Kekerasan Terhadap Topeng Monyet

Oky
Oky

Kekerasan Terhadap Topeng Monyet Sumber Foto : Istimewa

Winnetnews.com - Dimasa lalu, aksi topeng monyet sangat populer dan orang-orang tertarik untuk menyaksikan pertuunjukan tersebut. Tapi sekarang, yang kita ketahui, nilai budaya yang berlaku di masyarakat tidak bersifat statis. Perubahan sosial dalam masyarakat membawa nilai-nilai budaya baru. Perubahan ini terjadi sebagai akibat dari era globalisasi yang ditandai oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemajuan dalam komunikasi, dan transportasi.

kita mulai jarang melihat aksi mereka. Seperti yang kia ketahui juga seiring berjalannya waktu, mata pencaharian dimasyarakat sangatlah beragam. Dari kalangan atas, menengah maupun kalangan yang kurang mampu. Terutama untuk kalangan yang kurang mampu, selain menggantungkan diri dengan bermata pencaharian mengamen setiap hari, ataupun meminta sedekah yang kadang tidak semua orang menghiraukan. Mereka mempunyai mata pencaharian lain yaitu dengan melakukan pertunjukan topeng monyet, dimana mereka merasa pendapatan dari topeng monyet tersebut lebih banyak dibandingkan dengan mereka mengamen maupun meminta sedekah dari orang-orang.

Topeng monyet selama ini dikenal masyarakat sebagai sebuah atraksi menghibur. Tanpa diketahui masyarakat umum, bahwa dibelakang atraksi tersebut terdapat suatu kekerasan terhadap satwa. Bahkan topeng monyet sangat berpotensi terhadap meningkatnya kepunahan jenis satwa di Indonesia.

Topeng monyet menjadi salah satu pekerjaan fenomenal yang ada di Indonesia. Monyet tersebut kebanyakan diambil dari Lampung, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tanpa mengantongi sertifikat legal, monyet itupun dijual bebas dan dibeli oleh pelaku topeng monyet dan pelaku kejahatan lainnya.

Diketahui bahwa topeng monyet adalah suatu isu kesejahteraan hewan yang belum tuntas sampai sekarang. Atraksi tersebut mempertontonkan aspek kekejaman dan kesadisan terhadap satwa. Pertunjukan topeng monyet biasanya dilakukan secara berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lainnya dan monyet yang melakukan atraksi-atraksi ini diiringi dengan musik yang dimainkan oleh satu atau beberapa orang. Musik yang dimainkan biasanya berupa gendang kecil yang dimainkan dengan satu tangan dan tangan yang lainnya memegang tali pengikat monyet.

Setiap negara memiliki kebudayaan yang berbeda. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta yaitu hal yang berkaitan dengan akal budi manusia. Budaya merupakan suatu cara hidup yang di jalankan oleh sekelompok manusia secara turun menurun.

Topeng Monyet merupakan salah satu tradisi di kebudayaan negara indonesia, terutama sangat dikenal di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kalau dijakarta atraksi ini di kenal dengan nama Topeng Monyet, sedangkan di daerah Jawa di kenal sebagai Ledhek Kethek. kesenian ini melibatkan monyet yang dilatih untuk melakukan suatu kegiatan yang biasa dilakukan manusia pada umumnya. Monyet-monyet yang bertingkah laku layaknya manusia sangat terlihat lucu dan menarik, apalagi dengan diiringi oleh musik yang membuat pertunjukan topeng monyet ini begitu ramai. Kita bisa lihat sendiri betapa lihainya mereka dalam melakukan berbagai atraksi seperti naik motor-motoran, jungkir balik, memakai topeng boneka. Biasanya pertunjukan topeng monyet ini dilakukan secara berkeliling dari satu tempat ketempat yang lain. Topeng monyet pun saat ini banyak ditemui di perempatan jalan kota.

