Kenapa Residivis Terorisme Kembali Beraksi?

Kenapa Residivis Terorisme Kembali Beraksi?

Senin, 18 Jan 2016 | 17:26 | Muhammad Takdir
WinNetNews.com - Kasus serangan bom bunuh diri dan penembakan brutal yang terjadi di Pospol dan kawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat Kamis (14/1) kemarin menguak tabir adanya keterlibatan dua orang eks residivis terorisme. Keduanya adalah Afif alias Sunakim yang terlibat latihan para militer di Aceh dan sempat di penjara selama 7 tahun dan Muhamad Ali yang terlibat pelaku kelompok bersenjata untuk fai di Medan.

"Kami sadar adanya fakta bahwa orang yang pernah dipidana dalam kasus terorisme kembali beraksi lagi. Penjara memang tidak selamanya mampu mengubah idelogi. Terorisme ini soal ideologi dan kadang malah di penjara ideologi ini bisa berkembang karena bertemu sesama pelaku teror," kata Kapolri, Jenderal Badrodin Haiti pada Beritasatu.com, Senin (18/1).

Untuk itu, mantan Kapolda Jatim ini menambahkan, tindakan kontra ideologi teror yang dilakukan oleh BNPT dengan deredakalisasi perlu terus dilakukan. Meski, tentu, tidak semua pelaku teror bersedia disentuh oleh BNPT karena kuatnya ideologi yang telah tertanam di dalam benak mereka.

 

Dua contohnya adalah amir Jamaah Anshoru Tauhid Abu Bakar Ba'asyir dan amir Tauhid wal Jihad Amman Abdurrahman. Tapi, Badrodin menceritakan, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan polisi untuk mencegah mereka terus mengembangkan ideologinya karena mereka kini sudah berada di Lapas yang merupakan otoritas Kemenkum HAM.

"Undang-undang antiteror kita amat lemah. Ideologi radikal tidak bisa ditindak sepanjang belum ada bukti ideologi itu lalu ditindaklanjuti dengan persiapan dan perbuatan aksi terorisme. Begitupun tindakan menunjukan dukungan kepada ISIS secara terbuka, sepanjang tidak ada pidana lainnya, tidak bisa dipidana,” sambungnya.

Kelemahan lain UU 15 Tahun 2003 tentang Anti Teror adalah misalnya UU itu tidak bisa menjerat sekelompok orang yang tengah menggelar latihan tembak menembak dengan air gun atau air soft gun. Padahal latihan itu bertujuan untuk mematangkan rencana teror mereka.

 

Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemapuan BNPT, Irjen Arif Darmawan, berulangkali mengatakan, sifat dari deradikalisasi itu adalah pilihan. Jadi jika napi teroris menolak untuk dilakukan deradikalisasi maka BNPT tidak bisa melakukan paksaan.

"Lagipula, bisa jadi lain di bibir lain di hati. Makanya kita itu klasifikasikan napi teror mana yang ibaratnya batu kali, batu krikil, pasir, lempung, atau bahkan teroris KW,” katanya pada Beritasatu.com Jumat (15/1).

Mantan Kadensus 88/Antiteror, Brigjen (Pur) Surya Dharma, mengatakan, jika pendekatan negara pada napi teroris seharusnya harus extra ordinary karena kejahatan mereka adalah extra ordinary. Tapi, yang dilakukan saat ini, menurutnya napi teror masih ditangani dengan ordinary.

 

"Ideologi itu tidak pernah mati. Di luar negeri pun residivis teroris bisa terlibat lagi. Maka itu kita harus keras dan tegas. Pertama harus dibuat Lapas khusus teror, lalu batasi komunikasi antar mereka apalagi sampai bisa pakai HP, juga batasi pengunjung yang bisa membesuk mereka sehingga komunikasi keluar minim," kata Surya.

Hal lain yang harus dilakukan adalah membuat aturan yang tegas seperti di Lapas mereka tidak boleh memasak dan membawa beras sendiri dengan alasan segala sesuatu yang di Lapas adalah haram karena dibiayai pemerintah.

"Sampai kapanpun kalau kita masih lembut begini ya terorisme tidak pernah selesai kalau mereka belum mati semua dan regenerasi mereka tidak berhasil tapi kan tidak begini keadaannya? Juga penting untuk mendampingi orang-orang keras seperti Ba’asyir itu dengan seseorang yang punya wawasan kebangsaan. Pendamping itu terus ajak Ba'asyir diskusi," lanjutnya.

Keterlibatan residivis teror dalam kasus teror sebenarnya bukanlah cerita baru. Syailendra Ady Sapta alias Ismet Hakiki alias Abu Jais dan Enceng Kurnia adalah contoh terpidana kasus terorisme yang saat itu ditangkap kembali karena terlibat terkait pelatihan paramiliter di Aceh. Enceng bahkan tewas ditembak polisi.

