Kamera Ganda Moto G5S Plus Beda dengan Smartphone Lainnya

Kamera Ganda Moto G5S Plus Beda dengan Smartphone Lainnya ilustrasi

WinNetNews.com - Fitur kamera ganda bukan lagi monopoli smartphone kelas atas. Produk-produk papan tengah pun mulai banyak yang menawarkan fitur ini. Salah satunya yang terbaru adalah Motorola Moto G5S Plus yang meluncur di Jakarta, Selasa (19/7/2017) kemarin.

Di punggung moto G5S Plus tersemat unit kamera ganda yang tampak identik. Masing-masing kamera memiliki sensor dengan resolusi 13 megapiksel dan lensa berbukaan f/2.0.

Lebar bidang pandang kedua kamera pun sama. Pengguna Moto G5S Plus tidak bisa memilih apakah ingin menggunakan lensa "wide" atau "telephoto" seperti ponsel kamera ganda lain. Lantas di mana letak keistimewaan dual camera Moto G5S Plus?

Kedua kamera belakang di Moto G5S Plus memiliki perbedaan dalam hal jenis sensor. Meski sama-sama beresolusi 13 megapiksel, salah satu sensor kamera dikhususkan untuk menangkap gambar monokrom saja, sementara lainnya full-color.

Saat pengguna menekan tombol shutter, kedua kamera full-color dan monokrom ini menjepret foto secara berbarengan. Foto hitam putih kemudian disatukan dengan foto warna untuk membuahkan frame akhir yang diklaim berkualitas lebih tinggi, ketimbang jika hanya menggunakan kamera tunggal.

"Sensor monokrom itu untuk menangkap ketajaman dan detil, sensor color untuk menangkap warna natural. Ada juga 3D depth sensor untuk kalkulasi jarak subyek," begitu ucap Country General Manager Lenovo Mobile Business Group and Motorola Mobility Indonesia, Adrie R. Suhadi, ketika berbicara dalam peluncuran Moto G5S Plus.

Sesuai kata Adrie, kamera ganda Moto G5S Plus bisa pula dipakai sebagai "depth sensor" untuk mengukur jarak subyek, layaknya sepasang mata manusia yang mampu melakukan hal serupa.

Hasil pengukuran jarak itu lantas dipakai untuk mengidentifikasi subyek utama dalam foto. Kemudian, ponsel bisa menyimulasikan efek depth-of-field (bokeh) dengan memburamkan latar belakang/depan, sementara subyek utama tetap tampil tajam

Hasilnya adalah foto yang tampak mirip dengan jepretan kamera DSLR, meski harus ditambahkan di sini bahwa efek "blur" yang dihasilkan adalah artifisial alias rekaan software belaka.

Tampilan fotonya pun tak sehalus foto DSLR sungguhan, Misalnya, pinggiran subyek yang seharusnya tajam dapat ikut diburamkan sehingga terlihat agak aneh.

Pengguna Moto G5S Plus bisa mengakses fitur simulasi depth-of-field ini dengan mengklik tombol berlambang tiga titik vertikal di pojok bawah antarmuka aplikasi kamera, lalu memilih opsi bernama "Depth Enabled"

image0

Kuantitas "blur" yang dihasilkan bisa diatur lewat sebuah slider. Efeknya juga bisa dilihat secara real time, seperti dalam foto ilustrasi di atas.

Konsep dual-camera yang dikedepankan oleh Moto G5S Plus  sebenarnya bukan barang baru. "Depth sensing" alias pengukuran jarak subyek (untuk memburamkan latar belakang) dengan menggunakan dua kamera pertama kali diusung oleh HTC One M8 tahun 2015 lalu.

Kemudian, Huawei P9 menerapkan konsep serupa dengan sepasang kamera identik yang tak hanya bisa mengukur jarak, tapi juga menjepret gambar monokrom dan warna untuk kemudian digabungkan menjadi frame final (berwarna) yang berkualitas lebih tinggi.

Konsep ini diteruskan oleh Huawei P10 yang dirilis pada 2017, lalu belakangan juga mulai banyak diadopsi oleh ponsel kelas menengah, meski dengan kualitas yang mungkin tidak sebanding.

Nama-nama ponsel papan tengah yang menggunakan kamera ganda dengan konsep serupa antara lain Coolpad dengan produk smartphone Cool Dual, Nubia dengan M2, lalu Motorola dengan G5S Plus.

Ponsel-ponsel kamera ganda yang beredar di pasaran saat ini bisa digolongkan dalam tiga kategori. Pertama adalah dual-camera dengan konfigurasi sepasang kamera yang identik -dalam hal resolusi dan bidang pandang lensa- serta sensor warna dan monokrom seperti tersebut di atas. (kompascom)