Skip to main content

Kenapa Terjadi Perbedaan Awal Bulan Ramadhan di Indonesia?

Kenapa Terjadi Perbedaan Awal Bulan Ramadhan di Indonesia?
Kenapa Terjadi Perbedaan Awal Bulan Ramadhan di Indonesia?

WinNetNews.com - Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadhan jatuh pada 27 Mei 2017. Yang menarik di indonesia perhitungan 1 Ramadhan dan 1 Syawal (lebaran) terkadang memiliki perbedaan antara Muhammadiyah dan pemerintah. Lalu apa yang menjadi penyebab bedanya waktu hari raya antara pemerintah dan Muhammadiyah?

Ada dua cara perhitungan yang biasa dilakukan untuk menentukan 1 Ramadhan dan 1 Hijriah, yakni melalui Hisab dan Rukyat. Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan awal bulan di kalender Hijriyah. Kemudian cara yang kedua adalah cara menentukan awal bulan pada kalender Hijriyah dengan menggunakan metode pengamatan visabilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtima' (konjungsi).

Rukyat bisa dilakukan dengan mata telanjang tanpa bantuan alat optik (teleskop). Rukyat biasanya dilakukan setelah matahari terbenam, dan biasanya hilal baru akan nampak setelah matahari terbenam, atau sekitar waktu magrib. Jika di waktu magrib hilal belum terlihat, maka awal bulan akan ditetapkan pada magrib di hari keesokannya.

Meski begitu, kedua metode ini tetap memakai Ilmu Hisab atau Ilmu Falak dalam prosesnya masing-masing. Hanya saja metode rukyah masih memakai pengamatan fisik sebagai final keputusan sedangkan metode hisab cukup dengan perhitungan ilmiah semata tanpa perlu lagi membuktikan dengan pengamatan fisik.

Dalam menentukan masuknya awal bulan kelompok yang berpedoman pada rukyat murni yang menetapkan awal bulan hijriah hanya observasi hilal semata, menghasilkan istimbat hukum apabila hilal tampak pada saat observasi, maka ditetapkan tanggal 1 bulan baru keesokan harinya dan apabila bulan tidak tampak maka di-istikmal-kan (disempurnakan) 30 hari bulan yang sedang berjalan. Berbeda dengan perhitungan kalender Masehi, awal hari pada kaleder Hijriyah diawali sejak waktu terbenamnya matahari, bukan di pukul 00.00 (tengah malam).

Metode yang kedua adalah metode hisab murni berpedoman pada konsep wujudul hilal, yaitu konsep yang menyatakan bahwa keberadaan hilal tidak perlu di-rukyat tetapi cukup dengan perhitungan saja, karena apabila hilal sudah ada secara perhitungan maka dianggap sudah ada secara substansi walaupun tidak mungkin dilihat baik karena terlalu rendah atau tertutup awan, konsep ini sangat berpatokan pada posisi hilal sudah di atas ufuk tanpa mematok ketinggian tertentu.

Baca juga: Muhammadiyah: Awal Ramadan 27 Mei 2017

Kementerian Agama RI sebagai lembaga negara yang berwenang menetapkan awal Ramadhan secara resmi dalam sistem ketatanegaraan kita menggunakan metode imkanur rukyah (kemungkinan hilal dapat di-rukyat) dalam penentuan awal bulan qamariah. Metode ini menyatakan bahwa hilal dianggap terlihat dan keesokannya dapat ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila: Pertama, ketika matahari terbenam, altitude (ketinggian) bulan di atas horison tidak kurang dari 2 derajat; Kedua, jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3 derajat, dan; Ketiga, ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku. Hal ini didasarkan pada pengalaman astromonis seluruh dunia yang belum pernah dapat mengobservasi hilal jika belum memenuhi kriteria di atas dan tentunya dengan bukti yang otentik. Kedua metode (Hisab dan Tukyah) ini sama-sama didasari interpretasi terhadap Alquran maupun hadis yang menjelaskan tentang tata cara memulai mengakhiri puasa.

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top