Kepretan Rizal Ramli, Apakabar Proyek Listrik 35 Ribu Megawatt?

Kepretan Rizal Ramli, Apakabar Proyek Listrik 35 Ribu Megawatt?

Kamis, 3 Mar 2016 | 16:33 | Liani
WinNetNews.com - Perseteruan antara Rizal Ramli dan Sudirman Said mengingatkan kita pada kepretan Rizal tentang program listrik 35 ribu MW.  Lantas seperti bagaimana kabarnya proyek listrik yang membuat gaduh para menteri tersebut?

Sejumlah pengamat berpendapat, Pengamat ketenagalistrikan Universitas Indonesia Iwa Garniwa mengatakan, dalam menetapkan program kelistrikan 35 ribu MW pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi sekitar 7,2 persen per tahun dengan begitu membutuhkan pasokan listrik baru 7.000 MW per tahun.

"Memang begitu, saya dari awal mengatakan 35 ribu MW ukurannya darimana? Dulu perkiraan pertumbuhan Indonesia 7,2 persen," kata Iwa saat berbincang, dengan Liputan6.com di Jakarta, Kamis (20/8).

Iwa mengatakan, saat ini target tersebut sudah tak sesuai dengan kenyataan. Pasalnya, gocangan perekonomian dunia berdampak pada perlambatan pertumbuhan perekonomian Indonesia, karena itu target tersebut perlu dievaluasi.

Menurut Iwa, dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat saat ini kebutuhan listrik yang tepat sebesar 25 ribu MW dalam 5 tahun, dengan tambahan hanya 15 ribu MW.

"Berikutnya sekarang berapa seharusnya ke depan itu, itu melihat pelajaran kemarin dihitung dengan kenaikan penuruan ekonomi perkiraan saya 25 ribu MW itu kebutuhannya bukan pembangunannya. Bisa jadi pembangunan 15 ribu MW karena kendala banyak," pungkas Iwa.

Ahli pembangkit listrik dari Toshiba Corporation, Fumio Otani, mengatakan perlu diversifikasi pembangkit untuk mencapai target pembangunan pembangkit 35.000 Mega Watt (MW) hingga 2019.

"Perlu diversifikasi pembangkit listrik untuk mencapai program tersebut. Tidak hanya pembangkit listrik tenaga uap, tetapi juga perlu pembangkit listrik lainnya seperti air, panas bumi dan sebagainya," ujar Otani seperti yang ditulis AntaraNews.

Potensi lainnya, yakni panas bumi. Indonesia memiliki potensi panas bumi yang mencapai 27.000 MW. Sayangnya, yang baru dikembangkan baru sekitar empat persen.

Potensi energi panas bumi di Indonesia mencakup 40 persen potensi panas bumi dunia, tersebar di 251 lokasi pada 26 provinsi di Tanah Air.

Untuk diketahui, Pemerintah menetapkan 109 proyek yang masuk dalam program pembangunan pembangkit listrik berkapasitas 35.000 MW selama periode 2015 hingga 2019.

Proyek pembangunan pembangkit listrik itu ada 74 proyek pembangunan pembangkit listrik berkapasitas 25.904 MW yang dikerjakan dengan skema pengembang listrik swasta dan 35 proyek lainnya berdaya 10.681 MW dikerjakan PLN.

Proyek pembangunan pembangkit listrik dilakukan di Jawa-Bali (18.697 MW), Sumatera (10.090 MW), Sulawesi (3.470 MW), Kalimantan (2.635 MW), Nusa Tenggara (670 MW), Maluku (272 MW), dan Papua (220 MW).

Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Sudirman Said mengakui dibutuhkan ribuan triliun rupiah untuk membangun proyek ini.

"Seluruhnya untuk 35.000 MW plus 7.000 MW ini akan memerlukan investasi Rp1,100 triliun dalam lima tahun ke depan," kata Sudirman seperti yang dikutip Merdeka.com.

Dari 109 proyek yang direncanakan tersebut, total kebutuhan investasi menembus Rp1,127 triliun. Terdiri dari Rp512 triliun untuk proyek yang dikerjakan PLN dan Rp615 triliun yang dikerjakan swasta.

Pendanaan PLN diperuntukkan bagi proyek pembangkitan Rp199 triliun dan transmisi serta gardu induk Rp313 triliun. Sementara, kebutuhan pendanaan IPP Rp615 triliun seluruhnya untuk pembangkitan.

Menteri Sudirman Said menuturkan, komposisi dari sumber energi di proyek pembangkit listrik 35.000 MW sebagian besar diarahkan ke energi baru terbarukan. Porsi besar diberikan untuk batu bara.

"Batu bara ini mencapai energinya 50 persen, sisanya 25 persen gas, 25 persen energi baru terbarukan seperti angin, matahari, air, bio dan geothermal," jelasnya.

Namun, Sudirman optimis proyek ini bisa dilakukan. "Memang benar membangun listrik 35 ribu MW bukan hal mudah tapi dikerjakan bersama, akan jadi batu uji kreativitas bersama untuk cari solusi," kata Sudirman.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli sebelumnya juga mengkritisi program pembangunan pembangkit listrik warisan Presiden Megawati ini. Menurut dia, target pemerintah membangun proyek kelistrikan 35 ribu MW terlalu besar.

Maka dari itu, pemerintah akan melakukan evaluasi atas target tersebut.

Dilansir dari liputan 6, antara, dll

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...