(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kabareskrim Mabes Polri: Foreign Terrorist Fighter adalah Ancaman Lain dari Terorisme Bagi Kedamaian

Zulkarnain Harahap
Zulkarnain Harahap

Kabareskrim Mabes Polri: Foreign Terrorist Fighter adalah Ancaman Lain dari Terorisme Bagi Kedamaian Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Pol. Ari Dono Sukmanto/Foto: Zool WNN

WinNetNews.com - Terorisme sebagai salah satu kejahatan lintas negara, merupakan ancaman bersama di seluruh negara di dunia. Hingga saat ini, bentuk kejahatan teror juga terus berkembang. Baik dari kemampuan personil hingga sumber dana mereka. Bukan hanya itu, para pelaku kejahatan ini juga melakukan penyesuaian dengan perubahan zaman dalam cara melakukan kejahatannya.

"Identifikasi atas perkembangan dan pengembangan kejahatan terorisme menjadi penting karena bentuk dari terorisme masa kini justru menuntut kewaspadaan lebih dari seluruh masyarakat dunia," kata Ketua Senior Official Meeting of Transanational Crime (SOMTC), Komjen Pol. Ari Dono Sukmanto, seperti dikutip dari keterangan resmi, Sabtu (08/07/2017).

"Dunia, termasuk juga ASEAN, mesti mewaspadai mereka yang dikenal sebagai Foreign Terrorist Fighter (FTF). Khususnya mereka yang kembali ke negara masing-masing usai bergabung dengan ISIS atau kelompok teroris lainnya. Mereka ini potensial mulai dari menjadi penyebar ideologi radikal hingga melaksanakan kegiatan tekhnis aksi teroris lainnya. Oleh karena itu, seluruh masyarakat dunia ini harus tetap waspada dan terus memantau kegiatan mereka, tentunya dengan tetap menggunakan peraturan perundang-undangan dari negara masing-masing," lanjut Ari yang juga Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri ini.

Sementara itu, Dewan Keamanan khususnya Komisi Penanggulangan Terorisme milik PBB mencatat dalam rilisnya, bahwa organnisasi teroris seperti Al-Qaida, ISIS dan grup sejenis lainnya memiliki lebih dari ribuan FTF.

"Tercatat ada 30,000 FTF yang berasal dari lebih 100 Negara di dunia ini," ungkap Counter-Terrorism Commitee milik PBB itu.

Polemik yang membuat PBB merasa kesulitan memberantas FTF ini salah satunya penyamaran para teroris itu dengan masyarakat.

"Kerap kali para FTF itu bergabung dengan para pengungsi yang keluar dari negara konflik, salah satunya dengan ikut menyamar sebagai pengungsi, tapi setibanya di negara yang menampung - mereka justru melakukan aksi terorisme," tambahnya.

"Selain itu, masih ada banyak negara yang tidak segera meratifikasi regulasi penanggulangan terorisme, agar dengan segera memberantas FTF ini," lanjutnya.

Berdasarkan data, jaringan terorisme masa kini terbangun di level lokal, regional hingga internasional. Indikasinya terlihat, misalnya saja untuk di kawasan ASEAN, jika di Malaysia ada serangan teror maka kelompok Abu Sayyaf di Filipina hingga Thailand juga melakukan serangan secara sporadis. Sementara di Vietnam sendiri, tercatat, nyaris tidak pernah mengalami permasalahan terorisme dalam skala besar.

Meski demikian, antisipasi tetap dilaksanakan oleh pemerintah Vietnam dengan meratifikasi regulasi penanggulangan terorisme dari Perserikatan Bangsa-bangsa. Maka untuk itu, sebagai satu bagian dari ASEAN, Indonesia juga mengajak Vietnam agar kawasannya tidak menjadi lalu lintas dari para pelaku teroris.

Karena itu, tambah Ari, menanggulangi masalah terorisme membutuhkan kreatifitas yang justru harus melampaui pemikiran para pelaku kejahatan teror. Selain menjalin lebih erat lagi hubungan dengan lembaga-lembaga penanggulangan teroris internasional termasuk badan-badan intelijennya dengan bertukar informasi, memberi kesadaran kepada masyarakat khususnya di kawasan ASEAN menjadi salah satu kunci menghalau paham teror ini.

Apa Reaksi Kamu?

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});