang inflasi terbesar sepanjang tahun 2016. Cabai rawit merah telah memberikan andil inflasi bagi ekonomi Indonesia sebesar 0,35%. Sementara menurut data Bareskrim Polri, sebelum dilakukan penetapan tersangka pada tanggal 2 Maret 2017, harga cabe rawit merah dipasar induk Kramatjati menyundul angka Rp. 124.000/Kg. Setelah tersangka ditetapkan, harga cabe rawit merah pada 13 Maret 2017 telah turun menjadi Rp. 87.000/Kg. Begitu juga harga cabe di pasar induk di kota lainnya di Pulau Jawa, setiap hari terus mengalami penurunan dan stock dipasar terus bertambah.

“Supplier lain serta 7 industri yang menetapkan harga cabe dengan supplier juga akan terperiksa. Serta langkah lain yaitu memotong riak permainan harga cabai agar tidak menggangu ekonomi Indonesia karena target yang ingin dicapai yaitu adanya harga cabai rawit merah yang adil bagi masyarakat,” tutup Ari.

Apa Reaksi Kamu?