Skip to main content

Jokowi akan Kunjungi Markas Brimob, Tito: Kami Dengarkan Apapun Perintahnya dan Kami Lakukan

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan Brimob dan Polri setia kepada pimpinan negara yang sah dan rakyat. Foto: Istimewa
Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan Brimob dan Polri setia kepada pimpinan negara yang sah dan rakyat. Foto: Istimewa

WinNetNews.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dijadwalkan berkunjung ke Markas Komando (Mako) Brimob di Kelapa Dua, Depok. Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan Brimob dan Polri setia kepada pimpinan negara yang sah dan rakyat.

"Hari ini momentum penting bagi kita korps brimob hadir pimpinan tertinggi Polri. Kapolri pimpinan tertinggi di internal Polri, panglima tertinggi di TNI dan Polri adalah Bapak Presiden," kata Tito di halaman Mako Brimob, Kelapa Dua, Cimanggis Depok, Jumat (11/11/2016).

"Untuk itulah kami loyal kepada rakyat. Jadi kami semua sama memiliki doktrin. Simbol dari Polri role modelnya adalah patih Gajah Mada itulah yang kemudian ada patung di Trunojoyo," sambung dia.

Tito menjelaskan patung Gajah Mada yang berdiri di depan Markas Besar (Mabes) Polri merupakan simbol loyalitas prajurit kepada negara. Apalagi nama prajurit Bhayangkara juga diambil dari pasukan Gajah Mada.

"Itulah Polri disebut namanya prajurit Bhayangkara. Prajurit Bhayangkara sebagaimana Gajah Mada memiliki Catur Prasetya," jelas Tito.

Tito menyebut brimob adalah pasukan elite yang dimiliki oleh Polri. Dengan berpegang pada janji Gajah Mada salah satunya Satya Haprabu yaitu setia kepada negara dan pimpinan, Brimob diajak untuk loyal kepada negara dan pimpinan negara yang sah.

"Apalagi Brimob pasukan elite dan pemukul NKRI. Satya Haprabu setia kepada negara dan pimpinan, kami setia kepada NKRI. Dua elemen utama dalam membangun dan menegakkan negara ini adalah TNI dan polri," kata dia.

Tito menceritakan ketika bertugas di Papua tantangan yang dihadapinya adalah ada elemen sseparatisme. Namun ketika TNI dan Polri bersatu dalam semangat menjaga NKRI tetap utuh hambatan itu menjadi kecil.

"Saya pernah tugas 2 tahun di Papua ada elemen separatisme. Kami tidak tahu mana yang pro dan kontra tapi ketika dua elemen bergabung jadi satu dalam visi yang sama, kelompok itu di mata kami jadi kecil. Artinya dinamika sebesar apapun di negara ini ketika TNI dan Polri berada segaris, sevisi NKRI tetap berdiri," tegas dia.

Tito menyebut Satya Haprabu menjadi doktrin yang harus dipegang prajurit Bhayangkara. Dia menegaskan Prajurit Bhayangkara setia kepada negara dan pemerintahan yang sah.

"Doktrin ini kami artikan setia pada pimpinan yang sah, yang secara konstitusional sah. Dalam Pemilu Presiden 2014 yang sudah dilantik melalui proses konstitusional, pemilihan oleh masyarakat yang disebut pesta demokrasi terbaik dunia adalah Presiden Jokowi," kata dia.

"Oleh karena itu kami sebagaimana prajurit negara, sebagaimana Patih Gajah Mada kami harus menunjukkan ketika ada dinamika-dinamika kami harus setia pada negara yang sah, pemerintah yang sah dan pimpinan negara yang sah. Oleh karena itu jangan ragu-ragu kepada doktrin ini, tidak boleh bingung, kalau ada yang berbeda pendapat boleh tapi kalau bicara NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, persatuan, kami harus kembali ke doktrin satya prabu," tegas Tito.

Tito kemudian menjelaskan saat ini pasukan Brimob semakin besar. Tingkat kesejahteraan juga semakin ditambah dan mulai dibahas mengenai kenaikan jabatan. Tito menyebut pasukannya adalah harapan ketika terjadi gesekan. "Rekan-rekanlah harapan terakhir ketika terjadi kontigensi. Saya menitipkan pesan sekaligus perintah untuk bekerja sungguh-sungguh loyalitas kepada pimpinan dan tunjukkan kami setia kepada negara dan pimpinannya," kata dia.

"Sebentar lagi presiden akan hadir di Markas kita, kami dengarkan apapun perintahnya dan kami lakukan," sambungnya.

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top