 

Juga residivis Abdullah Sonata (kasus Ambon) dan Mustofa alias Abu Tholut (kasus bom Atrium Senen) yang juga ikut dalam kasus latihan di Aceh pada 2010 yang digelar oleh lintas tandzim yang bersatu dengan nama Al-Qaidah Serambi Mekah itu.

Lalu, masih dalam kasus pelatihan di Aceh itu, ada juga nama residivis lain seperti Ahmad Maulana (di deportasi dari Malaysia kemudian tewas ditembak di Cawang), Saptono alias Pak Tuo (bom Kedubes Australia), Taufik Bulangan alias Upik Lawanga (teror Poso), Kamaludin alias Hasan (kasus bom Cimanggis), Imam Rasidi (kasus bom Atrium Senen), Hasan alias Untung (bom Atrium Senen), dan Warsito alias Tongji (bom Atrium Senen).

Di luar kasus paramiliter di Aceh, residivis teroris yang 'kambuh' lagi juga ada. Misalnya Santoso, yang dulu ditahan karena kasus kekerasan di Poso, dan kini menjelma menjadi buron nomor satu di Poso serta Ramli alias Iqbal Hussaini yang belakangan ditangkap lagi karena kepemilikan senjata api.

Begitupula ada nama Joko Ardiyanto alias Ardiyanto alias Luluk yang dulu ditangkap karena kasus kepemilikan senjata api di Semarang dan kemudian ditangkap lagi karena kasus pabrik senjata di Klaten dan juga beberapa nam lain.

 

Bahkan tak hanya kambuh saat sudah di luar penjara, saat masih di dalam penjara pun, beberapa napi teror sempat mengendalikan dan terlibat kasus terorisme di luar penjara. Misalnya terpidana kasus Bom Bali 2002 Imam Samudera yang saat itu telah mendekam di Lapas Kerobokan Bali pada 2006 silam.

Saat itu, Imam berkomunikasi dengan seseorang bernama Agung Prabowo alias Max Fiderman melalui sarana chating dan dia berhasil melakukan carding (melakukan pencurian dana melalui internet) yang digunakan untuk membuat situs http://www.anshar.net.

Situs itu terkait peledakan bom Bali II 2005 yang dimotori oleh Noordin M. Top. Saat itu situs tersebut digunakan untuk menyebarluaskan cara bagaimana merakit bahan-bahan peledak dan senjata juga memuat orasi Noordin M. Top serta adegan pelaku bom bunuh diri.

Begitupula dengan kasus Iwan Darmawan Mutho alias Rois dan Abdul Hasan yang pada 2010 lalu akhirnya dipindahkan dari Lapas Cipinang ke Lapas Batu, Nusakambangan. Itu dilakukan setelah keduanya, yang merupakan terpidana mati kasus pengeboman Kedubes Australia 9 September 2004, kedapatan berhubungan dengan kelompoknya di luar untuk mengikuti pelatihan di Aceh.

 

Mustofa sempat mengatakan pada Beritasatu.com pada 2 Januari silam jika saat ini dia tegas menyatakan jika ISIS dan aktivitasnya adalah bathil dan perlawanan ISIS di Indonesia adalah konyol.

Namun saat ditanyakan ke depan apakah dirinya, yang dalam masa pembebasan bersyarat, akan kembali terlibat dengan jihad di Indonesia, dia menjawab diplomatis "ya sama seperti kalau semua orang berteriak reformasi, apakah kita akan diam saja?".

Berdasarkan data Polri per Desember kemarin, sejak 2000-2015, ada 171 aksi terorisme yang berhasil diungkap mulai dari Bom Bali 2002, bom Marriot 2003, bom Kedubes Australia 2004, bom Bali 2005, dan bom Ritz Carlton-Marriot pada 2009.

Total ada 1064 orang yang berhasil ditangkap terkait kasus-kasus tersebut. Rinciannya 104 tersangka tewas di TKP, 12 orang melakukan bom bunuh diri, 3 orang di eksekusi mati, dan 30 orang dalam penyidikan.

 

Lainnya 299 orang telah di vonis pengadilan, 70 orang tengah di sidang, 451 telah bebas setelah usai menjalani hukuman, dan 95 orang dikembalikan ke keluarga karena tak cukup bukti.

Khusus tahun 2015 lalu ada 74 orang yang ditangkap terkait kasus terorisme dimana 65 orang ditetapkan tersangka dan 9 orang dipulangkan ke keluarganya karena tak cukup bukti.

Di sisi lain, sejak 2004-2015, ada 102 orang anggota Polri yang menjadi korban terorisme. 35 orang anggota tersebut meninggal dunia dan 67 orang lainnya luka-luka.

(seperti dilansir dari Berita Satu)

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...