Kasus COVID-19 di Indonesia Kembali Meningkat, Inikah Penyebabnya?

Rusmanto

Dipublikasikan 7 hari yang lalu • Bacaan 2 Menit

Kasus COVID-19 di Indonesia Kembali Meningkat, Inikah Penyebabnya?
detikcom

Winnetnews.com -  Kasus harian COVID-19 di Indonesia per 22 Juni 2022 tercatat sebanyak 1.985 kasus. Ini menjadi penambahan tertinggi sejak kasus COVID-19 harian yang sempat menurun di bawah 1.000 pada April lalu.

Melihat ini, mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara, Profesor Tjandra Yoga Aditama meminta agar masyarakat lebih waspada lagi.

"Per 22 Juni kemarin tercatat hampir 2.000 kasus baru COVID-19," kata Prof Tjandra dalam pesan yang diterima detikcom pada Kamis (23/6/2022).

"Padahal per 22 Mei kasus baru 227 orang dan 23 Mei 174 orang. Jadi, dalam 1 bulan naik sekitar 10 kali lipat, tinggi sekali dan jelas perlu kewaspadaan," lanjutnya.

Prof Tjandra juga mengungkapkan lima hal yang perlu diwaspadai saat kasus COVID-19 masih melonjak, yakni:

1. Rendahnya Jumlah Tes

"Pertama, jelas COVID-19 masih 'unpredictable', dan rendahnya jumlah test (dan pemeriksaan WGS) akan membuat kita makin sulit menilai perkembangan perangai virus," bebernya.

"Ini juga sebabnya WHO menyebut ada 3 skenario virus di 2022 (base, best, worse), dan kita belum tahu mana yang akan terjadi," ujar dia.

2. Masker Masih Diperlukan

Prof Tjandra mengatakan di situasi kasus COVID-19 yang melonjak lagi, ia menegaskan penggunaan masker terlebih di luar ruangan masih sangat diperlukan. Terutama untuk kelompok yang paling berisiko.

"Ada dua jenis risiko penularan. Pertama, pada mereka yang lansia, komorbid, gangguan imun. Kedua, pada keadaan dimana risiko penularan lebih besar (kerumunan banyak orang, kontak dengan mereka yang bergejala). Tentu prokes secara umum harus jadi perhatian," jelasnya.

3. Surveilans yang Ketat

Hal ketiga adalah upaya surveilans yang ketat dan penyelidikan epidemiologi (PE) di lapangan harus ditingkatkan. Ini dilakukan sebagai bentuk pengendalian kasus COVID-19.

"Kalau bisa semua atau hampir semua kasus baru tersedia data dari mana dan bagaimana sehingga sampai tertular," tutur dia.

4. Vaksinasi Corona

"Keempat adalah vaksinasi lengkap, kita masih 60-an persen (nomor dua terendah di ASEAN, hanya di atas Myanmar), dan booster bahkan masih 23-an persen. Jelas harus ada upaya khusus untuk ditingkatkan," beber Prof Tjandra.

5. Kemunculan Varian BA.4 dan BA.5

Selain itu, Prof Tjandra juga mengatakan hal yang kemungkinan memicu melonjaknya kasus COVID-19 akhir-akhir ini adalah kemunculan BA.4 dan BA.5. Meski subvarian Omicron ini secara umum lebih ringan, beberapa negara melaporkan kasus berat akibat varian tersebut.

"Kelima, sudah ada negara yang melaporkan kenaikan kasus berat yang di rawat di rumah sakit," ungkapnya.

"Jadi, walaupun dianggap BA.5 dan BA.4 ini secara umum lebih ringan, tetapi masyarakat yang akhirnya masuk RS harus terjamin perawatannya. Kita juga belum sepenuhnya tahu tentang ada tidaknya, dampak jangka panjang pada ribuan orang yang di bulan Juni ini sudah tertular COVID-19," pungkasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kasus COVID-19 RI Nyaris 2.000, Eks Petinggi WHO Ungkap 5 'Biang Keroknya'"


 

Share This Story

RELATED ARTICLE

Loading interface...