Kebijakan Pemerintah Terapkan Pajak Pertamban Nilai

Kebijakan Pemerintah Terapkan Pajak Pertamban Nilai

Kamis, 21 Jan 2016 | 18:53 | Muchdi

WinNetNews.com -  Kelangkaan daging terjadi merata di hampir semua daerah. Ini dipicu oleh kebijakan pemerintah yang menerapkan pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen.

Para pedagang dan petugas jagal di rumah potong hewan (RPH) protes dan memilih mogok berdagang. Dampak selanjut nya, meskipun tersedia, namun harga daging sapi di sejumlah pasar tradisional di Jabar mengalami kenaikan signifikan. Memasuki minggu ketiga Januari, harga daging sapi impor yang semula berada di kisaran Rp100.000 per kilogram, meroket hingga mencapai Rp120.000-Rp130.000.

Ketua Asosiasi Pengusaha Daging dan Sapi Potong Indonesia (Apdasi) Kota Bandung Endang Mubaroq mengatakan. Sejak Selasa (18/1), sekitar 50 persen pedagang di sejumlah pasar di Kota Bandung sudah berhenti berjualan.

 

Alasannya, mereka takut merugi lantaran konsumen menurun drastis. “Sejak naik kemarin Selasa 20 Januari 2016, para pedagang banyak yang memutuskan beristirahat dulu karena takut merugi. Bahkan yang berjualan normalpun jumlah stoknya dibatasi untuk memperkecil jumlah kerugian. Kalau sedang naik begini, otomatis daya beli masyarakat turun drastis,” kata Endang.

Endang yang juga ber profesi sebagai pedagang sapi merinci, saat mengalami kenaikan seperti saat ini, rata-rata kerugian yang diderita pedagang men capai Rp2 juta per ekor. Ditambah lagi, saat ini pedagang daging di tingkat pengecer juga di kendai pungutan retribusi oleh pihak bandar. Pada minggu pertama dan kedua Januari, para pedagang masih membeli harga sapi di tingkat bandar pada kisaran Rp84.000 per kg.

Per Selasa 18 Januari, muncul peraturan untuk membayar membayar PPn 10 persen per kilogram, sehingga harga daging Rp94.000– 96.000 per kg di ting kat bandar. “Anehnya kami tidak diberi kuitansi bukti pembayaran pajak atau sejenisnya. Makanya, para pedagang mempertanyakan pungutan PPn itu. Karena banyak yang protes, kemarin banyak juga pedagang yang engganmembayar,” tutur dia.

 

Endang mengemukakan, anggota Apdasi Kota Bandung masih melakukan rapat untuk menentukan langkah selanjutnya dalam menyikapi persoalan ini. Namun anggota Apdasi tak akan melakukan aksi mogok berjualan. Tapi hampir 50 persen dari total jumlah pedagang daging yang terdaftar di Apdasi Kota Bandung, berhenti berjualan sementara untuk menghindari kerugian.

“Bayangkan saja, kalau yang sehari memotong 10 ekor, kerugiannya bisa mencapai Rp20 juta akibat harga yang merangkak naik. Kami berharap, para pedagang juga jangan dituding sebagai pihak yang memainkan harga. Soalnya justru kami yang harus menelan kerugian,” tandas Endang.

sumber dari okezone, Jakarta

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...