Skip to main content

Kejagung Bocorkan Waktu Eksekusi Mati Gelombang III

Kejagung Bocorkan Waktu Eksekusi Mati Gelombang III
Kejagung Bocorkan Waktu Eksekusi Mati Gelombang III

WinNetNews.com - Jaksa Agung HM Prasetyo membocorkan estimasi waktu eksekusi mati gelombang III sebagai lanjutan eksekusi mati sebelumnya di tahun 2015. Namun Prasetyo masih merahasiakan nama-nama yang akan dieksekusi, termasuk kualifikasi tindak pidananya.

Alasan cuaca memang menjadi kendala pada proses eksekusi mati. Sebagaimana eksekusi mati 2015 lalu yang digelar dua kali yaitu pada Januari dan akhir April 2015. Eksekusi mati digelar di tengah hujan lebat, baik di Nusakambangan atau tempat lainnya. WN Vientam, Tran Thi Bich Hanh dieksekusi mati di tengah hujan di Boyolali.

Dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan DPR tentang pelaksanaan eksekusi mati, Prasetyo menyatakan hasil evaluasi eksekusi mati dimana hujan menjadi kendala serius dalam pelaksanaan teknis eksekusi mati itu.

Jika dihitung-hitung bulan, maka musim hujan akan mulai reda bulan ini dan memasuki musim kemarau bulan Mei. Sedangkan bulan Juni-Juli tidak memungkinkan karena sudah memasuki bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Adha.

Maka kemungkinan terbesar eksekusi mati akan digelar pada Mei atau Agustus 2016. Namun siapa saja yang akan dieksekusi mati, Prasetyo masih merahasiakan. Apakah khusus dari kasus narkoba sebagaimana eksekusi mati 2015 lalu, atau ada kasus pembunuhan berencana yang ikut dieksekusi mati.

Salah satu terpidana yang layak untuk segera dieksekusi mati adalah komplotan 'Tangerang Nine'. Sembilan orang yang dihukum mati itu membangun pabrik terbesar ketiga di dunia pada 2004-2005. Sembilan orang dijatuhi hukuman mati, yaitu:

1. Benny Sudrajat alias Tandi Winardi

2. Iming Santoso alias Budhi Cipto

3. WN China Zhang Manquan

4. WN China Chen Hongxin

5. WN China Jian Yuxin

6. WN China Gan Chunyi

7. WN China Zhu Xuxiong

8. Nicolaas Garnick Josephus Gerardus alias Dick

9. WN Prancis Serge Areski Atlaoui.

Benny yang juga Ketua 'Tangerang Nine' tidak kapok meski dihukum mati. Ia di LP Pasir Putih, Nusakambangan, kembali asyik mengendalikan pembangunan pabrik narkoba di Pamulang, Cianjur dan Tamansari.

Ia memanfaatkan dua anaknya yang masih bebas. Benny lalu diadili lagi oleh pengadilan dan karena sudah dihukum mati maka ia divonis nihil.

Adapun Serge lolos dari peluru tim eksekutor 2015 karena mengajukan upaya hukum. Serge merupakan teknisi pabrik narkoba yang telah berulang kali keluar masuk Belanda-Indonesia.

Nama Freddy Budiman juga layak masuk daftar tereksekusi mati karena merupakan residivis dan memiliki jaringan narkoba internasional hingga bisa membangun pabrik narkoba di dalam penjara. Tetapi Freddy cukup licik karena dikabarkan sedang berusaha mengajukan peninjauan kembali (PK) guna menunda eksekusi mati.

Di kasus pembunuhan, nama Ryan dan Babeh juga bisa jadi nominator nama teratas untuk dihukum mati. Ryan merupakan pembunuh berantai dengan korban 11 orang, satu korban terakhir dimutilasi. Adapun Babeh merupakan predator anak yang menyodomi dan memutilasi 14 anak-anak di kawasan Jakarta Timur.

Pada eksekusi mati 2015, muncul kekhawatiran beberapa pihak bahwa eksekusi mati itu akan berdampak terhadap sektor lain di Indonesia. Termasuk ancaman Australia yang akan memboikot Bali jika Andrew Chan-Myuran Sukumaran dieksekusi mati.

Tetapi hal itu tidak terbukti sebagaimana ditunjukkan grafik kunjungan wisata dari turis mancanegara ke Indonesia terus meningkat. Dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS), data kunjungan wisman ke Indonesia untuk bulan Februari 2016. Angkanya mencapai 888,3 ribu kunjungan, naik sekitar 5,26% dibanding Februari 2015.

Di sisi lain, gempuran narkoba terus bertubi-tubi hingga menyasar LP-LP di Indonesia. Para gembong tidak takut mengendalikan jaringannya meski sudah meringkuk di dalam LP.

disadur dari situs detik news

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top