Untuk mencari asal-usul topeng monyet ini memang belum ada literature resmi yang membahas asal-usulnya. Menurut beberapa sumber, topeng monyet sudah ada sejak awal abad ke-19, Matthew Isaac Cohen seorang professor budaya teater Indonesia dari Royal Holoway University of London, menyebutkan topeng monyet sebagai pertujukan yang menampilkan monyet dan anjing yang direproduksi Indonesia. Miniature sirkus ini merupakan salah satu hiburan paling popular di pasar-pasar, jalan pedesaan, dan perkotaan di seluruh barat Indonesia. Pertunjukan ini menjadi menjadi umum pada awal 1890-an.

Atraksi topeng monyet sangat menjadi hiburan yang terjangkau bagi warga di Jakarta. Penonton topeng monyet kebanyakan anak-anak karena itu kadatangan topeng monyet selalu disambut gembira oleh mereka. Kegembiraan anak-anak ini menjadi rezeki bagi rombongan topeng monyet, uang saweran dari warga merupakan sumber nafkah mereka menghidupi keluarga.

Dibalik dari perilaku monyet yang atraktif dan hebat ini, ada banyak derita yang dialami olehnya terkadang monyet-monyet itu tidak dirawat dengan baik. Kebanyakan dari monyet-monyet tersebut dilatih secara kasar dan tidak wajar untuk dapat melakukan atraksi yang bisa menarik perhatian dijalan. Monyet tersebut disiksa dengan alasan agar mereka cepat bisa melakukan atraksi sesuai dengan apa yang pawangnya perintahkan. Tidak jarang mereka dipukul ataupun disayat dengan kater atau silet, apabila monyet itu nakal maka mereka akan lebih disiksa oleh pawangnya.

Agar bisa berjalan tegak, tangan monyet diikat ke belakang, digantung dan dipaksa duduk berjam-jam di jalanan. Monyet yang tidak kuat dalam pelatihan yang penuh dengan kekerasan ini dapat mengalami kematian, bila salah satu dari monyetnya mati akibat kekerasan pemiliknya biasanya mempunyai monyet cadangan. Monyet-monyet malang ini juga kadang tidak diberi makan selayaknya dan cara pawangnya mengikat monyet-monyet ini agar tidak lepas sangat menyedihkan, mereka diikat dengan rantai besi dibagian leher sambil digantung. Cuaca pun tidak menjadi alasan untuk para pawang memberikan kandang atau rumah yang layak bagi mereka. Tidak jarang mereka memiliki kondisi fisik yang buruk.

Dengan alasan mencari uang, mereka tetap memperkerjakan monyet-monyet tersebut tak peduli kondisi fisik monyet itu seperti apa. Monyet-monyet itu telah mengalami trauma akibat dieksploitasi oleh pemiliknya selama bertahun-tahun. Trauma ini menyebabkan hewan-hewan liar itu kesulitan untuk beradaptasi kembali dengan habitatnya.

Jenis monyet yang digunakan dalam pertunjukan topeng monyet ini biasanya spesies Macaca Fascicularis atau biasa disebut juga “Crab Eating Monkey” atau “Long Tailed Monkey” ditiap kelompok hiburan topeng monyet khususnya di Bandung memiliki jenis-jenis monyet tersendiri mulai dari jenis monyet Bali, Kuncung, Siamang, Sioa, dan monyet batu umumnya yang lebih banyak digunakan yaitu monyet Bali karena punya tingkat kelincahan yang baik dan cepat nurut. Monyet ekor panjang merupakan monyet kecil yang berwarna coklat dengan perut agak putih terutama pada mukanya. Monyet untuk atraksi topeng monyet ini biasanya berusia muda sekitar delapan atau sembilan bulan.

Monyet adalah binatang hutan yang tidak boleh dimiliki perseorangan apalagi di perjual belikan. Salah satu alasan mengapa sangat banyak monyet yang ada di jalanan adalah karena harga monyet bisa dikatakan murah dan terjangkau. Oleh karena itu, banyak sekali masyarakat yang membeli monyet dengan mudah lalu mereka jual belikan kembali atau mereka jadikan sebagai “mesin uang” dengan cara menjual atraksi mereka di jalanan.

