Kegagalan Timnas Indonesia Adalah Kesalahan Kita
Timnas Indonesia U-23

Kegagalan Timnas Indonesia Adalah Kesalahan Kita

Senin, 25 Mar 2019 | 16:00 | Daniel

Winnetnews.com - Kegagalan Timnas Indonesia U-23 melaju ke babak utama Piala Asia U-23 2020 dipastikan usai menenggak kekalahan 0-1 dari Vietnam di laga kedua yang berlangsung Minggu (24/3). Kekalahan tersebut merupakan yang kedua, setelah di laga perdana dipermak Thailand 0-4.

Kegagalan Timnas U-23 melaju ke babak utama Piala Asia 2020 semakin menahbiskan status Indonesia sebagai tim spesialis kompetisi Asia Tenggara. Level Indonesia memang patut diakui belum beranjak dari kelas ASEAN.

Pada Februari tahun ini sebenarnya Timnas U-23 sukses memenangkan gelar Piala AFF U-23 untuk kali pertama dalam sejarah. Momentum dari kejuaraan tersebut diharapkan bisa menular ke kualifikasi Piala Asia U-23 kali ini, apalagi materi pemain juga kurang lebih serupa.

Namun kenyataannya Garuda Muda malah tidak berdaya. Dari dua laga yang dilangsungkan, skuad arahan Indra Sjafri tersebut bahkan belum sama sekali mencetak gol ke gawang lawan. Alih-alih gawang Indonesia sudah kebobolan lima gol. Lantas apa yang salah?

Mari kita lihat Thailand, negara yang memang layak untuk dijadikan patokan untuk urusan sepak bola ASEAN. Ketika Thailand gagal di kejuaraan U-23 atau U-16 di kawasan ASEAN, bukan berarti mereka tak memperhatikan kualitas pemain muda mereka.

Justru Thailand memang tidak memprioritaskan kejuaraan level di bawah umur, karena ajang tersebut untuk mereka hanya sebatas mengasah mental bertanding para pemain muda. Ketika mereka sudah sukses di semua level umur di kawasan ASEAN, mereka terus bergerak maju, membidik target yang lebih tinggi. Asia Tenggara jelas sudah bukan jadi target tim sekelas Thailand. 

Meski hanya menganggap kompetisi Asia Tenggara hanya sebagai ajang pemanasan, toh mereka masih mampu berbicara banyak. Minimal babak final selalu jadi jaminan. Hal itu tidak lepas dari pembinaan pemain dan kompetisi yang berjalan dengan baik.

Kompetisi domestik yakni Liga Thailand (Thai League) merupakan salah satu kompetisi terbaik yang ada di Asia Tenggara. Dengan organisasi yang dikelola dengan benar dan kompetisi yang berjalan dengan lancar, maka kualitas dan level kompetitif pemain akan tetap terjaga dan terasah.

Ketika kualitas dan mental sudah terjaga, maka hal itu otomatis akan berpengaruh pada kualitas dari skuad tim nasional. Mental cepat puas juga sebenarnya jadi batu sandungan, dan jadi faktor mengapa sepak bola Indonesia mandek di level Asia Tenggara. Bukan hanya pemain, tapi juga kita sebagai masyarakat Indonesia yang kelewat mengelu-elukan prestasi timnas.

Dulu ketika Timnas U-19 jadi juara ASEAN pada 2013, euforia merebak di seantero negeri. Namun sejak itu kita bagaikan tersangkut pada perasaan puas dengan hanya memenangkan kompetisi di bawah umur sampai sekarang. Tidak bisa dimungkiri, peran media dalam mem-blow up secara berlebihan kemenangan timnas baik itu U-16 dan U-23 turut andil dalam terpupuknya mental cepat puas tersebut. Kita yang mendukung, tapi secara tidak langsung kita juga yang "mematikan" mental timnas.

Hingga kini kita sudah berjaya di level U-16 dan U-23 di Asia Tenggara. Namun apalagi setelah itu? Kemenangan dan segala euforia itu tidak kemana-mana. Buktinya timnas level senior kita hingga kini toh masih segitu-segitu saja bukan? Harapan selalu ada untuk timnas kita. Akan tetapi pertanyaannya sekarang mau sampai kapan kita hanya menatap harapan tersebut?

 

 

 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...