Kembali Berkuasanya PKL Diatas Trotoar Jakarta
Sumber : Istimewa

Kembali Berkuasanya PKL Diatas Trotoar Jakarta

Selasa, 20 Feb 2018 | 17:04 | Oky

Winnetnews.com - Sejak Pedagang Kaki Lima (PKL) diberikan kesempatan berdagang di jalan dan trotoar di kawasan Jalan Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta Pusat, perlahan-lahan trotoar di Jakarta mulai dikuasai PKL kembali. Sehingga hak pejalan kaki berjalan dengan nyaman dan aman di trotoar terenggut.

Sarana pejalan kaki tersebut kini berubah layaknya restoran pinggir jalan. Pasalnya bukan hanya gerobak, namun pedagang juga membuka meja dan kursi untuk pembeli.

Berdasarkan pantauan, terlihat di sepanjang Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat. Hampir seluruh trotoar di sepanjang dua jalan tersebut telah berubah menjadi tempat makan atau restoran. Meja dan kursi terjejer di sepanjang sarana umum itu.

Aktivis Koalisi Pejalan Kaki, Ahmad Safrudin mengungkapkan kondisi kembalinya trotoar dikuasai oleh PKL dikarenakan adanya sindroma dari tindakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI yang mengizinkan PKL berjualan di jalan maupun trotoar di Jalan Jatibaru Raya, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

“Kondisi yang terjadi di trotoar Jakarta yang dipenuhi kembali oleh PKL, merupakan sindrom dari PKL Tanah Abang. Mereka seakan diberikan angin segar untuk berjualan di mana saja. Termasuk di luar kawasan Tanah Abang. Ini terbukti dengan maraknya PKL berjualan di hampir seluruh trotoar Jakarta,” kata Ahmad ketika dihubungi wartawan, Senin (19/2).

Ahmad sangat menyesalkan kebijakan ini dilakukan oleh Gubernur DKI Anies Baswedan. Karena kebijakannya tersebut, kini pejalan kaki tidak nyaman lagi berjalan kaki di trotoar. Padahal, selama ini, pejalan kaki sudah merasa sangat nyaman berjalan kaki.

Apalagi dengan dilakukannya program revitalisasi trotoar yang gencar dilakukan Pemprov DKI pada periode gubernur sebelumnya. Dalam program ini, trotoar-trotoar di Jakarta diperlebar dan dibersihkan dari keberadaan PKL.

“Trotoar di Jakarta dibuat senyaman mungkin bagi pejalan kaki. Diberikan tempat duduk, ada pohon rindang, dan juga lebar. Itu dulu. Sekarang kenyataanya, trotoar kembali dijarah. Hak kami sebagai pejalan kaki direnggut,” ujarnya.

Padahal, lanjutnya, revitalisasi trotoar dilakukan dengan anggaran yang cukup besar hingga miliaran rupiah. Dengan adanya PKL menguasai kembali trotoar sepertinya sia-sia saja revitalisasi trotoar dilakukan.

“Seakan-akan revitalisasi trotoar dilakukan bukan untuk membuat nyaman pejalan kaki, tetapi membuat nyaman PKL,” ungkapnya.

Ditempat terpisah, anggota DPRD DKI, Sereida Tambunan mendesak Pemprov DKI lebih intensif melakukan penindakan terhadap pelanggar trotoar, terutama dalam pelaksanaan program Bulan Tertib Trotoar yang harus terus dilakukan.

“Seharusnya, Pemprov DKI memberikan tempat yang layak, baik bagi PKL maupun pejalan kaki,” kata Sereida.

Diungkapkannya, dalam dua tahun terakhir perbaikan trotoar telah dilakukan secara massif. Tahun lalu anggaran sebesar Rp 412 miliar dikucukrkan untuk perbaikan trotoar dalam APBD DKI 2017.

“Uang rakyat tersebut digunakan untuk menjadi trotoar yang ideal untuk pejalan kaki. Dengan memiliki lebar 1,5 meter dan dilengkapi ubin pemandu penyandang disabilitas yang biasanya berwarna kuning, dan harus dilengkapi penerangan, kursi, serta tanaman,” jelasnya.

Di tahun 2016, pembenahan trotoar telah lebih dulu dilakukan di Jalan Jatibaru, kawasan Blok M, Pluit Karang, dan di Rawamangun. Sementara di tahun 2017, perbaikan trotoar telah rampung dilakukan di kawasan Masjid Istiqlal, di kawasan Kota Tua hingga Sunter. Kemudian trotoar di Jalan Jatinegara Barat, Jalan Jatinegara Timur, dan Jalan Bekasi Raya. Serta trotoar di Jalan Mahakam dan Barito.

Adapun panjang trotoar di Jakarta sama dengan panjang jalan Jakarta yakni 2.600 kilometer.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...