(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kejujuran Driver Go-Jek Bernama Narjo ini Patut Ditiru

Rani
Rani

Kejujuran Driver Go-Jek Bernama Narjo ini Patut Ditiru

WinNetNews.com - Di zaman ini kejujuran dinilai sebagai sesuatu yang sangatlah berharga. Semakin hari semakin sedikit orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran.

Satu kisah kejujuran tukang ojek ini patut ditiru oleh masyarakat. Dilansir dari situs detik, seorang driver Go-jek bernama Nurjo kini tengah ramai diperbincangkan oleh publik, karena aksinya mengembalikan uang kembalian penumpangnya yang salah hitung.

image0

Itu uang bukan hak kita," kata Nurjo, driver Go-jek yang ramai dibincangkan media sosial. Nurjo beberapa hari ini mendapat pujian karena mengembalikan uang kembalian yang salah hitung.

Uang yang dikembalikan mungkin kecil Rp 9 ribu, tapi langkah kecilnya itu menjadi contoh besar. Kejujuran adalah hal yang penting.

Nurjo menuturkan peristiwa pengembalian uang itu terjadi pada Jumat (25/12) pagi. Saat itu ada seorang remaja yang membeli pesanan makanan lewat Go-Jek. Nah, total uang yang dibelanjakan Rp 40.700 plus ongkos Go-Jek Rp 10 ribu. Total biaya Rp 50.700.

Remaja yang juga putra pengamat politik Philip Jusario Vermonte itu memberikan uang pembayaran Rp 100 ribu. Kemudian setelah itu, remaja tersebut meminta pengembalian uang Rp 40.300.

 

Nurjo memberikan uang itu. Tak lama, setelah beberapa saat pergi dia merasa ada yang janggal. Dia lokasi dia nongkrong menunggu penumpang, dia menghitung lagi dan ternyata kurang Rp 9 ribu.

image1

"Saya kembali lagi ke Bintaro sektor 9, ke rumah anak itu. Tapi anaknya nggak ada, ya udah saya titip ke satpam sama hitungan makanannya," terang pria yang juga menjadi satpam di perumahan ini.

Nurjo mengaku, kemudian dia pamit pergi dan tak lama, entah dari mana tahunya ada wartawan meneleponnya menanyakan soal kejujurannya.

"Saya nggak tahu itu bagaimana bisa pada tahu. Saya cuma merasa kalau uang itu bukan hak saya," ujar ayah dari tiga anak ini. Daftar hitung-hitungan Nurjo memang menyebar di media sosial.

Sebagai seorang tukang ojek, dia merasa hal yang dilakukannya adalah hal biasa. Bagi dia, demikian juga yang ditularkan ke anak-anaknya, kejujuran adalah bekal hidup.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});