Jokowi Kecewa Dengan Lambatnya Pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung
ilustrasi

Jokowi Kecewa Dengan Lambatnya Pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung

Selasa, 23 Mei 2017 | 19:40 | Rusmanto

WinNetNews.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) hari ini mengungkapkan kekesalannya lantaran pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung, belum sesuai harapannya.

Bagaimana tak geram, sudah diputuskan pembangunannya sejak 2 tahun lalu, namun konstruksi pembangunan kereta cepat belum juga terealisasi. Padahal, jarak kedua kota tersebut tak terlampau jauh.

"Kita mau membangun kereta api cepat jarak hanya 148 km saja sampai sekarang belum mulai, ributnya sudah 2 tahun. Debat, ramai, baik atau enggak baik. Sama seperti waktu kita bangun MRT ramainya itu 26 tahun. Sudah direncanakan 26 tahun, ramainya," kata Jokowi di Istana Kepresidenan, Bogor, Selasa (23/5/2017).

Lantas, bagaimana progres proyek kereta cepat Jakarta-Bandung? Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Luhut Panjaitan, mengungkapkan proyek kereta cepat sudah mendapat pendanaan tahap pertama senilai US$ 1 miliar atau Rp 13 triliun.

"Kereta cepat Jakarta-Bandung sudah maju. (Pencairan pinjaman) sudah ditandatangani di China," ujar Luhut di kantornya, Gedung BPPT, Selasa (23/5/2017).

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Pengembangan Sistem Wika, Novel Arsyad, menuturkan sejauh ini perkembangan kereta cepat Jakarta-Bandung yakni selesainya pembebasan lahan di kawasan Halim, Jakarta Timur.

"Lahan di Halim sudah clear dengan pihak TNI AU, dengan AP II, dengan warga, sudah clear. Kalau di situ saya rasa tidak ada masalah, karena sedang proses trase kereta cepat," jelas Novel.

Dalam proyek Kereta Cepat JKT-BDG, Wika bertugas sebagai kontraktor dan tergabung dalam konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Selain lahan di kawasan Halim, Novel menjelaskan proses pembebasan lahan di Karawang juga sedang berjalan.

"Sedang proses semua, saya kira 60-70% sudah selesai," terang Novel.

Sebagai informasi, groundbreaking kereta cepat Jakarta-Bandung ini sebenarnya sudah dilakukan langsung oleh Jokowi pada 21 Juni 2016 lalu.

Namun kemudian belum juga terbangun, masalah lahan dan pencairan dana jadi penyebab molornya pembangunan.Proyek ini dikerjakan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) sebagai badan usaha perkeretaapian yang 60% sahamnya dimiliki oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan 40% sisanya dikuasai China Railway International (CRI).

PSBI merupakan konsorsium 4 BUMN yakni PT Kereta Api Indonesia, PT Wijaya Karya Tbk, PT Jasa Marga Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...