Kasus First Travel: Kabareskrim Jelaskan Penuturan Para Saksi dan Korban (2)

Zulkarnain Harahap
Zulkarnain Harahap

Kasus First Travel: Kabareskrim Jelaskan Penuturan Para Saksi dan Korban (2) Jamaah yang menjadi korban First Travel saat mendatangi Bareskrim Mabes Polri/Foto: Zool WNN

WinNetNews.com – Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Mabes Polri, memang telah menetapkan Direktur Utama PT. First Anugerah Karya Wisata (First Travel) atas nama Andika Surachman bersama-sama dengan Direktur yang merupakan istri dari Andika yaitu Anniesa Desvitasari Hasibuan dengan pasal berlapis. Penetapan itu, berangkat dari proses penyidikan atas laporan yang dilakukan oleh SH kepada aparat pada Jumat (04/08/2017) silam.

Setelah laporan diterima lalu pada Selasa (08/08/2017), surat perintah penyidikan dikeluarkan. Penyidik kemudian melakukan pemeriksaan sebanyak 33 saksi dan tiga saksi yaitu Andika, Anniesa dan adiknya yang bernama Kiki,” kata Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Pol. Ari Dono Sukmanto di Gedung sementara Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Selasa (22/08/2017).

Dari para saksi yang juga menjadi korban, para penyidik kemudian mendapat fakta bahwa sistem kemitraan melalui pembentukan agen First Travel adalah atas inisiatif PT. First Travel, dimana untuk menjadi agen diwajibkan membayar biaya registrasi sebesar Rp2.500.000

Lalu kenapa kemudian para jamaah menghubungi agen? Penyebabnya karena melihat iklan umroh paket promo di halaman Facebook First Travel yang menyebutkan, untuk pendaftaran adalah melalui agen yang nama dan nomer HP-nya tertera dalam iklan tersebut,” lanjut Ari.

Para saksi juga menuturkan, para jamaah telah melakukan pembayaran lunas sebesar Rp14.300.000 melalui transfer langsung ke rekening PT. First Travel untuk periode keberangkatan yaitu bulan Desember 2016 sampai dengan bulan Mei 2017.

Tapi para jamaah selalu diberikan jadwal yang berubah-ubah, bahkan sebagian jamaah sempat sudah tiba di bandara Soekarno-Hatta, akhirnya dibatalkan karena alasan teknis,” jelas Ari.

Kemudian First Travel mengirimkan surat tertanggal16 April 2017 yang ditandatangani oleh Andika Surachman selaku Presiden Direktur ’First Travel yang menyatakan bahwa perusahaannya akan mencarter pesawat dan diberi nama Paket Charter Pesawat untuk memaksimalkan pemberangkatan bulan Mei - Juni 2017.

Untuk itu jamaah diminta untuk membayar uang tambahan sebesar Rp2.500.000 tapi ternyata meskipun telah membayar uang tambahan tetap saja tidak diberangkatkan,” tutur Ari.

Lalu pada 28 Maret 2017, pihak manajemen ’First Travel’ mengirimkan kembali pesan broadcast di grup telegram para agen yang menerangkan bahwa ada ’’jalur khusus’’ sebanyak 135 pax, dengan catatan, bila ada jamaah yang tidak mau mundur keberangkatannya setelah lebaran haji maka bisa ikut ’’jalur khusus’’ tersebut dengan membayar lagi biaya tambahan sebesar Rp2.500.000.

Tapi tetap saja banyak jamaah yang sudah membayar tetap juga tidak diberangkatkan,” kata Ari.

Kemudian menjelang bulan ramadhan 1438 H, First Travel kembali mengeluarkan Program Paket Ramadhan, bagi jamaah yang ingin berangkat Umroh pada bulan Ramadhan.

Mereka diminta untuk menambah biaya sebesar Rp3.750.000, tapi meskipun jamaah banyak yang membayar biaya tambahan itu, tetap saja tidak diberangkatkan lagi,” jelas Ari.

Hingga akhirnya, pihak Kementerian Agama RI bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan pemeriksaan terhadap First Travel, yang kemudian Ijin Penyelenggara Perjalanan Umroh First Travel dicabut oleh Kemenag RI,” tutur Ari.

Apa Reaksi Kamu?