Kamu Wajib Tahu, Tiga Persoalan Ini Berujung Maut
Ilsutrasi garis polisi. (Foto: Akurat.co)

Kamu Wajib Tahu, Tiga Persoalan Ini Berujung Maut

Senin, 2 Sep 2019 | 11:43 | Khalied Malvino

Winnetnews.com -  Tingkat kriminalitas di Indonesia rupanya masih tinggi. Pencurian, penjambretan, premanisme, pemerkosaan, hingga berujung pembunuhan masih mencerminkan ‘wajah buruk’ Indonesia.

Tingginya tindak kriminalitas tidak hanya terjadi biasanya berhulu dari persoalan kecemburuan hati, masalah ekonomi, terlilit hutang, atau bahkan masalah sepele pun bisa berujung maut. Setidaknya ada sederet peristiwa pembunuhan dalam dua pekan terakhir.

Sebut saja kasus pembunuhan Fera oleh kekasihnya sendiri, Deri Permana. Diketahui Deri merupakan anggota TNI yang kabur dari barak. Berpangkat Praja Dua (Prada), Deri kalap dan tega membunuhnya sang pujaan hati hanya karena cemburu dengan memutilasinya.

Akibat perbuatannya, Prada Deri diberhentikan dari keanggotaan TNI. Tak hanya diberhentikan, Deri dipaksa menikmati masa akhir hidupnya di hotel prodeo. Meski demikian, Deri yang terisak duduk di kursi pesakitan meja hijau tetap mengajukan pledoi.

image0
Terdakwa Deri Permana menangis karena menyesal telah membunuh Fera, kekasihnya. (Foto: Kompas.com)

Melansir Tribunnews.com, orang tua Fera yang menyaksikan persidangan perdana hingga pledoi Deri, kalap di ruang sidang. Suhartini mencak-mencak ingin Deri dihukum setimpal, hukum mati. Dalam persidangan, Oditur Mayor D Butar-Butar mengungkapkan Deri terancam hukuman mati.

Pasal berlapis menjadi santapan Deri di dalam bui. Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dan Pasal 338 tentang pembunuhan.

Terlilit Hutang, Istri Bunuh dan Bakar Suami dan Anak Tiri

Beberapa hari lalu, warganet sempat dibuat heboh. Sebuah tayangan video menampilkan mobil terbakar di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Warga setempat pun dibuat geger setelah api yang menghanguskan mobil itu menyisakan dua mayat manusia yang sudah dipotong menjadi beberapa bagian.

Aulia Kesuma rupanya menjadi dalang pembunuhan bengis ini. Perempuan paruh baya ini merencanakan pembunuhan terhadap suaminya, Pupung serta anak tirinya, Dana. Aulia memanfaatkan empat pembunuh bayaran sebelum menghabisi nyawa dua keluarganya lantaran urusan hutang piutang.

Tak sedikit memang jumlah lilitan hutang keluarga tersebut. Namun, jumlah hutang tersebut malah membuat Aulia ‘kesetanan’. Menyewa empat pembunuh bayaran dan membawanya ke sebuah daerah terpencil di Sukabumi, lalu membakar mobil untuk menghilangkan jejak.

image1
Kondisi mobil hangus. (Foto: Tribunnews.com)

"Empat eksekutor disewa oleh pelaku AK untuk menghabisi korban. Keduanya dieksekusi di rumah pada hari Jum'at (23/8/2019). Setelah itu, mayat dibawa pelaku (menggunakan mobil) ke SPBU Cirendeu pada Minggu (25/8/2019) pagi," beber Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Sukabumi, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Nasriadi seperti dilansir Detik.com.

Setelah itu, AK dan anaknya, KV, menggunakan mobil menuju SPBU dan mengambil mobil yang berisi dua jenazah tersebut. KV lalu mengendarai mobil berisi mayat, sementara AK mengendarai mobil lainnya bernopol B-2620-BZM. Keduanya melaju menuju Sukabumi.

Di perjalanan, AK membeli sebotol bensin. Setiba di lokasi kejadian, ia menyerahkan kepada anaknya untuk membakar mobil itu sekitar pukul 12.30 WIB. Kemudian ibu dan anak itu pergi meninggalkan lokasi.

Sementara itu, warga sekitar yang melihat mobil terbakar berusaha memadamkan api dengan air seadanya. Polisi tak lama kemudian datang dan membantu memadamkan api. Setelah api padam, dua mayat ayah dan anak, Pupung dan Dana, ditemukan sudah gosong.

Sepotong Roti Berujung Maut, Sang Ayah Menyesal

Nasib buruk menimpa Eko (15) pasca dirinya dibunuh ayah kandungnya, Mardi (45), yang dibuat kesal karena persoalan sepotong roti yang diperebutkan kedua anaknya. Ulah Mardi terbongkar atas kesaksian adik Eko, Masriadi yang mengungkapkan Mardi menusuk Eko dengan melempar pisau dan mengenai dada Eko.

Melansir laman Kompas.com, Mardi mengaku tidak berniat membunuh Eko hanya karena sepotong roti. Namun, kesaksian Masriadi menjadi pertimbangan pihak Kepolisian Resor (Polres) Palangka Raya, Kalimantan Tengah untuk menahan Mardi.

“Berdasarkan hasil otopsi serta keterangan dari adik korban, akhirnya ayah korban mengakui semua perbuatannya telah menusuk korban hingga tewas,” kata Kapolres Palangka Raya, AKBP Timbul RK Siregar saat pengungkapan kasus di Mapolres Palangka Raya, Minggu (1/9/2019).

image2
Mardi, tersangka pembunuh anak kandungnya sendiri lantaran rebutan sepotong roti. (Foto: iNews.id)

Ayah korban mengaku kesal dengan korban karena tidak mau mengalah dengan adiknya yang meminta jajanan milik korban. Sehingga saat korban dan adiknya berkelahi, ayah korban langsung melemparkan pisau yang sedang digunakannya untuk mengupas jagung tepat pada bagian dada kiri korban.

“Saya lempar bukan saya tusuk,” kata Mardi.

Melihat anaknya mengerang kesakitan, Mardi sempat berusaha membawa korban ke Rumah Sakit Kelampangan. Namun, setibanya di rumah sakit korban sudah tidak bisa diselamatkan. Sempat ada kesepakatan antara pihak keluarga, untuk menutup masalah ini dari siapapun, termasuk kepada pihak kepolisian.

“Saya menyesal seumur hidup,” ujar Mardi.

Polisi sudah menetapkan Mardi sebagai tersangka pembunuhan anaknya. Mardi kini ditahan di Mapolsek Palangka Raya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pelaku diancam dengan hukuman dua puluh tahun penjara.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...