Kapitra Heran Dengan Sikap Emosional PA 212
Sumber : Istimewa

Kapitra Heran Dengan Sikap Emosional PA 212

Jumat, 27 Apr 2018 | 20:40 | Oky

WInnetnews.com - Pengaraca Habib Rizieq, Kapitra Ampera, memebeberkan alasan Habib Rizieq tak jadi pulang ke Tanah Air.

Kapitra menuturkan, konferensi pers yang diadakan Persaudaraan Alumni (PA) 212 berdampak pada tidak jadi pulangnya Imam Besar FPI tersebut.

Menurut pengakuannya, Kapitra sengaja membangun komunikasi yang baik dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menyelesaikan masalah-masalah hukum yang menimpa ulama, khususnya masalah hukum yang menimpa Habib Rizieq.

"Saya harus bilang karena tiap ada pertemuan dengan Presiden, ada tindak lanjut instansi di bawahnya. Ada tindak lanjut, semua tahu itu. Itu semua untuk kebaikan. Padahal hampir final perjuangan kita atas kriminalisasi ulama Habib Rizieq. Kita menunggu SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan) dari polisi. Hubungan yang dijalin untuk kebaikan ini," kata Kapitra di Jakarta pada hari Jumat (27/4).

Dia merasa upayanya sia-sia dengan sikap PA 212 saat konferensi pers kemarin, pada hari Rabu (25/4).

Dia menggambarkan betapa berat upayanya dalam menyelesaikan kasus Habib Rizieq.

"Di lapangan yang menindaklanjuti saya. Kebijakan presiden itu akan diintruksikan, dilanjuti dengan aparat penegak hukum dan aparat pdnegak hukumnya berkomunikasi dengan saya. Sudah tipis sepatu saya bolak-balik ke Mabes Polri, rumah Kapolri, ke Wiranto, ke BIN untuk meminta tidak ada lagi kriminalisasi ulama," jelas Kapitra.

"Ada politik hukum di sini. Hukum itu determinasi dari politik. Politik domainnya presiden, tapi hukum ini domainnya penegak hukum. Kekuasaan politik dan hukum di tangan presiden. Presiden memang tidak boleh intervesi tentang hukum tapi presiden boleh memerintahkan aparat berlaku adil dalam penegekan hukum," sambungnya.

Kapitra menerangkan pertemuan antara PA 212 dengan Jokowi sudah atas restu Habib Rizieq.

Sebelum berangkat ke Istana Bogor, Jawa Barat, tambah Kapitra, internal PA 212 pun telah berdiskusi.

"Saya ingin katakan yang ribut-ribut itu yang nggak datang ke pertemuan. Sebelum ke istana, sudah ada pembahasan internal, sudah lapor Habib Rizieq juga. Orang ini ke istana atas restu, izin Habib Rizieq. Sebelum berangkat, lapor dulu ke Habib Rizieq. Jadi bukannya bertindak sendiri," ucap kapitra.

Kapitra kemudian heran sikap emosional PA 212 muncul hanya karena dipicu viralnya foto pertemuan dengan Jokowi. Menurut Kapitra, tidak ada yang perlu ditutup-tutupi dari peristiwa pertemuan itu.

Kapitra melanjutkan, bahkan lebih baik jika umat tahu para ulama telah menjalin komunikasi dengan pemerintah untuk memperjuangkan Islam.

"Jadi permasalahannya ini, sudah dibuka ruang antara ulama dan umara waktu bertemu, tiba-muncul statemet emosional. Kalau diminta diusut penyebar foto, apa yang harus diusut? Foto kan di masjid, masjid banyak orang. Justru dengan disembunyi-sembunyikan ini? memunculkan interpresi yang negatif dari umat. Sekarang ini buyar semua," jelas Kapitra.

"Umat tahu, lebih baik. Artinya tidak ada stagnansi dalam upaya perjuangkan keadilan. Malah umat harus tahu. Kalau dia sembunyi-sembunyi, umat akan berfikir 'ada apa, apa yang terjadi dengan ulama, mengapa ulama sembunyi-sembunyi, kenapa ulama tidak sampaikan pada umat?'. Bisa-bisa muncul fitnah yang justru menyerang ulama itu sendiri," pungkasnya.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...