Kerugian Indonesia karena Harga Rokok Terlalu Murah

Kerugian Indonesia karena Harga Rokok Terlalu Murah

Senin, 22 Agt 2016 | 11:30 | Rusmanto
WinNetNews.com - Polemik wacana kenaikan harga rokok di media sosial terus bergulir. Wacana kenaikan tersebut sebenarnya sudah lama diusulkan, mengingat harga rokok di Indonesia paling murah dibanding negara lain.

Terlalu murahnya harga rokok di Indonesia dinilai menjadi penyebab tingginya jumlah perokok di negeri ini.

Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Hasbullah Thabrany mengatakan, usulan kenaikan harga rokok bertujuan untuk mengurangi konsumsi rokok, khususnya pada masyarakat kurang mampu.

Di Indonesia, dengan harga sebungkus rokok sekitar Rp 12.000, banyak konsumen dari golongan kurang mampu yang mudah membeli rokok. Bahkan pengeluaran rokok mengalahkan pengeluaran untuk membeli makanan bergizi seperti telur, ikan, dan tempe di kalangan menengah ke bawah.

Anak-anak usia sekolah yang sudah mendapat uang jajan juga mampu membeli rokok dengan harga yang sangat murah. Data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) tahun 2014 menunjukkan, prevalensi perokok anak usia 13-15 tahun di Indonesia mencapai 20,3 persen.

Dampak buruknya, mereka yang merokok di usia sekolah akan berlanjut hingga dewasa karena rokok bersifat adiktif. Akibatnya, banyak perokok yang sudah terserang penyakit pada usia produktif.

Merokok merupakan salah satu faktor utama munculnya penyakit jantung dan stroke di usia muda. Merokok juga memperparah kondisi penyakit seseorang. "Merokok meningkatkan kerugian ekonomi karena sakit, karena meninggal di usia muda," kata Hasbullah.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...