Pertunjukkan topeng monyet kini terancam hilang dari peredaran karna banyak kontroversi. Derasnya isu sosial tentang pelarangan topeng monyet mulai bergema beberapa tahun belakangan. Para pecinta hewan mulai menilai satwa liar memang tidak bisa dimiliki dan dieksploitasi untuk kepentingan manusia dan harus diberikan kesempatan untuk memperoleh kesejahteraan. Pertunjukan seekor monyet yang beratraksi mengikuti instruksi seorang pawang dan diiringi suara musik gamelan, cukup menghibur. Hanya saja permasalahannya adalah cara melatih monyet tersebut. 

Alasan mengapa topeng monyet dihentikan adalah soal kesejahteraan satwa. Kesejahteraan satwa meliputi hak untuk hidup bebas, hak bebas dari penyakit, dan sebagainya. Monyet yang dijadikan obyek atraksi topeng monyet ini kehilangan kesejahteraan. Salah satu buktinya adalah, monyet ditempatkan di dalam kandang yang ukurannya sangat kecil 30 x 40 x 40 cm. Dengan kandang sekecil itu monyet mengalami stres. Stres membuat monyet lebih rentan terkena penyakit.

Di samping eksploitasi hewan tersebut, ancaman bahaya untuk para penonton topeng monyet juga mengakibatkan kotroversi antara masyarakat umum. Dengan kuku dan gigi yang tajam, kera topeng monyet bisa mencakar atau menggigit penonton. Selain luka fisik, orang yang tergigit dapat terkena penyakit menular. Menurut penelitian dari Pusat Penelitian Primata di University of Washington, sekitar setengah dari kera-kera di Jakarta membawa Simian Foamy Virus (SFV)

Mulai tahun 2014, topeng monyet telah di razia dan polisi berupaya untuk menyita semua topeng monyet yang ada di Jakarta dari tangan pemiliknya pindah ke Taman Margasatwa Ragunan untuk dirawat. Razia terhadap topeng monyet ini memang akan dirugikan. Namun, yang lebih penting saat ini adalah kepentingan Publik Jakarta secara luas. Publik Jakarta mesti sadar akan resiko topeng monyet dan isu lingkungan terkaitnya. Diperkirakan ada 300 ekor monyet di jakarta dan sekitarnya yang di eksploitasi menjadi pemain sirkus jalanan oleh pemiliknya.

Tukang topeng monyet yang terkena razia dan penyitaan akan diberi pembinaan sebanyak Rp 1 juta per monyet yang disita sebagai uang ganti rugi. Namun, kebijakan ini mendapat kritikan karena ada banyak masalah yang dianggap lebih penting di Jakarta, misalnya anak jalanan, banjir, dan macet. Apalagi banyak pawang monyet yang terkena pengganguran karena monyetnya disita walaupun peraturan baru berhasil  baik untuk monyet, namun tindakan itu merusak mata pencaharian pemiliknya. Disisi lain, terdapat isu budaya. Topeng monyet dianggap sebagai salah satu seni budaya yang harus tetap di indonesia. Banyak orang indonesia yang mengekspresikan pendapat mereka terhadap soal ini melalui media sosial. Nampaknya, selalu ada pro dan kontra yang mengiringi pelarangan topeng monyet ini.

Selain dari kurangnya efek jera yang diberlakukan oleh perundang-undangan di Indonesia, pengimplementasikan tindak pidana dalam lapangan tidak selalu diterapkan. Budaya sogok menyogok ataupun hati nurani yang tidak lagi peka menutup mata kebanyakan orang bahwa undang-undang seperti ini sebenarnya ada. Oleh karena itu, penghapusan topeng monyet tidak menjadi prioritas utama. Apalagi, penghapusan topeng monyet di Jakarta saja telah menyebabkan pelatih monyet untuk pindah ke kota lain karena pelarangan topeng monyet hanya berlaku di Jakarta.

 

Ditulis oleh Sherley Francisca

Mahasiswa London School of Public Relations

Apa Reaksi Kamu?