Skip to main content

Kasus Pembunuhan Pakai Sianida Pernah Terjadi, Pelakunya Dihukum Mati

Kasus Pembunuhan Pakai Sianida Pernah Terjadi, Pelakunya Dihukum Mati
Kasus Pembunuhan Pakai Sianida Pernah Terjadi, Pelakunya Dihukum Mati

WinNetNews.com - Kasus kematian Wayan Mirna Salihin (27) yang diduga diracun dengan zat sianida ternyata bukan hal baru dalam ranah kriminal di tanah air. Pada Januari 2008, di Bali, pernah terjadi kasus serupa yang menelan korban jiwa hingga 4 orang. Keempatnya tewas diracun dengan zat sianida yang dituang dalam kopi.

Kasus yang terjadi di Kabupaten Karangasem, Bali, ini bermula ketika pelaku I Putu Suaka alias Keteg berencana mau membunuh keluarga I Komang Alit Srinata. Perkenalan Putu dan Komang terjadi pada tahun 2002. Komang mengenal Putu sebagai dukun yang bisa menyembuhkan penyakit.

Kala itu, Komang sangat membutuhkan Putu untuk menyembuhkan penyakit anaknya. Untuk membayar jasanya, Putu dijanjikan bayaran Rp 3 juta. Tetapi selama menjadi pasien, janji pembayaran Rp 3 juta itu tak kunjung ditepati. Anak Komang sendiri sudah 5 tahun menjalani pengobatan oleh Putu. Setiap pengobatan, Putu hanya dibayar Rp 50 ribu. Padahal, Komang berjanji akan membayar Rp 3 juta bila anaknya sembuh.

Merasa diingkari janji, Putu pun berniat membunuh keluarga Komang. Hal itu dilakukan Putu pada 26 Januari 2008. Saat itu, Putu disuruh ke rumah Komang untuk mengobati anaknya. Putu pun sudah mempersiapkan bahan-bahan racun salah satunya ialah potasium sebagai bahan untuk sianida.

Setibanya di rumah Komang, Putu meminta Komang untuk membuat 5 gelas kopi. Putu meminta agar kopi yang dibuat Komang dicampur racun sianida, tetapi kepada Komang, Putu tidak menjelaskan bahwa itu adalah racun melainkan obat. Komang pun percaya dan mencampur racun itu ke kopi yang dibikinnya.

Lantas apa yang terjadi? Keluarga Komang yang terdiri dari 4 orang meminum kopi tersebut. Usai minum kopi itu, istri Komang yang bernama Ni Kadek Suti bersama anaknya I Kadek Sugita serta kerabat Komang I Gede Sujana terkapar di lantai dan meregang nyawa.

Dari hasil diagnosa klinik, dinyatakan korban keracunan sianida. "Adapun sebab-sebab kematian para korban yaitu korban adalah keracunan Sianida (sesuai dengan Visum Et Repertum No. KF 30A/R/I/08 tanggal 15 Februari 2008)," tulis pertimbangan hakim dalam putusan tersebut.

Polisi pun langsung menangkap Putu hingga kasus ini berlanjut ke persidangan. Pada 22 September 2008, PN Amlapura menjatuhkan vonis mati kepada Wayan. Putusan itu dikuatkan di tingkat banding. Pada Oktober 2008, Putu tetap divonis mati di Pengadilan Tinggi Denpasar (PT Denpasar).

Tak terima dengan dua vonis itu, Putu mengajukan upaya perlawanan ke tingkat kasasi di MA. Hasilnya? 27 Januari 2009 MA memutus hal yang sama yaitu tetap memnghukum mati. Tak patah semangat, Putu mencoba melakukan upaya Peninjauan Kembali (PK). Hasilnya pun nihil. 20 Juli 2010, MA tetap menyatakan Putu layak dihukum mati.

"Menolak upaya peninjauan kembali yang diajukan oleh pemohon I Putu Suaka alias Keteg," demikian putusan Putu di tingkat PK yang diketok oleh Ketua majelis hakim agung Artidjo Alkotsar.

disadur dari situs detik news

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top