Kenali Cara Menyembuhkan Trauma Pelecehan Seksual
via Market Watch

Kenali Cara Menyembuhkan Trauma Pelecehan Seksual

Senin, 23 Des 2019 | 17:15 | M. Fernanda Zul Adli

Winnetnews.com - Maraknya peristiwa pelecehan seksual yang terjadi di ibukota bukanlah hal patut untuk tidak diindahkan bagi banyak orang. Pelecehan seksual sendiri merupakan tindakan atau perilaku yang tanpa disadari terjadi di tempat umum maupun tempat khusus. Seperti, lingkungan pendidikan, lingkungan pekerjaan, sarana transportasi, bahkan lingkungan  pribadi seperti rumah. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang harus didiamkan begitu saja. Dalam peristiwa pelecehan seksual biasanya terdiri dari 10 persen kata – kata (verbal), 10 persen intonasi yang menunjukkan pelecehan dan 80 persen merupakan tindakan non verbal.

Menurut data catatan tahunan dari Komnas Perempuan tahun 2019 Kekerasan di ranah publik mencapai angka 3.915 kasus (28%), dimana kekerasan seksual menempati peringkat pertama sebanyak 2.521 kasus (64%). Dari paparan data tersebut, tidak sedikit korban dari pelecehan seksual yang mengalami trauma. Tidak jarang pula banyak wanita yang menjadi korban pelecehan seksual di daerah perkotaan, seperti di Jakarta.

Pelecehan seksual sering tidak kita sadari terjadi di lingkungan sekitar kita. Memanggil atau menggoda ketika sedang berada di jalan seringkali pernah dialami oleh sebagian wanita di ibukota. Bahkan seringkali ada yang sampai mengalami pelecehan seksual secara fisik. Lagi – lagi, tindak pelecehan seksual seringkali tidak tersadar bagi kaum laki – laki. Panggilan – panggilan seperti “Si Cantik”, “Neng”, dan lain sebagainya mungkin dianggap sebagai sebuah keisengan saja. Bahkan panggilan tersebut dilakukan mereka secara spontan, dengan nada yan meledek, sambil tersenyum dan tertawa, padahal mereka sendiri tidak mengenal sosok perempuan yang mereka panggil tersebut. Dan setelah mereka melakukan panggilan nakal spontan seperti itu, mereka segera melupakannya.

Tindakan seperti di atas yang mereka lakukan padahal sudah termasuk kepada pelecehan di jalan atau dikenal sebagai street harassement. Untuk para wanita yang menjadi korban pengejekan seperti kasus di atas tidak mengalaminya sebagai anggapan sesuatu yang lucu, apalagi menghibur.

Pelecehan verbal di jalanan biasa disebut sebagai catcalling merupakan perbuatan yang sangat mengganggu. Tindakan tersebut membuat perempuan yang mengalaminya merasa tidak nyaman bahkan bisa merasa terancam.

Beberapa dampak yang terjadi kepada korban pelecehan seksual dapat terjadi menjadi beberapa macam :

Trauma atas pemerkosaan

Trauma kepada tindak pemerkosaan atau biasa disebut dengan Rape Trauma merupakan kondisi yang memengaruhi korban perempuan muda menuju dewasa dari kekerasan seksual. Setelah tindak pelecehan seksual terjadi, penyintas sering mengalami stres dan trauma yang mendalam dan juga mengalami gejala – gejala penyakit seperti insomnia, mual dan muntah, dan mati rasa serta rasa takut yang berkelanjutan dan kecemasan.

Depresi

Penyintas dari pelecehan seksual dapat mengalami depresi berupa tindak penyalahan diri. Penyalahan diri terjadi saat penyintas merasa ada sesuatu yang salah dalam diri mereka, yang menyebabkan mereka layak untuk menjadi korban. Selain itu depresi juga merupakan gangguan mood yang terjadi ketika perasaan yang dihubungkan dengan kesedihan dan keputusasaan terus terjadi berkelanjutan untuk jangka waktu yang lama sehingga mengganggu pola pikir mereka yang sehat.

Dua contoh di atas merupakan salah dua dampak akibat terjadinya pelecehan seksual. Sebenarnya masih banyak lagi dampak yang terjadi karena kasus pelecehan seksual. Namun, salah dua contoh dampak di atas adalah yang paling terjadi di antara para penyintas. Lantas apa yang perlu mereka lakukan untuk meredam atau mengobati trauma akibat dari pelecehan seksual? Mari kita simak!

1. Bercerita kepada orang lain

Penyintas diharapkan untuk bercerita dengan perlahan mengenai apa yang terjadi sebagai bahan untuk mencegah agar hal tersebut tidak terjadi kepada orang lain. Pastikan juga untuk bercerita kepada orang – orang yang dinilai dapat menjaga rahasia dan rasa aman bagi korban.

2. Tindakan pencegahan

Sebagai kerabat dan juga teman dari korban, ajarkan mereka untuk melakukan tindakan pencegahan dengan menjaga diri sendiri dengan jauh lebih baik lagi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara menggunakan pakaian yang sopan serta menghindari tempat – tempat yang rawan. Bimbing mereka hingga mereka memiliki rasa aman dan rasa tenang yang sempurna.

3. Melakukan konsultasi dengan Psikolog

Bercerita kepada orang yang tepat dan benar merupakan salah satu cara yang baik untuk dilakukan. Namun, ketika tidak memiliki kerabat atau teman yang dirasa tidak bisa dipercaya atau tidak dapat menenangkan hati, mungkin penyintas dapat disarankan untuk berkonsultasi dengan intens kepada psikolog. Para ahli akan menjadi jalan yang tepat ketika kamu meminta saran dan meluapkan keluh kesa.

4. Mulai menulis buku harian

Jika penyintas merasa konsultasi dengan psikolog merupakan hal yang sulit untuk dilakukan, maka cara ini dapat mereka lakukan. Menulis buku harian merupakan salah satu cara untuk mengobati rasa trauma. Seorang ilmuwan bernama James Pennebaker melakukan riset sebuah terapi menulis yang hasilnya menunjukkan bahwa dengan menulis, mereka akan menjadi lebih jarang berkonsultasi dengan dokter, mengalami penurunan tingkat stres, bahkan sistem kekebalan imun tubuh menjadi meningkat secara drastis.

Pelecehan seksual bukanlah hal yang harus dihindari tindakan penanganannya. Namun malah menjadi hal yang harus menjadi konsentrasi setiap orang. Beberapa dampak seperti depresi yang mendalam dapat menyebabkan keburukan jangka panjang untuk korban.

Namun jangan khawatir. Sebab beberapa langkah untuk mengurangi atau mengobati rasa trauma terhadap pelecehan seksual dapat dilakukan dengan berbagai cara. Akan lebih baik jika mulai bercerita dengan orang yang dapat dipercaya dan sekiranya dapat memberikan ketenangan untuk korban pelecehan seksual. Sudah sepatutnya penanganan terhadap pelecehan seksual menjadi fokus utama bagi setiap orang. (*)


----------
M. Fernanda Zul Adli merupakan Mahasiswa Semester 3 Jurusan Public Relations di London School Of Public Relations Jakarta. Tujuan pembuatan artikel ini adalah untuk mengedukasi dan memberikan beberapa langkah untuk mengobati dan menyembuhkan trauma terhadap pelecehan seksual. Fernanda juga aktif di Radio kampusnya, yaitu London School Radio dan menjabat sebagai Vice External & Head of PR and Promotions.

*) Opini penulis dalam artikel ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Winnetnews.com.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...