Kedubes AS di Baghdad Rusak Akibat Serangan Balasan Milisi Syiah Irak
Kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS) dirusak ratusan milisi Syiah Irak, Kamis (2/1) waktu setempat. [Foto: nytimes.com]

Kedubes AS di Baghdad Rusak Akibat Serangan Balasan Milisi Syiah Irak

Kamis, 2 Jan 2020 | 09:45 | Khalied Malvino

Winnetnews.com - Ratusan simpatisan dan anggota milisi Syiah Irak menyerbu gedung Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat (AS) di Baghdad pada Rabu (1/1). Kondisi itu dipicu serangan AS terhadap markas salah satu kelompok milisi Syiah di Irak, Kataib Hizbullah, pada akhir pekan lalu yang menewaskan 25 anggota milisi Syiah.

Seperti dilansir CNNIndonesia.com dari Associated Press (AP), Kamis (2/1), ratusan anggota milisi Syiah Irak tersebut menerobos Kedubes AS setelah sebelumnya melakukan unjuk rasa menentang serangan tersebut sejak Selasa hingga bermalam di luar gedung. Mereka lantas merusak ruang penerimaan tamu serta memecahkan seluruh kaca jendela.

Massa juga mencoret-coret dinding bangunan yang menyatakan mengecam serangan tersebut. Mereka juga sempat melempari batu kepada anggota Korps Marinir AS yang menjaga bangunan tersebut.

Marinir AS lantas menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Dalam bentrokan itu tidak ada korban dari kedua belah pihak.

Massa kemudian dipukul mundur ke arah seberang Sungai Tigris, untuk menjauh dari Zona Hijau. Daerah itu dikenal sebagai pusat gedung pemerintahan Irak dan perwakilan negara sahabat.

AS juga langsung memperketat penjagaan di kedutaan mereka. Bahkan mereka mengutus helikopter serang Apache mengitari gedung dan memantau situasi dari udara.

Akibat kejadian tersebut, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, membatalkan rencana lawatan ke Ukraina dan empat negara lain. Bahkan dilaporkan AS akan mengirim 750 anggota Marinir tambahan sebagai respon atas penyerbuan tersebut.

Akan tetapi, Marinir tersebut saat ini dilaporkan akan dikirim ke Kuwait.

"Kami akan menjamin keamanan warga AS yang berada di Timur Tengah," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Morgan Ortagus.

Organisasi induk para milisi Syiah, Pasukan Mobilisasi Rakyat (PMF), dan sejumlah ulama Syiah setempat lantas mengimbau para anggotanya untuk mundur dari kedutaan AS.

"Setelah mencapai tujuan, kami meninggalkan tempat ini dengan kemenangan. Kami berhasil melempar kotoran ke wajah AS," kata salah satu simpatisan milisi Syiah, Fadhil al-Gezzi.

"Kami tidak takut dengan pesawat yang berputar-putar di langit. Kami juga tidak peduli AS akan mengirim Marinir tambahan ke sini. Justru kebalikannya, hal ini memperlihatkan pemerintah AS mengalami kekalahan secara psikologis," ujar juru bicara Kataib Hizbullah, Mohammed Mohy.

Angkatan Udara Amerika Serikat membombardir sebuah markas Kataib Hizbullah (KH) diduga sebagai pembalasan karena dalam beberapa waktu belakangan markas pasukan gabungan AS-Irak di Negeri 1001 Malam kerap diserang yang diduga didalangi oleh milisi Syiah yang didukung Iran.

Menurut Juru Bicara Kementerian Pertahanan AS (Pentagon), Jonathan Hoffman, serangan itu dilakukan tepat sasaran dan diyakini akan melemahkan kekuatan milisi KH. Menteri Pertahanan AS, Mark Esper, dilaporkan terlebih dulu meminta restu Presiden Donald Trump sebelum menggelar serangan tersebut.

Menurut Hoffman, milisi KH diduga mendapat pasokan senjata dan amunisi dari satuan tempur elite Iran, Pasukan Quds. Hal ini adalah buntut perseteruan antara AS dan Iran.

AS memutuskan menarik diri dari perjanjian nuklir 2015 (Joint Comprehensive Plan Of Action) dan kembali menjatuhkan serangkaian sanksi kepada Iran. Alasannya adalah terus melanjutkan proyek pengembangan rudal dan diduga terlibat dalam sejumlah peperangan, seperti Suriah dan Yaman.

Bahkan AS memasukkan korps prajurit elite Iran, Korps Garda Revolusi (IRGC), ke dalam daftar teroris. Iran yang mempunyai sejumlah sekutu milisi di Timur Tengah diduga menargetkan pasukan AS yang berada di Irak sebagai aksi balasan.

Kondisi Irak selama beberapa bulan belakangan juga bergejolak akibat aksi unjuk rasa menentang pemerintahan Perdana Menteri Adel Abdul-Mahdi. Penyebabnya adalah diduga kuat pemerintahan Adel sarat korupsi dan tingkat kemiskinan serta pengangguran yang tinggi.

Di sisi lain, rasa sentimen anti-Iran di antara warga Irak juga kembali menguat. Mereka menganggap Adel terlalu merapat kepada Iran dan menyebabkan negara itu morat-marit dalam bidang ekonomi. [cnn]

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...