Keindahan Lingkungan yang Terganggu Akibat Sampah Plastik
Sampah plastik di lautan terus menjadi masalah yang serius. [Foto: Shutterstock]

Keindahan Lingkungan yang Terganggu Akibat Sampah Plastik

Kamis, 28 Nov 2019 | 11:35 | Bella Andini

Winnetnews.com - Lingkungan yang bersih dan indah akan terasa enak untuk di pandang dan akan membuat kenyamanan tersendiri bagi orang yang berada di tempat itu. Lingkungan yang indah juga akan memunculkan hasrat anak muda atau dari berbagai kalangan  untuk mengambil foto seperti di pantai, jika pantai terlihat bersih tidak ada sampah, maka mereka akan berfoto di pantai itu. Sebaliknya, jika tidak bersih mereka malas untuk berfoto karena sampah akan menurangi keindahan dari foto tersebut yang mana akan dibagikan ke media sosial untuk kepentingan konten yang sangat diperhatikan.Tetapi sekarang ini sudah sedikit sulit ditemui di berbagai tempat karena masalah sampah yang bertebaran di tempat-tempat yang seharusnya bersih dan indah.

Sekarang ini lingkungan membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah ataupun masyarakat sekitar yang membuang sampah di sembarang tempat, dan pengunaan plastik yang berlebihan sampai penggunaan plastik sebagai keperluan sehari-hari. Sampah plastik menjadi permasalahan yang tidak kunjung usai meskipun sudah ditangani dan dibahas terus menerus dan tetap hasilnya sama.

Kurangnya sosialisasi terhadap peraturan pemerintah tentang sampah sampai saat ini masih jadi omongan belaka yang mana implementasinya tidak sesuai dengan apa yang sudah ada dan ada peraturan bahwa membuang sampah sembarangan akan dikenakan denda sebesar  Rp 500.000.- tetapi tetap saja masih banyak orang yang membuang sampah plastik. Akibat kurangnya sosialisasi dari pemerintah terhadap peraturan tersebut akhirnya banyak masyarakat yang belum tahu  mengenai peraturan membuang sampah sembarangan yang akan di kenakan denda dan akhirnya tidak mengikuti regulai tersebut.

“Setahun itu di Indonesia kurang lebih 65 juta ton sampah dihasilkan. Itu emang semakin naik terus bisa jadi karena pola konsumsi gaya hidup dan sebagainya” ujar Novrizal Tahar Direktur Pengelolaan Sampah Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, saat diwawancarai pada salah satu media di Indonesia. Dan menurut data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) jumlah total sampah plastik di Indonesia pada 2019 diperkirakan mencapai 9,52 juta ton atau 14% dari total sampah.

Untuk mengapresiasi dalam menjaga lingkungan pemerintah mempunyai penghargaan yaitu Pengahargaan Adiwiyata adalah penghargaan yang diberikan kepada sekolah-sekolah yang dinilai berhasil mendidik siswa menjadi individu yang bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Seperti contoh SMAN 26 Tebet Jakarta Selatan para siswa sudah diharuskan membawa tempat makanan mereka sendiri dan sudah ada aturan yang melarang untuk menjual makanan atau minuman yang menggunakan bahan plastik atau styrofoam.

Di daerah Serang Banteng sejumlah pemuda sekitar Kelurahan Banjar Agung, Cipocok Jaya mengolah sampah plastik menjadi BBM. Untuk 100 kg sampah plastik menjadi 10 Liter BBM. Hasil limbah sampah plastik hasil olahan tersebut dibagi menjadi 3 yakni 50% jenis solar, 5% jenis minyak tanah, dan sebagian lainnya adalah bensin. 

“Bersama teman-teman pengurus bank sampah, sampah plastik bisa dijadikan bbm. Kita coba mungkin terbentuk dua minggu bank sampah alhamdulillah uji coba kita berhasil jadi BBM” ujar Lukman Hakim Ketua Pokja Bank Sampah Genpilar saat di wawancarai di salah satu stasiun TV.

Sampah plastik yang banyak ditemui di lingkungan yang berakibat pada ketidakindahan lingkungan masih banyak di temukan dan salah satu organisasi peduli lingkungan menuturkan “Ada banyak ada styrofoam, plastik kiloan yang banyak dijumpai di sekolah dasar, sekarang banyak banget minuman-minuman gerai yang menggunakan plastik dan itu sangat merusak lingkungan sekitar karena itu hanya di minum sekali dan langsung buang.” tutur Dea selaku Project Koordinator Kertabumi Kliniksampah. Untuk styrofoam sendiri Kertabumi mengatakan “Kita Kertabumi masih bingung styrofoam sendiri buat dijadiin apa” lanjutnya.

Adapun komponen untuk menunjang keperluan sehari-hari yang sebelumnya menggunakan plastik sekarang bisa digantikan dengan bahan yang lebih ramah lingkungan seperti sedotan plastik digantikan dengan stainless straw ataupun sedotan bambu, botol plastik digantikan dengan botol air stainless steel atau botol kaca, gosok gigi yang biasa kita pakai sehari-hari yang menggunakan plastik juga bisa digantikan dengan gosok gigi bambu hingga sendok yang biasanya dipakai bisa diganti dengan sendok kayu dan untuk kebutuhan wajib bulanan para wanita seperti halnya pembalut sekarang bisa mengunakan pembalut yang ramah lingkungan yaitu pembalut katun.

Tanpa didaur ulang sampah plastik mencemari lingkungan dan akan menyebabkan lingkungan sekitar menjadi tidak enak dilihat ataupun dinikmati dan  bagi orang yang ingin menikmati lingkungan pasti akan merasa terganggu akibat pencemaran tersebut. Maka dari itu kurangi penggunaan sampah plastik untuk menjaga kelestarian alam dan  keindahan lingkungan.

***

 


Bella Andini adalah mahasiswa disalah satu universitas swasta di Jakarta. Dia sedang menjalankan kampanye tentang keindahan lingkungan untuk memberi penjelasan kepada masyarakat agar mengurangi sampah plastik yang akan menyebabkan hal buruk terjadi untuk kedepannya. Sejak SMA ia pernah melakukan penghijauan untuk lingkungan maka dari itu sampai sekarang masih melekat di jiwanya untuk tetap menjaga lingkungan agar tidak rusak.

 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...